Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan adab ketika turun untuk sujud: jangan menyerupai cara unta berlutut, yaitu jangan mendahulukan lutut, tetapi dahulukan kedua tangan sebelum kedua lutut. Para ulama berbeda pendapat dalam memahami dan mengamalkan hadits ini, dan pendapat yang paling kuat menurut jumhur ulama hadits adalah mendahulukan tangan sebelum lutut, sebagaimana zhahir hadits.
Rujukan Ulama & Dalil
Dalil utama — Hadits Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu:
Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab ash-Shalah, bab cara meletakkan lutut sebelum tangan (no. 840), dari jalur Sa'id bin Manshur → Abdul Aziz bin Muhammad → Muhammad bin Abdullah bin Hasan → Abu az-Zinad → al-A'raj → Abu Hurairah.
Teks hadits:
إِذَا سَجَدَ أَحَدُكُمْ فَلَا يَبْرُكْ كَمَا يَبْرُكُ الْبَعِيرُ وَلْيَضَعْ يَدَيْهِ قَبْلَ رُكْبَتَيْهِ
Terjemahan: "Apabila salah seorang di antara kalian sujud, maka janganlah ia berlutut seperti unta berlutut, dan hendaklah ia meletakkan kedua tangannya sebelum kedua lututnya."
Ayat yang menjadi landasan umum tentang mengikuti perintah Nabi ﷺ:
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا
QS. Al-Hasyr [59]: 7
Terjemahan: "Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah, dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah."
Keterkaitan ulama:
- Imam Abu Dawud memasukkan hadits ini dalam bab khusus, menunjukkan perhatian beliau pada masalah ini.
- Ibn Khuzaimah dan Ibn Hibban (keduanya dari ulama daftar) memasukkan hadits ini dalam kitab shahih mereka, menandakan mereka menilai hadits ini kuat.
- Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad membahas masalah ini dan menguatkan sisi dalil.
- Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari dan Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim membahas perbedaan pendapat ini secara panjang.
Penjelasan Rinci
Makna hadits secara bahasa dan syariat:
Kata "يَبْرُكْ" berasal dari "بروك" yaitu cara unta duduk, yaitu mendahulukan lutut depan (yang sebenarnya adalah tangan bagi unta) lalu badan. Nabi ﷺ melarang menyerupai cara ini dan memerintahkan mendahulukan tangan sebelum lutut.
Perbedaan pendapat ulama:
- Jumhur ahli hadits (termasuk Ibn Khuzaimah, Ibn Hibban, Ibn Hajar, dan dikuatkan oleh Ibn Qayyim) berpendapat: yang dimaksud adalah mendahulukan kedua tangan sebelum kedua lutut saat turun sujud. Ini adalah zhahir hadits. Mereka berdalil bahwa unta mendahulukan lutut depannya, maka larangan "jangan seperti unta" berarti jangan mendahulukan lutut.
- Sebagian ulama fiqih (dalam mazhab Hanafi dan sebagian Syafi'i) memahami sebaliknya, yaitu mendahulukan lutut, dengan alasan bahwa "lutut" unta adalah tangan depannya, sehingga larangan itu berarti jangan mendahulukan tangan. Namun ini dibantah oleh jumhur karena secara bahasa Arab, "lutut" (رُكْبَة) manusia berbeda dengan "lutut" unta.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Muslim menyebutkan bahwa hadits Abu Hurairah ini hasan, dan sebagian ulama mengamalkannya. Beliau juga menyebut adanya hadits lain dari Wa'il bin Hujr yang tampak berbeda, lalu beliau mendamaikan bahwa keduanya bisa diamalkan sesuai kondisi.
Pendapat yang paling kuat:
Menurut jumhur ulama hadits dan dikuatkan Ibn Qayyim serta Ibn Hajar, yang rajih adalah mendahulukan kedua tangan sebelum kedua lutut ketika turun untuk sujud, berdasarkan zhahir hadits dan kejelasan makna larangan menyerupai unta. Ini juga pendapat yang dipilih oleh Ibn Khuzaimah dan Ibn Hibban.
Hikmah:
- Menjaga kelembutan saat turun sujud, tidak membentur lutut lebih dulu yang bisa memberatkan.
- Meneladani sunnah secara detail, karena ibadah dibangun atas ittiba'.
- Menjauhi tasyabbuh (menyerupai) hewan dalam gerakan ibadah.
Story Telling
Diceritakan bahwa sebagian salaf sangat teliti dalam masalah ini. Ibn Khuzaimah, seorang ulama besar ahli hadits, memasukkan hadits ini dalam kitab shahihnya dengan penuh keyakinan, menunjukkan bahwa beliau mengamalkan zhahirnya. Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menyebutkan bahwa Nabi ﷺ mengajarkan umatnya hingga detail gerakan sujud, agar ibadah benar-benar sesuai tuntunan, bukan sekadar rutinitas. Hikmahnya: perhatian pada sunnah kecil melahirkan keikhlasan dan ketelitian dalam beribadah.
Kesimpulan Praktis
- Ketika turun untuk sujud, dahulukan kedua tangan sebelum kedua lutut, sesuai zhahir hadits.
- Jangan menyerupai cara unta berlutut dalam gerakan ibadah.
- Hormati perbedaan pendapat ulama dengan adab, namun amalkan yang paling kuat dalilnya.
- Jadikan detail sunnah sebagai bentuk cinta kepada Nabi ﷺ.
- Bila ragu, bertanyalah kepada ulama terpercaya yang berpegang pada Al-Qur'an dan sunnah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.