Penjelasan Hadits Ahmad No. 1053 tentang Ciri fisik dan cara berjalan Nabi ﷺ

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah salah satu riwayat tentang sifat fisik (syamail) Nabi ﷺ dari Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه, yang menggambarkan beliau tidak pendek dan tidak tinggi, berbadan besar dan kokoh, wajahnya bercampur merah, serta cara berjalannya yang tegap dan bertenaga. Hadits semacam ini termasuk bab sifat Nabi ﷺ yang dibahas para ulama hadits dalam kitab-kitab syamail, dan tujuannya adalah mengenal beliau agar kecintaan kita bertambah, bukan untuk berlebihan (ghuluw). Riwayat ini dinilai memiliki kelemahan sanad menurut sebagian ahli hadits, sehingga maknanya tetap diambil sebagai penguat gambaran yang datang dari riwayat-riwayat lain yang lebih kuat.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan dengan keagungan akhlak dan pribadi Nabi ﷺ:

QS. Al-Qalam [68]: 4

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

Terjemahan: "Dan sesungguhnya engkau benar-benar berada di atas akhlak yang agung."

QS. Al-Ahzab [33]: 21

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Terjemahan: "Sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah."

Hadits terkait yang lebih kuat dan masyhur tentang sifat fisik Nabi ﷺ, antara lain riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik رضي الله عنه bahwa Nabi ﷺ "tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek, tidak sangat putih dan tidak sawo matang." Juga riwayat dalam Shahih Muslim dari Jabir bin Samurah رضي الله عنه tentang tanda kenabian dan bentuk tubuh beliau. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim dan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari membahas bab-bab sifat Nabi ﷺ ini dengan penjelasan bahwa gambaran-gambaran tersebut saling melengkapi.

Catatan sanad: Riwayat Musnad Ahmad nomor 1053 ini melalui jalur Waki' dari Mujammi' bin Yahya dan Al-Mas'udi, dari beberapa perawi, dari Ali رضي الله عنه. Para ahli hadits seperti Adz-Dzahabi dan Ibnu Hajar biasa menilai jalur-jalur syamail dengan penelitian sanad; sebagian jalur memiliki kelemahan, namun maknanya didukung riwayat lain yang shahih. Karena itu kami sampaikan maknanya secara umum dan tidak memastikan derajat sanadnya tanpa penelitian khusus.

Penjelasan Rinci

Hadits ini termasuk bab syamail (sifat-sifat dan bentuk fisik Nabi ﷺ). Para ulama di daftar kita membahasnya dengan adab dan kehati-hatian:

  1. "Tidak pendek dan tidak tinggi" — Ini menunjukkan tubuh beliau proporsional dan seimbang. Imam An-Nawawi menjelaskan dalam Syarh Shahih Muslim bahwa maksudnya beliau berperawakan sedang, tidak terlalu tinggi sehingga tampak jangkung, dan tidak terlalu pendek. Ini juga datang dalam riwayat Al-Bukhari dari Anas رضي الله عنه.
  2. "Besar kepala dan janggut, besar tangan dan kaki, besar sendi-sendi" — Ini menggambarkan kekokohan dan keperkasaan tubuh beliau, bukan keburukan. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menyebut bahwa sifat-sifat ini menunjukkan kesempurnaan fisik dan kekuatan, yang sesuai dengan tugas berat kenabian dan dakwah.
  3. "Wajahnya bercampur merah" — Yakni kulit beliau tidak putih pucat dan tidak sawo matang pekat, tetapi ada kemerahan yang menandakan kesehatan dan cahaya wajah. Ini sejalan dengan riwayat shahih tentang warna kulit beliau.
  4. "Garis rambut panjang dari dada hingga pusar" (al-masrabah) — Para perawi dalam riwayat ini berbeda lafaz tentang maknanya (sebagaimana disebutkan Abu An-Nadhr, Abu Qathan, dan Yazid). Sebagian memahaminya sebagai rambut tipis yang memanjang di tengah dada. Perbedaan ini adalah perbedaan lafaz periwayatan, bukan pertentangan makna yang mendasar.
  5. "Jika berjalan, seolah mengangkat kakinya dari batu" / "seolah turun dari tempat yang tinggi" — Ini menggambarkan langkah beliau yang tegap, bertenaga, dan penuh semangat, tidak lemah dan tidak sombong. Ibnu Qayyim dalam Zad al-Ma'ad dan Jala' al-Afham membahas sifat jalan Nabi ﷺ bahwa beliau berjalan dengan cepat dan tegap seperti turun dari tempat tinggi.
  6. "Aku belum pernah melihat seperti beliau sebelum dan sesudahnya" — Ini pujian Ali رضي الله عنه atas keagungan pribadi beliau, baik fisik maupun akhlak. Namun perlu ditegaskan: kecintaan dan pengagungan kepada Nabi ﷺ tidak boleh melampaui batas dengan mengangkat beliau di atas kedudukan hamba dan rasul, sebagaimana diperingatkan Ibn Taymiyyah dan Muhammad bin Abdul Wahhab dalam bab tauhid dan larangan ghuluw.

Perbedaan pendapat ulama daftar: Mengenai derajat sanad riwayat ini, para ahli hadits berbeda penilaian. Sebagian menilai jalur-jalur syamail perlu diteliti, dan sebagian riwayat serupa dinilai lemah dari sisi sanad tertentu. Namun karena maknanya didukung riwayat-riwayat shahih dalam Al-Bukhari dan Muslim tentang sifat fisik Nabi ﷺ, maka maknanya tetap diterima sebagai penguat. Yang paling kuat: mengambil makna umumnya dan merujuk pada riwayat shahih sebagai pegangan utama.

Story Telling

Diceritakan bahwa Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه, sepupu dan menantu Nabi ﷺ yang tumbuh di bawah asuhan beliau, suatu kali ditanya tentang sifat Nabi ﷺ. Ia pun menggambarkan beliau dengan penuh kecintaan dan ketelitian, sebagaimana dalam riwayat ini. Para sahabat memang sering saling bertanya tentang sifat Nabi ﷺ agar generasi setelah mereka mengenal beliau. Imam At-Tirmidzi dalam Asy-Syama'il al-Muhammadiyyah mengumpulkan riwayat-riwayat semacam ini, dan para ulama setelahnya seperti Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah dan Ibnu Qayyim dalam Zad al-Ma'ad menyusun gambaran lengkap tentang pribadi beliau. Hikmahnya: mengenal Nabi ﷺ membangkitkan cinta, dan cinta yang benar melahirkan ittiba' (mengikuti sunnah), bukan sekadar kekaguman.

Kesimpulan Praktis

  • Pahami hadits ini sebagai gambaran keagungan fisik dan akhlak Nabi ﷺ, bukan bahan ghuluw atau pengagungan berlebihan.
  • Pegang riwayat-riwayat shahih dalam Al-Bukhari dan Muslim sebagai rujukan utama sifat beliau; riwayat ini menjadi penguat makna.
  • Jadikan mengenal Nabi ﷺ jalan untuk meneladani beliau dalam ibadah, akhlak, dan muamalah.
  • Jika ingin mendalami syamail, rujuk kitab Asy-Syama'il karya At-Tirmidzi dan penjelasan Imam An-Nawawi serta Ibnu Hajar.
  • Hindari memastikan derajat sanad tanpa penelitian ahli; bertanyalah kepada ulama terpercaya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?