Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan keutamaan besar sahabat Ammar bin Yasir radhiyallahu 'anhu. Nabi ﷺ menyambutnya dengan ungkapan "Marhaban bith-thayyibil muthayyab" (selamat datang kepada yang baik dan suci). Ini adalah pujian dan doa dari Nabi ﷺ yang menunjukkan bahwa Ammar adalah seorang yang baik dan disucikan oleh Allah, serta menjadi dalil tentang keutamaan beliau di sisi Nabi ﷺ.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Ahmad:
Teks Arab hadits (sesuai yang disampaikan):
حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنْ هَانِئِ بْنِ هَانِئٍ، عَنْ عَلِيٍّ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: كُنَّا جُلُوسًا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَاءَهُ عَمَّارٌ فَاسْتَأْذَنَ فَقَالَ: ائْذَنُوا لَهُ مَرْحَبًا بِالطَّيِّبِ الْمُطَيَّبِ
Makna: Ali radhiyallahu 'anhu berkata: "Kami sedang duduk di sisi Nabi ﷺ ketika Ammar datang dan meminta izin untuk masuk. Beliau bersabda: 'Izinkan dia masuk, selamat datang kepada yang baik dan suci.'"
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, dan beliau berkata: "Hadits ini hasan shahih." (Lihat: Sunan At-Tirmidzi, Kitab Al-Manaqib, Bab Keutamaan Ammar bin Yasir, no. 3800)
Kaitan dengan Ulama:
- Imam At-Tirmidzi (dalam daftar rujukan) menshahihkan hadits ini dalam Sunan-nya.
- Imam Al-Albani (dalam daftar rujukan) menshahihkan hadits ini dalam Silsilah Ash-Shahihah (no. 2999) dan Shahih At-Tirmidzi.
- Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani menyebutkan hadits ini dalam Al-Ishabah fi Tamyiz Ash-Shahabah dan Fathul Bari saat membahas keutamaan Ammar bin Yasir.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan beberapa faedah penting dari hadits ini:
1. Keutamaan Ammar bin Yasir radhiyallahu 'anhu
Ungkapan Nabi ﷺ "الطَّيِّبُ الْمُطَيَّبُ" (yang baik dan suci) adalah pujian yang sangat tinggi. Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa kata "thayyib" (baik) dalam konteks ini menunjukkan kebaikan iman dan amal, sedangkan "muthayyab" (disucikan) menunjukkan bahwa Allah telah membersihkan dirinya dari kotoran syirik, kemunafikan, dan dosa-dosa besar. Ini adalah pujian yang menunjukkan kesaksian Nabi ﷺ tentang kesucian hati dan amal Ammar.
2. Doa dan penghormatan dari Nabi ﷺ
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa ungkapan "Marhaban" adalah bentuk doa dan penghormatan, maknanya: "Kamu telah menemukan tempat yang luas dan lapang, serta sambutan yang baik." Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ sangat menghormati dan mencintai Ammar.
3. Dalil tentang keutamaan Ammar dalam hadits-hadits lain
Hadits ini semakin kuat dengan hadits-hadits lain yang menunjukkan keutamaan Ammar, di antaranya:
- Nabi ﷺ bersabda: "Ammar bersama kebenaran, dan kebenaran bersama Ammar, ia berputar bersama Ammar ke mana pun ia berputar." (HR. Ath-Thabarani, dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami' no. 4110)
- Nabi ﷺ bersabda: "Wahai Ammar, engkau akan diserang oleh kelompok yang zalim." (HR. Al-Bukhari no. 447, dari Ummu Salamah)
4. Pelajaran tentang adab meminta izin
Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya memiliki bab khusus tentang adab meminta izin. Dalam hadits ini, Ammar meminta izin terlebih dahulu sebelum masuk, dan Nabi ﷺ mengajarkan kepada para sahabat untuk mengizinkannya. Ini menunjukkan pentingnya adab meminta izin dalam Islam, sebagaimana firman Allah dalam QS. An-Nur [24]: 27-28.
5. Bantahan terhadap kelompok yang memusuhi Ammar
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Minhajus Sunnah menyebutkan bahwa hadits-hadits tentang keutamaan Ammar, termasuk hadits ini, adalah bantahan terhadap kelompok Khawarij dan Syi'ah yang melampaui batas dalam masalah Ammar. Ahlus Sunnah mengambil jalan tengah: mencintai Ammar dan mengakui keutamaannya tanpa ghuluw (berlebihan) seperti Syi'ah, dan tanpa merendahkannya seperti Khawarij yang memeranginya di Perang Shiffin.
6. Kedudukan sanad hadits ini
Sanad hadits ini melalui Waki' bin Al-Jarrah (dari ulama tabi'ut tabi'in dalam daftar rujukan) dari Sufyan Ats-Tsauri (imam besar tabi'ut tabi'in) dari Abu Ishaq As-Sabi'i dari Hani' bin Hani' dari Ali bin Abi Thalib. Para perawinya adalah perawi yang tsiqah (terpercaya), dan Imam At-Tirmidzi menghasankan bahkan menshahihkannya.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Ammar bin Yasir radhiyallahu 'anhu adalah salah satu dari orang-orang pertama yang masuk Islam. Ia disiksa dengan sangat kejam oleh orang-orang Quraisy bersama ayahnya Yasir dan ibunya Sumayyah. Ibunya, Sumayyah binti Khayyath, menjadi syahidah pertama dalam Islam karena dibunuh oleh Abu Jahal. Ayahnya Yasir juga wafat karena siksaan.
Ketika Nabi ﷺ melewati mereka yang sedang disiksa, beliau bersabda: "Bersabarlah wahai keluarga Yasir, sesungguhnya janji kalian adalah surga." (HR. Al-Hakim, dishahihkan oleh Adz-Dzahabi)
Ammar tetap teguh dalam keimanannya meskipun disiksa. Suatu ketika ia dipaksa mengucapkan kalimat kekufuran oleh orang-orang musyrik, dan ia mengucapkannya karena terpaksa (dengan hati tetap beriman). Nabi ﷺ kemudian menegaskan bahwa jika mereka mengulangi penyiksaan itu, maka Ammar boleh mengulangi perkataan itu, karena Allah telah menurunkan ayat:
إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ
"Kecuali orang yang dipaksa (kafir) padahal hatinya tetap tenang dalam keimanan." (QS. An-Nahl [16]: 106)
Kemudian Nabi ﷺ bersabda kepada Ammar: "Jika mereka mengulanginya lagi, maka ulangilah (perkataan itu) dengan hatimu yang tetap tenang." (HR. Ibnu Abi Syaibah, dan disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya)
Inilah sahabat yang mulia ini — seorang yang baik dan disucikan oleh Allah — yang disambut oleh Nabi ﷺ dengan ucapan "Marhaban bith-thayyibil muthayyab."
Kesimpulan Praktis
- Mencintai sahabat Nabi ﷺ adalah bagian dari iman, terutama sahabat yang dipuji langsung oleh Nabi ﷺ seperti Ammar bin Yasir.
- Meneladani adab meminta izin ketika hendak masuk ke majelis atau rumah orang lain.
- Menjauhi ghuluw (berlebihan) dalam mencintai sahabat, dan juga menjauhi sikap merendahkan mereka — keduanya adalah jalan yang menyimpang.
- Mengambil pelajaran tentang kesabaran dari perjuangan Ammar dan keluarganya dalam mempertahankan keimanan.
- Meyakini bahwa pujian Nabi ﷺ kepada seorang sahabat adalah dalil keutamaan yang nyata, karena Nabi ﷺ tidak berbicara dengan hawa nafsu.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.