Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Ahmad No. 1058 tentang Membangunkan keluarga pada sepuluh malam terakhir Ramadan

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan perhatian besar Nabi ﷺ dalam menghidupkan sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Beliau tidak hanya beribadah sendiri, tetapi juga membangunkan keluarganya agar bersama-sama meraih keutamaan malam-malam tersebut, terutama untuk mencari Lailatul Qadar. Ini adalah sunnah yang mulia dan teladan bagi para suami dan orang tua dalam membimbing keluarganya menuju ketaatan.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits yang Anda sebutkan diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya, dari sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dengan redaksi yang lebih panjang.

Berikut adalah dalil dari Al-Qur'an yang berkaitan dengan keutamaan sepuluh malam terakhir Ramadhan:

Allah Ta'ala berfirman:

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ

"Malam kemuliaan (Lailatul Qadar) itu lebih baik daripada seribu bulan." (QS. Al-Qadr [97]: 3)

Hadits terkait yang juga menjelaskan hal ini, dari Aisyah radhiyallahu 'anha, beliau berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

"Apabila masuk sepuluh hari terakhir (Ramadhan), Nabi ﷺ mengencangkan ikat pinggangnya (bersungguh-sungguh), menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya." (HR. Al-Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174)

Hadits yang Anda tanyakan ini memiliki makna yang serupa dan saling menguatkan. Imam At-Tirmidzi meriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ biasa membangunkan keluarganya pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. Beliau juga bersabda: "Semoga Allah merahmati seorang hamba yang menghidupkan malam-malam ini dengan memohon ampunan dan berdoa."

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa kebiasaan Nabi ﷺ pada sepuluh malam terakhir Ramadhan adalah bersungguh-sungguh dalam ibadah melebihi malam-malam lainnya. Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa ada tiga hal yang dilakukan Nabi ﷺ di sepuluh malam terakhir:

  1. Menghidupkan malam - Beliau tidak tidur, melainkan beribadah, shalat, berdoa, dan berdzikir sepanjang malam.
  2. Membangunkan keluarga - Beliau membangunkan istri-istrinya untuk ikut beribadah, karena malam-malam ini adalah kesempatan emas yang tidak boleh disia-siakan.
  3. Bersungguh-sungguh - Beliau mengencangkan ikat pinggangnya, yang merupakan kinayah (ungkapan kiasan) untuk kesungguhan total dalam beribadah dan menjauhi istri (tidak berhubungan suami istri) agar fokus beribadah.

Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa membangunkan keluarga pada malam-malam ini adalah bentuk kepemimpinan yang baik dalam rumah tangga. Seorang suami atau ayah tidak hanya menyuruh keluarganya beribadah, tetapi juga memberikan teladan dan mendampingi mereka dalam ketaatan. Ini adalah cara Nabi ﷺ dalam mendidik keluarga, yaitu dengan praktik langsung, bukan hanya teori.

Syeikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah juga menekankan bahwa menghidupkan malam-malam ini dengan shalat, membaca Al-Qur'an, berdzikir, dan berdoa adalah sunnah yang sangat dianjurkan. Beliau juga menyebutkan bahwa membangunkan keluarga adalah bagian dari tanggung jawab seorang pemimpin rumah tangga, sebagaimana firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

"Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka." (QS. At-Tahrim [66]: 6)

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa hikmah membangunkan keluarga adalah agar mereka tidak melewatkan keutamaan malam-malam ini. Karena Lailatul Qadar tidak diketahui secara pasti kapan terjadinya, maka seluruh malam di sepuluh terakhir harus dihidupkan. Beliau juga menyebutkan bahwa Nabi ﷺ secara khusus membangunkan Aisyah radhiyallahu 'anha dan istri-istrinya yang lain.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, perawi hadits ini, adalah salah satu sahabat yang sangat bersungguh-sungguh dalam ibadah. Beliau meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ biasa membangunkan keluarganya di sepuluh malam terakhir. Ini menunjukkan bahwa Ali radhiyallahu 'anhu memperhatikan langsung kebiasaan Nabi ﷺ di rumahnya, karena beliau adalah menantu Nabi ﷺ yang tinggal dekat dengan beliau.

Ada kisah tentang sebagian salaf yang sangat bersemangat membangunkan keluarganya di malam-malam ini. Disebutkan bahwa sebagian ulama salaf apabila masuk sepuluh malam terakhir, mereka mempersiapkan diri dan keluarga dengan mandi, memakai wewangian, dan bersungguh-sungguh dalam ibadah. Mereka memahami bahwa malam-malam ini adalah kesempatan yang tidak akan terulang, dan mereka tidak ingin menyia-nyiakannya.

Imam Ibnu Rajab al-Hanbali menyebutkan bahwa sebagian salaf apabila masuk sepuluh malam terakhir, mereka mengisi siangnya dengan berpuasa dan malamnya dengan ibadah. Mereka menjauhi urusan dunia dan fokus pada akhirat. Ini adalah wujud pemahaman mereka terhadap sabda Nabi ﷺ yang memerintahkan untuk mencari Lailatul Qadar di sepuluh malam terakhir.

Kesimpulan Praktis

Beberapa hal yang bisa kita amalkan dari hadits ini:

  1. Menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadhan dengan shalat, membaca Al-Qur'an, berdzikir, dan berdoa.
  2. Membangunkan keluarga untuk ikut beribadah, terutama istri dan anak-anak, dengan cara yang lembut dan penuh kasih sayang.
  3. Memberikan teladan dalam ibadah, bukan hanya menyuruh tetapi juga mempraktikkan langsung di depan keluarga.
  4. Bersungguh-sungguh dalam ibadah di malam-malam ini, melebihi malam-malam lainnya.
  5. Mengajak keluarga untuk mencari Lailatul Qadar, karena keutamaannya lebih baik dari seribu bulan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.