Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 935 tentang Mengucapkan amin bersamaan dengan malaikat menghapus dosa

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa ketika imam selesai membaca ayat terakhir Surah Al-Fatihah, yaitu "غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ", makmum hendaknya mengucapkan "Amin". Barangsiapa ucapan Aminnya bertepatan dengan ucapan Amin para malaikat, maka dosa-dosanya yang telah lalu diampuni. Ini menunjukkan keutamaan besar mengucapkan Amin dengan penuh kekhusyukan dan mengikuti imam.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang terkait:

QS. Al-Fatihah [1]: 7

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

Terjemahan: "(Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dari Nabi ﷺ, dalam Sunan Abu Dawud no. 935, kitab Ash-Shalah, bab doa setelah imam (باب الدعاء بعد الإمام). Sanadnya: Al-Qa'nabi dari Malik dari Sumayy (mantan budak Abu Bakr) dari Abu Shalih As-Samman dari Abu Hurairah.

Hadits serupa juga terdapat dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim dengan lafaz yang semakna, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

Kaitan dengan ulama:

  • Imam Malik bin Anas meriwayatkan hadits ini dalam kitabnya Al-Muwaththa', dan beliau berpendapat bahwa mengucapkan Amin adalah sunnah yang dianjurkan bagi makmum.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna "bertepatan dengan ucapan malaikat" adalah bertepatan dalam waktu dan keikhlasan.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa yang dimaksud "selaras" mencakup kesesuaian waktu dan kesesuaian makna.
  • Ibn Rajab al-Hanbali dalam Fathul Bari-nya menyebutkan bahwa Amin adalah doa yang mustajab pada saat itu.

Penjelasan Rinci

Makna hadits secara umum:

Hadits ini menjelaskan salah satu sunnah dalam shalat berjamaah, yaitu mengucapkan "Amin" setelah imam membaca Surah Al-Fatihah hingga ayat terakhir. Ucapan Amin bukan sekadar kata biasa, tetapi doa yang mengandung permohonan agar Allah mengabulkan apa yang dibaca dalam Al-Fatihah, khususnya permohonan hidayah ke jalan yang lurus.

Penjelasan Imam an-Nawawi:

Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan mengucapkan Amin dan besarnya pahala bagi yang melakukannya dengan penuh kesadaran. Beliau menyebutkan bahwa para ulama sepakat (ijma') bahwa mengucapkan Amin setelah Al-Fatihah adalah sunnah, baik dalam shalat jahriyah (bacaan keras) maupun sirriyah (bacaan pelan).

Penjelasan Ibnu Hajar al-Asqalani:

Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa makna "bertepatan dengan ucapan malaikat" memiliki beberapa tafsiran dari para ulama:

  1. Bertepatan dalam waktu, yaitu saat malaikat juga mengucapkan Amin di langit.
  2. Bertepatan dalam keikhlasan dan kekhusyukan.
  3. Bertepatan dalam pengabulan doa, karena malaikat adalah makhluk yang doanya mustajab.

Beliau menguatkan bahwa pendapat yang paling kuat adalah bertepatan dalam waktu, sebagaimana disebutkan dalam riwayat lain: "Jika imam mengucapkan Amin, maka ucapkanlah Amin, karena malaikat juga mengucapkan Amin pada saat itu."

Penjelasan Ibn Rajab al-Hanbali:

Ibn Rajab dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa doa pada saat mengucapkan Amin setelah Al-Fatihah adalah waktu yang sangat mustajab. Beliau menyebutkan bahwa ini adalah salah satu waktu di mana doa tidak tertolak, sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits lain tentang keutamaan Amin.

Perbedaan pendapat di antara ulama:

Para ulama dari empat madzhab sepakat bahwa mengucapkan Amin adalah sunnah. Perbedaan hanya pada:

  • Apakah dijahrkan (dikeraskan) atau disirrkan (dipelankan) dalam shalat jahriyah. Imam Syafi'i dan Imam Ahmad berpendapat dijahrkan dalam shalat jahriyah, sedangkan Imam Abu Hanifah dan Imam Malik berpendapat disirrkan.
  • Pendapat yang paling kuat menurut dalil adalah dijahrkan dalam shalat jahriyah, berdasarkan hadits-hadits shahih yang menunjukkan bahwa Nabi ﷺ mengeraskan Amin, sebagaimana disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim.

Makna "diampuni dosa-dosanya yang telah lalu":

Ibnu Hajar menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah dosa-dosa kecil (shagha'ir), bukan dosa besar (kaba'ir), karena dosa besar memerlukan taubat khusus. Ini sebagaimana pemahaman para ulama terhadap hadits-hadits lain yang menyebutkan pengampunan dosa.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, sahabat yang meriwayatkan hadits ini, adalah salah satu sahabat yang paling bersemangat dalam mengucapkan Amin. Beliau pernah berkata: "Aku mengucapkan Amin bersama Nabi ﷺ, dan aku berharap dengan itu dosa-dosaku diampuni."

Dalam sebuah riwayat, disebutkan bahwa ketika Nabi ﷺ mengucapkan Amin dalam shalat, para sahabat yang berada di shaf belakang juga mengucapkan Amin dengan suara yang keras, sehingga masjid bergema dengan suara Amin mereka. Ini menunjukkan betapa para sahabat sangat memperhatikan sunnah ini dan berharap mendapatkan keutamaan yang disebutkan dalam hadits.

Imam Malik bin Anas rahimahullah, ketika mengajar di Masjid Nabawi, selalu mengingatkan murid-muridnya tentang pentingnya mengucapkan Amin dengan penuh kekhusyukan. Beliau berkata: "Amin adalah doa, maka ucapkanlah dengan hati yang hadir, karena doa yang tidak dihadiri hati sulit dikabulkan."

Kesimpulan Praktis

  1. Ucapkan Amin setelah imam membaca Al-Fatihah — baik dalam shalat jahriyah maupun sirriyah, baik sebagai imam, makmum, maupun munfarid (shalat sendiri).
  2. Ucapkan dengan penuh kekhusyukan — karena ini adalah doa, dan doa yang terbaik adalah yang dihadiri hati.
  3. Bertepatan dengan ucapan malaikat — usahakan mengucapkan Amin tepat setelah imam selesai membaca ayat terakhir Al-Fatihah, tanpa jeda yang lama.
  4. Jahrkan dalam shalat jahriyah — menurut pendapat yang paling kuat, ini adalah sunnah yang dianjurkan berdasarkan dalil-dalil shahih.
  5. Berharap pengampunan dosa — hadits ini menjanjikan pengampunan dosa bagi yang mengucapkan Amin dengan benar, maka jangan sia-siakan kesempatan ini.
  6. Konsisten dalam berjamaah — keutamaan ini lebih mudah diraih dalam shalat berjamaah, karena bertepatan dengan imam dan malaikat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?