Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah pesan berharga dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu tentang adab dalam menerima dan memahami hadits Nabi ﷺ. Beliau mengajarkan bahwa ketika kita mendengar suatu hadits, kita hendaknya memahaminya dengan prasangka baik, mencari pemahaman yang paling sesuai dengan petunjuk (huda), ketakwaan (taqwa), dan keindahan/keutamaan (ahya) yang diajarkan Islam. Ini adalah panduan agar kita tidak serta-merta menolak atau menyalahartikan hadits, tetapi berusaha memahaminya dengan cara yang terbaik dan paling benar.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Ahmad:
Teks hadits yang Anda sebutkan adalah atsar (perkataan sahabat) dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya (no. 1082). Sanadnya: Abdullah → Ahmad bin Muhammad bin Ayyub → Abu Bakar bin 'Ayyasy → Al-A'masy → Sa'd bin 'Ubaidah → Abu Abdurrahman As-Sulami → Ali bin Abi Thalib.
Ayat Al-Qur'an yang Relevan:
Allah Ta'ala berfirman:
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
"Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya." (QS. Al-Hasyr [59]: 7)
Ayat ini menunjukkan kewajiban menerima dan mengamalkan apa yang datang dari Rasulullah ﷺ dengan penuh ketundukan, dan itu harus dibarengi dengan adab yang baik dalam memahaminya.
Kaitan dengan Ulama:
Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah rahimahullah dalam kitabnya Miftah Dar As-Sa'adah dan I'lam Al-Muwaqqi'in sering membahas tentang adab memahami wahyu dan hadits. Beliau menekankan bahwa seorang muslim hendaknya berprasangka baik kepada Allah dan Rasul-Nya, serta tidak tergesa-gesa menolak atau menyalahpahami nash.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa atsar dari Ali bin Abi Thalib ini mengandung bimbingan yang sangat agung dalam menyikapi hadits-hadits Nabi ﷺ. Mari kita bedah tiga kata kunci dalam hadits ini:
- الَّذِي هُوَ أَهْدَى (yang paling terarah/paling memberi petunjuk): Artinya, ketika kita mendengar hadits, kita harus berusaha memahami dan mengamalkannya dengan cara yang paling sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Kita tidak boleh memahaminya secara serampangan atau keluar dari konteks syariat.
- الَّذِي هُوَ أَتْقَى (yang paling bertakwa): Kita harus meyakini bahwa ajaran Nabi ﷺ selalu membawa kepada ketakwaan. Jika ada hadits yang tampak sulit dipahami, maka tafsirkanlah dengan cara yang paling mendekatkan diri kepada Allah dan menjauhkan dari kemaksiatan.
- الَّذِي هُوَ أَهْيَا (yang paling baik/indah): Kata ahya berasal dari al-haya' yang bisa berarti keindahan, keutamaan, atau rasa malu yang terpuji. Maksudnya, pahamilah hadits tersebut dengan pemahaman yang paling baik, paling indah, dan paling sesuai dengan akhlak mulia yang diajarkan Islam.
Imam Al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan dalam Shahih-nya (Kitab Al-I'tisham bil Kitab was Sunnah) sebuah atsar dari Ali bin Abi Thalib yang semakna dengan ini. Para ulama seperti Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fath Al-Bari menjelaskan bahwa atsar ini mengajarkan adab besar: janganlah seseorang terburu-buru menolak hadits yang sampai kepadanya hanya karena akalnya tidak mampu menjangkaunya. Sebaliknya, ia harus berprasangka baik dan mencari pemahaman yang paling tepat.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah juga sering menekankan dalam Majmu' Al-Fatawa bahwa sikap seorang mukmin terhadap nash (Al-Qur'an dan hadits) adalah menerima dengan penuh keyakinan, lalu berusaha memahami dengan merujuk kepada penafsiran para sahabat dan ulama yang mengikuti mereka dengan baik.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa suatu ketika Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu mendengar seseorang menceritakan sebuah hadits yang tampaknya sulit diterima oleh akal orang awam. Maka Ali pun menasihati dengan perkataan yang kita bahas ini. Beliau ingin mengajarkan bahwa hati seorang mukmin harus bersih dari prasangka buruk terhadap sabda Nabi ﷺ. Sebagaimana kita tidak boleh berprasangka buruk kepada Allah, maka kita pun tidak boleh berprasangka buruk kepada sabda Rasul-Nya.
Kisah ini mengingatkan kita pada sikap para sahabat ketika mendengar ayat-ayat atau hadits yang belum jelas maknanya. Mereka tidak menolak, tetapi mereka bertanya kepada Nabi ﷺ atau berusaha memahami dengan cara yang paling baik. Inilah adab yang diwariskan oleh Ali bin Abi Thalib kepada kita semua.
Kesimpulan Praktis
- Terima dengan lapang dada: Ketika mendengar hadits Nabi ﷺ, jangan terburu-buru menolak atau meragukannya. Yakinlah bahwa semua yang datang dari Rasulullah ﷺ adalah benar dan membawa kebaikan.
- Cari pemahaman terbaik: Jika ada hadits yang sulit dipahami, rujuklah kepada ulama yang kompeten dan carilah tafsir yang paling sesuai dengan petunjuk Al-Qur'an dan sunnah.
- Jauhi prasangka buruk: Jangan sekali-kali berprasangka buruk terhadap sabda Nabi ﷺ, karena itu dapat menjerumuskan pada kekufuran atau kesesatan.
- Amalkan dengan niat takwa: Niatkan setiap pemahaman dan pengamalan hadits untuk meningkatkan ketakwaan dan akhlak mulia.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.