Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 872 tentang Bacaan tasbih dan pensucian Allah saat ruku dan sujud

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ memiliki bacaan dzikir lain dalam ruku dan sujud selain "Subhaana rabbiyal 'azhiim" dan "Subhaana rabbiyal a'laa", yaitu "Subbuuhun Qudduusun Rabbul Malaaikati war Ruuh" (Maha Suci, Maha Kudus, Tuhan para malaikat dan ruh). Ini adalah bentuk pengagungan yang lebih mendalam, yang menunjukkan kebesaran Allah di tengah-tengah ibadah shalat. Kita bisa mencontohnya sebagai variasi dzikir agar shalat tidak monoton dan lebih khusyuk.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Abu Dawud:

Teks Arab hadits (sesuai yang Anda berikan):

حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، حَدَّثَنَا هِشَامٌ، حَدَّثَنَا قَتَادَةُ، عَنْ مُطَرِّفٍ، عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ يَقُولُ فِي رُكُوعِهِ وَسُجُودِهِ " سُبُّوحٌ قُدُّوسٌ رَبُّ الْمَلاَئِكَةِ وَالرُّوحِ "

Makna Hadits: Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, bahwa Nabi ﷺ biasa mengucapkan dalam ruku dan sujudnya: "Subbuuhun Qudduusun Rabbul Malaaikati war Ruuh" (Maha Suci, Maha Kudus, Tuhan para malaikat dan ruh).

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (Kitab Shalat, Bab Bacaan dalam Ruku dan Sujud) dari jalur lain, dan lafazhnya lebih lengkap: "Subbuuhun Qudduusun Rabbul Malaaikati war Ruuh" (HR. Muslim no. 487).

Kaitan dengan Ulama:

  • Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu' Syarh Al-Muhadzdzab menjelaskan bahwa dzikir ini adalah salah satu bentuk dzikir yang disunnahkan dalam ruku dan sujud, dan boleh dibaca sebagai tambahan setelah bacaan tasbih yang wajib (minimal sekali "Subhaana rabbiyal 'azhiim" untuk ruku dan "Subhaana rabbiyal a'laa" untuk sujud).
  • Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin dan Fatawa-nya menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya memperbanyak dzikir dalam ruku dan sujud, dan dianjurkan untuk menggabungkan antara bacaan tasbih yang masyhur dengan dzikir-dzikir lain yang diajarkan Nabi ﷺ agar shalat lebih hidup dan khusyuk.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan beberapa faedah dari hadits ini:

  1. Makna "Subbuuhun Qudduusun": Kedua kata ini adalah sifat Allah yang menunjukkan kesucian-Nya dari segala kekurangan dan keburukan. Imam Ibnul Qayyim dalam Badai'ul Fawaid menjelaskan bahwa "Subbuuh" berarti Maha Suci dari segala kekurangan, dan "Qudduus" berarti Maha Suci dari segala sifat yang tidak layak bagi keagungan-Nya. Ini adalah bentuk pensucian yang sangat mendalam.
  2. Makna "Rabbul Malaaikati war Ruuh": "Ruuh" di sini menurut mayoritas ulama tafsir, seperti Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya, adalah Malaikat Jibril 'alaihis salam. Ada juga pendapat yang mengatakan "ruuh" adalah malaikat yang khusus dan agung. Dengan menyebut Allah sebagai Tuhan para malaikat dan Jibril, ini menunjukkan pengakuan bahwa Allah adalah Pencipta dan Pengatur seluruh makhluk-Nya yang paling mulia sekalipun.
  3. Hikmah Dzikir Ini: Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Fathul Bari (syarah Shahih Al-Bukhari) menjelaskan bahwa dzikir dalam ruku dan sujud adalah bentuk penghambaan yang paling sempurna. Ruku dan sujud adalah puncak kerendahan diri seorang hamba di hadapan Rabb-nya. Maka, mengucapkan dzikir yang mengandung pensucian dan pengagungan seperti ini sangat sesuai dengan kondisi tersebut. Ini menunjukkan bahwa seorang hamba mengakui keagungan Allah di saat ia berada dalam posisi yang paling rendah.
  4. Bolehnya Variasi Dzikir: Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam Majmu' Fatawa-nya menjelaskan bahwa bacaan tasbih dalam ruku dan sujud memiliki beberapa lafazh yang shahih dari Nabi ﷺ. Seorang muslim boleh membaca salah satunya, atau menggabungkannya. Yang terpenting adalah tidak meninggalkan dzikir sama sekali, dan memperbanyak doa dalam sujud karena doa di sujud sangat mustajab.
  5. Perbedaan dengan Bacaan Tasbih Utama: Bacaan "Subhaana rabbiyal 'azhiim" (Maha Suci Tuhanku yang Maha Agung) dalam ruku dan "Subhaana rabbiyal a'laa" (Maha Suci Tuhanku yang Maha Tinggi) dalam sujud adalah bacaan yang paling utama dan dianjurkan minimal dibaca tiga kali. Adapun hadits ini memberikan tambahan dzikir lain yang juga dicontohkan Nabi ﷺ, sehingga shalat kita tidak terasa kaku dan selalu ada variasi dalam ibadah.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal (salah satu ulama besar dalam daftar rujukan kita) sangat memperhatikan kekhusyukan dalam shalatnya. Beliau sering kali menangis dalam shalatnya ketika membaca ayat-ayat tentang siksa atau surga. Suatu ketika, beliau ditanya tentang rahasia kekhusyukannya. Beliau menjawab, "Aku berdiri di hadapan Rabb-ku. Bagaimana aku tidak khusyuk?" Kemudian beliau juga dikenal sering membaca dzikir-dzikir yang bervariasi dalam ruku dan sujudnya, sebagaimana yang dicontohkan Nabi ﷺ, agar hatinya selalu terhubung dengan keagungan Allah.

Hikmah: Kekhusyukan shalat tidak hanya datang dari pemahaman bacaan, tetapi juga dari kesadaran bahwa kita sedang berdiri, ruku, dan sujud di hadapan Allah yang Maha Agung. Dengan memperbanyak dan memvariasikan dzikir, hati kita akan semakin hidup dan mengingat kebesaran-Nya.

Kesimpulan Praktis

  1. Baca Dzikir Ini: Kita dianjurkan untuk membaca "Subbuuhun Qudduusun Rabbul Malaaikati war Ruuh" dalam ruku dan sujud, baik sebagai tambahan setelah tasbih utama atau sebagai pengganti sesekali.
  2. Perbanyak Doa di Sujud: Sujud adalah saat terdekat seorang hamba dengan Rabb-nya. Perbanyaklah doa di dalamnya, karena doa di sujud sangat mustajab.
  3. Jaga Kekhusyukan: Pahami makna setiap dzikir yang kita baca agar hati kita hadir dan khusyuk dalam shalat.
  4. Jangan Meninggalkan Dzikir: Pastikan kita tidak meninggalkan dzikir tasbih dalam ruku dan sujud, karena itu adalah bagian dari inti shalat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.