Penjelasan Hadits Ahmad No. 1068 tentang Takdir dan usaha manusia

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa Allah telah menuliskan takdir setiap jiwa, termasuk apakah ia akan berakhir di Surga atau Neraka. Namun takdir ini bukan alasan untuk meninggalkan amal. Justru sebaliknya, Rasulullah ﷺ memerintahkan kita untuk tetap beramal, karena setiap orang akan dimudahkan menuju apa yang telah Allah tetapkan baginya. Jadi, takdir dan usaha berjalan beriringan, bukan saling meniadakan.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya (no. 1068), dari jalur Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه, melalui sanad: Abdurrahman → Zaidah → Manshur → Sa'd bin 'Ubaidah → Abu Abdurrahman → Ali.

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dengan makna yang sama dari Ali bin Abi Thalib, sebagaimana disebutkan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari dan Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim.

Adapun ayat yang dibaca Nabi ﷺ di akhir hadits adalah firman Allah:

فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ

"Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa." (QS. Al-Lail [92]: 5)

Dan lanjutan ayat:

فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰ

"Maka Kami akan memudahkannya menuju jalan yang mudah (kebaikan)." (QS. Al-Lail [92]: 7)

Penjelasan Rinci

1. Makna umum hadits

Hadits ini mengandung pokok aqidah yang sangat penting, yaitu iman kepada takdir (qadar). Nabi ﷺ mengabarkan bahwa setiap jiwa yang hidup telah dituliskan oleh Allah tempatnya, apakah di Surga atau Neraka, dan apakah ia termasuk orang yang sa'id (berbahagia) atau syaqi (celaka).

2. Pemahaman para sahabat dan jawaban Nabi ﷺ

Para sahabat memahami takdir dengan pemahaman yang keliru — mereka menyangka bahwa jika semuanya sudah ditulis, maka tidak perlu beramal. Ini adalah kekeliruan yang langsung dikoreksi oleh Nabi ﷺ dengan sabdanya:

> "Bahkan beramallah, karena setiap orang akan dimudahkan sesuai dengan apa yang telah ditetapkan baginya."

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil bahwa takdir tidak menjadi hujjah (alasan) untuk meninggalkan amal. Sebab Allah menjadikan takdir sebagai ketetapan yang tersembunyi, sedangkan yang menjadi kewajiban hamba adalah berusaha dan beramal sesuai syariat.

3. Penjelasan Ibnul Qayyim al-Jawziyyah

Ibnul Qayyim dalam Syifa'ul 'Alil dan Madarijus Salikin menjelaskan bahwa takdir memiliki dua sisi:

  • Sisi ilmu Allah: Allah mengetahui dan menuliskan segala sesuatu sejak azali.
  • Sisi amal hamba: Hamba tetap memiliki kemampuan memilih dan berusaha, dan Allah akan memudahkan jalannya sesuai dengan apa yang ia tempuh.

Beliau juga menegaskan bahwa perintah beramal adalah bagian dari takdir itu sendiri. Artinya, Allah menetapkan seseorang masuk Surga beserta sebab-sebabnya, yaitu amal saleh.

4. Penjelasan Syaikh Abdurrahman as-Sa'di

As-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman ketika menafsirkan QS. Al-Lail menjelaskan bahwa ayat "Kami akan memudahkannya menuju jalan yang mudah" menunjukkan bahwa Allah memudahkan hamba-Nya untuk melakukan amal kebaikan sebagai balasan atas keimanan dan ketakwaannya. Sebaliknya, orang yang kikir dan berpaling akan dimudahkan menuju keburukan sebagai konsekuensi dari pilihannya sendiri.

5. Keselarasan takdir dan usaha

Ibnu Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menegaskan bahwa takdir tidak bertentangan dengan syariat. Allah memerintahkan hamba untuk beramal, dan Allah pula yang menetapkan hasilnya. Tidak ada alasan bagi seorang muslim untuk meninggalkan amal dengan dalih takdir, karena hal itu justru termasuk sikap yang dicela dalam Al-Qur'an.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Umar bin al-Khattab pernah bertanya kepada Nabi ﷺ tentang takdir, dan Nabi ﷺ menjawab dengan penjelasan yang sama: bahwa setiap orang akan dimudahkan sesuai dengan apa yang telah ditetapkan. Kisah ini menunjukkan bahwa para sahabat pun pernah memiliki pertanyaan serupa, dan Nabi ﷺ selalu mengarahkan mereka kepada amal, bukan kepada berhenti berusaha.

Al-Hasan al-Bashri — seorang tabi'in yang terkenal — pernah berkata bahwa orang yang menjadikan takdir sebagai alasan untuk meninggalkan amal adalah orang yang telah salah memahami agama. Beliau menegaskan bahwa Allah tidak memaksa hamba untuk berbuat dosa, tetapi Allah mengetahui dan menetapkan segala sesuatu dengan hikmah-Nya.

Kesimpulan Praktis

  1. Yakinilah takdir, bahwa Allah telah menuliskan segala sesuatu, termasuk akhir hidup setiap jiwa.
  2. Jangan tinggalkan amal dengan alasan takdir. Justru beramallah, karena amal adalah bagian dari takdir itu sendiri.
  3. Perbanyak amal saleh, karena orang yang berbahagia akan dimudahkan untuk beramal saleh, dan orang yang celaka akan dimudahkan untuk berbuat keburukan.
  4. Jangan sibuk memikirkan takdir yang tersembunyi, tetapi sibuklah dengan apa yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya.
  5. Berdoalah kepada Allah agar termasuk orang yang dimudahkan menuju jalan yang mudah, yaitu jalan kebaikan dan ketakwaan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?