Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 971 tentang Bacaan tasyahhud dalam shalat dan tambahannya

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bacaan tasyahhud yang diajarkan Nabi ﷺ kepada para sahabat. Ada tambahan lafaz dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhu, yaitu "wa barakatuh" dan "wahdahu la syarika lah", yang menunjukkan bahwa para sahabat diperbolehkan menambah bacaan selama masih dalam koridor yang diajarkan Nabi. Ini juga menunjukkan bahwa tasyahhud memiliki beberapa versi lafaz yang shahih, dan semuanya berasal dari Nabi ﷺ.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Shalat, Bab Tasyahhud, no. 971. Juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dengan lafaz yang serupa dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu.

Dalam riwayat Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, beliau berkata:

"Rasulullah ﷺ mengajariku tasyahhud -sedangkan telapak tanganku berada di antara kedua telapak tangan beliau- sebagaimana beliau mengajariku satu surat dari Al-Qur'an: Attahiyyatu lillahi wash-shalawatu wath-thayyibatu, assalamu 'alaika ayyuhan-nabiyyu wa rahmatullahi wa barakatuh, assalamu 'alaina wa 'ala 'ibadillahish-shalihin, asyhadu an la ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan 'abduhu wa rasuluh." (HR. Al-Bukhari no. 831, Muslim no. 402)

Kaitan dengan ulama:

  • Imam Asy-Syafi'i dalam kitab Al-Umm menjelaskan bahwa tasyahhud yang diajarkan Nabi ﷺ memiliki beberapa lafaz yang shahih, dan seorang muslim boleh memilih salah satunya.
  • Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa tambahan lafaz dari Ibnu Umar ini menunjukkan luasnya syariat dan bahwa bacaan tasyahhud tidak harus terpaku pada satu lafaz saja.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa tasyahhud adalah salah satu rukun shalat yang agung. Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu' menyebutkan bahwa tasyahhud akhir adalah rukun, sedangkan tasyahhud awal adalah wajib menurut pendapat yang kuat di kalangan ulama Syafi'iyah.

Hadits Ibnu Umar ini menunjukkan beberapa pelajaran penting:

Pertama: Keutamaan lafaz tasyahhud yang diajarkan Nabi ﷺ

Lafaz "Attahiyyatu lillahi wash-shalawatu wath-thayyibatu" mengandung makna bahwa segala penghormatan, ibadah, dan kebaikan hanyalah milik Allah. Imam Ibnul Qayyim dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa kalimat ini adalah pengakuan bahwa seluruh bentuk ibadah dan penghormatan hanya layak dipersembahkan kepada Allah semata.

Kedua: Tambahan lafaz dari Ibnu Umar

Ibnu Umar menambahkan "wa barakatuh" setelah "wa rahmatullah", dan menambahkan "wahdahu la syarika lah" setelah kalimat syahadat. Ini menunjukkan bahwa para sahabat memahami bahwa bacaan tasyahhud bersifat fleksibel selama maknanya benar dan tidak keluar dari yang dicontohkan Nabi.

Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya bahwa Ibnu Umar juga mengajarkan tasyahhud dengan tambahan ini kepada orang-orang. Ini menunjukkan bahwa tambahan tersebut dianggap baik dan tidak bertentangan dengan sunnah.

Ketiga: Perbedaan lafaz tasyahhud adalah rahmat

Para ulama menyebutkan bahwa perbedaan lafaz tasyahhud yang diriwayatkan dari Nabi ﷺ adalah bentuk kemudahan dari Allah. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa semua lafaz tasyahhud yang shahih berasal dari Nabi ﷺ, dan seorang muslim boleh memilih salah satunya.

Keempat: Kedudukan Ibnu Umar dalam periwayatan

Ibnu Umar adalah salah satu sahabat yang paling tekun mengikuti sunnah Nabi ﷺ. Imam Adz-Dzahabi dalam Siyar A'lam an-Nubala menyebutkan bahwa Ibnu Umar sangat berhati-hati dalam beragama dan selalu meneladani Nabi ﷺ dalam setiap gerak-geriknya.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Ibnu Umar radhiyallahu 'anhu sangat teliti dalam mengikuti sunnah Nabi ﷺ. Beliau bahkan menghafal tempat-tempat tertentu yang pernah digunakan Nabi ﷺ untuk berhenti, berdoa, dan shalat di perjalanan. Ketika beliau meriwayatkan hadits tasyahhud ini, beliau dengan jujur menyatakan tambahan yang beliau buat: "Aku menambahkan 'wa barakatuh' dan 'wahdahu la syarika lah'."

Ini menunjukkan kejujuran dan kehati-hatian seorang sahabat dalam menyampaikan hadits. Mereka tidak mencampuradukkan perkataan Nabi dengan perkataan mereka sendiri tanpa menjelaskannya. Ini adalah pelajaran besar tentang amanah dalam menyampaikan ilmu.

Imam Malik bin Anas dalam Al-Muwaththa' meriwayatkan bahwa Ibnu Umar mengajarkan tasyahhud kepada orang-orang dengan lafaz yang lengkap ini, dan beliau tidak melihat masalah dengan tambahan tersebut.

Kesimpulan Praktis

  1. Hafalkan lafaz tasyahhud yang diajarkan Nabi ﷺ, baik riwayat Ibnu Mas'ud, Ibnu Umar, atau riwayat shahih lainnya.
  2. Boleh memilih salah satu lafaz tasyahhud yang shahih, karena semua berasal dari Nabi ﷺ.
  3. Tambahan lafaz yang baik seperti yang dilakukan Ibnu Umar diperbolehkan selama tidak keluar dari makna yang diajarkan Nabi.
  4. Jaga kejujuran dalam menyampaikan ilmu, sebagaimana para sahabat menjelaskan mana yang dari Nabi dan mana yang dari mereka.
  5. Perhatikan kekhusyukan dalam tasyahhud, karena ini adalah momen penting dalam shalat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi