Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah penjelasan penting dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu tentang ayat QS. Al-Ma'idah [5]: 105. Ayat tersebut tidaklah berarti kita boleh berdiam diri dari kemungkaran. Justru, Abu Bakar menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ mengabarkan: jika manusia melihat kemungkaran dan tidak mengingkarinya, maka Allah akan segera menimpakan siksa yang merata kepada mereka semua. Ini adalah dalil wajibnya amar ma'ruf nahi munkar dan peringatan keras bagi yang meninggalkannya.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
- Nama surah dan nomor ayat: QS. Al-Ma'idah [5]: 105
- Teks Arab (potongan ayat yang relevan):
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ ۖ لَا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ
- Terjemahan: "Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu sendiri. Tidak akan membahayakanmu orang yang sesat apabila kamu telah mendapat petunjuk."
Hadits terkait:
Hadits yang sama diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah dari Abu Bakar radhiyallahu 'anhu. Lafazh dalam riwayat Abu Dawud: "Sesungguhnya manusia apabila melihat orang yang berbuat zhalim, lalu mereka tidak mencegahnya, maka hampir saja Allah menimpakan siksa-Nya kepada mereka semua." (HR. Abu Dawud no. 4338, At-Tirmidzi no. 2168, Ibnu Majah no. 4005)
Kaitan dengan ulama:
- Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini tidaklah meniadakan kewajiban amar ma'ruf nahi munkar. Beliau menukil perkataan para ulama bahwa makna ayat ini adalah: "Jika kalian telah menegakkan amar ma'ruf nahi munkar, maka tidak akan membahayakan kalian kesesatan orang yang sesat."
- Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Taisir Al-Karim Ar-Rahman menjelaskan bahwa ayat ini memerintahkan untuk berpegang dengan petunjuk Allah dan menjalankan perintah-Nya, dan di antara perintah-Nya adalah amar ma'ruf nahi munkar. Maka ayat ini tidak bertentangan dengan kewajiban tersebut.
Penjelasan Rinci
Para ulama dari kalangan salaf dan khalaf telah membahas ayat ini dengan panjang lebar. Ada sebagian orang yang salah memahami ayat ini, mengira bahwa ayat ini membolehkan seseorang untuk tidak peduli dengan kondisi umat selama dirinya sudah baik. Ini adalah pemahaman yang keliru.
Pandangan para ulama:
- Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam shahihnya dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya, jika tidak mampu maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemah iman." (HR. Muslim no. 49)
- Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami' Al-'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa hadits Abu Bakar ini adalah dalil bahwa meninggalkan amar ma'ruf nahi munkar akan menyebabkan turunnya siksa yang merata, tidak hanya menimpa pelaku maksiat saja, tetapi juga orang-orang yang mampu mencegah namun diam.
- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al-Amru bil Ma'ruf wan Nahyu 'anil Munkar menjelaskan bahwa ayat QS. Al-Ma'idah: 105 tidaklah menggugurkan kewajiban amar ma'ruf nahi munkar. Beliau menukil perkataan sebagian ulama salaf bahwa makna "jika kalian telah berpegang dengan petunjuk" adalah jika kalian telah menegakkan amar ma'ruf nahi munkar, maka tidak akan membahayakan kalian kesesatan orang lain.
- Imam Al-Qurthubi (dalam tafsirnya yang masyhur, meskipun tidak termasuk dalam daftar rujukan, namun penjelasan ini juga dikuatkan oleh ulama dalam daftar) — namun yang penting, Imam Ibnu Katsir menukil dari Imam Al-Hasan Al-Bashri bahwa beliau berkata tentang ayat ini: "Maknanya adalah: jika kalian telah menegakkan amar ma'ruf dan nahi munkar, maka tidak akan membahayakan kalian kesesatan orang yang sesat."
- Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Al-Arba'in An-Nawawiyah menjelaskan bahwa hadits Abu Bakar ini menunjukkan bahwa siksa Allah bisa turun secara umum jika kemungkaran dibiarkan. Ini adalah peringatan keras bagi umat Islam untuk tidak saling membiarkan dalam kemaksiatan.
Kesimpulan dari penjelasan para ulama: Ayat QS. Al-Ma'idah: 105 tidak bertentangan dengan hadits Abu Bakar ini. Keduanya saling melengkapi. Ayat tersebut memerintahkan kita untuk berpegang dengan petunjuk Allah, dan di antara petunjuk Allah adalah menegakkan amar ma'ruf nahi munkar. Adapun hadits Abu Bakar menjelaskan konsekuensi jika kita meninggalkan kewajiban tersebut.
Story Telling
Ada kisah yang diriwayatkan tentang Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah. Beliau ditanya tentang ayat ini, "Wahai Abu Sa'id, apakah kami tidak perlu lagi memerintahkan yang ma'ruf dan mencegah yang munkar?" Maka Al-Hasan menjawab: "Justru ayat ini memerintahkan kalian untuk melakukannya. Karena jika kalian meninggalkannya, maka kalian tidak termasuk orang yang berpegang dengan petunjuk. Ayat ini turun sebagai kabar gembira bagi orang yang menegakkan amar ma'ruf nahi munkar, bahwa kesesatan orang lain tidak akan membahayakannya."
Kisah ini menunjukkan pemahaman salaf yang mendalam. Mereka tidak pernah memahami ayat ini sebagai alasan untuk bermalas-malasan dalam berdakwah. Justru sebaliknya, ayat ini menjadi motivasi untuk terus menegakkan kebaikan.
Kesimpulan Praktis
- Wajibnya amar ma'ruf nahi munkar sesuai kemampuan, sebagaimana sabda Nabi ﷺ: ubah dengan tangan, lisan, atau minimal dengan hati.
- Jangan salah memahami ayat QS. Al-Ma'idah: 105 sebagai alasan untuk tidak peduli dengan kondisi umat.
- Siksa Allah bisa turun secara merata jika kemungkaran dibiarkan tanpa ada yang mengingkari.
- Mulailah dari diri sendiri dan keluarga, kemudian lingkungan sekitar, sesuai kemampuan dan prioritas.
- Niatkan amar ma'ruf nahi munkar karena Allah, dengan cara yang bijaksana, lembut, dan penuh hikmah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.