Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 831 tentang Bacalah Al-Qur'an sebelum datang orang yang merusaknya

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah nasihat agung dari Nabi ﷺ agar kita bersemangat membaca Al-Qur'an selagi masih ada kesempatan, sebelum datang suatu kaum yang membaca Al-Qur'an hanya untuk kepentingan dunia. Mereka membaca dengan lafaz yang benar dan indah, tetapi hati mereka tidak ikut serta, sehingga mereka tidak mendapatkan pahala akhirat. Hadits ini juga mengajarkan bahwa Al-Qur'an adalah untuk semua manusia tanpa membedakan suku, warna kulit, atau status sosial.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Abu Dawud:

Teks hadits yang Anda sampaikan adalah sebagai berikut (dengan harakat sesuai periwayatan):

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ صَالِحٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ، أَخْبَرَنِي عَمْرٌو، وَابْنُ لَهِيعَةَ عَنْ بَكْرِ بْنِ سَوَادَةَ، عَنْ وَفَاءِ بْنِ شُرَيْحٍ الصَّدَفِيِّ، عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِيِّ، قَالَ: خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَوْمًا وَنَحْنُ نَقْتَرِئُ، فَقَالَ: "الْحَمْدُ لِلَّهِ، كِتَابُ اللَّهِ وَاحِدٌ، وَفِيكُمُ الأَحْمَرُ، وَفِيكُمُ الأَبْيَضُ، وَفِيكُمُ الأَسْوَدُ، اقْرَءُوهُ قَبْلَ أَنْ يَقْرَأَهُ أَقْوَامٌ يُقِيمُونَهُ كَمَا يُقَوَّمُ السَّهْمُ، يَتَعَجَّلُ أَجْرَهُ وَلاَ يَتَأَجَّلُهُ"

Terjemahan:

Sahl bin Sa'd al-Sa'idi berkata: "Rasulullah ﷺ suatu hari keluar kepada kami sementara kami sedang membaca Al-Qur'an. Beliau bersabda: 'Segala puji bagi Allah. Kitab Allah itu satu, dan di antara kalian ada yang merah, putih, dan hitam. Bacalah sebelum datang suatu kaum yang akan membacanya dan meluruskannya seperti anak panah diluruskan. Mereka menyegerakan pahalanya (di dunia) dan tidak menundanya (untuk akhirat).'"

Catatan sanad:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Shalat, Bab "Apa yang Dapat Diterima dari Orang Buta Huruf dan Orang Asing dalam Membaca", no. 831. Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Shahih Abi Dawud menilai hadits ini shahih (lihat Shahih Abi Dawud, no. 831).

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Hadid [57]: 16

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ

"Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kebenaran yang telah turun (Al-Qur'an)?"

Ayat ini menunjukkan pentingnya hati ikut hadir saat membaca Al-Qur'an, bukan sekadar lisan yang membaca.

Penjelasan Rinci

1. Makna "Kitab Allah itu satu, dan di antara kalian ada yang merah, putih, dan hitam"

Maksudnya: Al-Qur'an ini satu, tidak ada perbedaan antara satu orang dengan lainnya. Semua manusia — baik yang berkulit merah, putih, maupun hitam — dipanggil untuk membaca dan mengamalkannya. Ini adalah penegasan bahwa Al-Qur'an bukan untuk satu golongan atau bangsa tertentu, tetapi untuk seluruh umat manusia.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa Nabi ﷺ ingin menanamkan persaudaraan dan persatuan di antara para sahabat yang terdiri dari berbagai suku dan warna kulit. Beliau mengingatkan bahwa yang membedakan manusia bukanlah warna kulit atau keturunan, melainkan ketakwaan.

2. Makna "Bacalah sebelum datang suatu kaum yang akan membacanya dan meluruskannya seperti anak panah diluruskan"

Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah orang-orang yang membaca Al-Qur'an dengan bacaan yang sangat fasih dan tartil, bahkan hafalannya sangat kuat, tetapi hatinya kosong dari keimanan dan keikhlasan. Mereka membaca seperti anak panah yang diluruskan — sangat rapi dan sempurna secara lahiriah — namun tidak ada cahaya iman di dalamnya.

Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa orang seperti ini membaca Al-Qur'an hanya untuk mencari pujian, kedudukan, atau harta dunia. Mereka tidak membaca untuk mencari wajah Allah, sehingga amal mereka tidak bernilai di akhirat.

3. Makna "Mereka menyegerakan pahalanya dan tidak menundanya"

Maksudnya: Mereka mendapatkan balasan di dunia — seperti pujian, jabatan, atau harta — tetapi tidak mendapatkan pahala di akhirat. Ini adalah peringatan keras bagi kita agar ketika membaca Al-Qur'an, niat kita murni karena Allah, bukan karena ingin dipuji atau mencari keuntungan duniawi.

Imam asy-Syafi'i rahimahullah pernah berkata: "Barangsiapa yang membaca Al-Qur'an, maka hendaknya ia menjadikan Allah sebagai tujuan satu-satunya, bukan sekadar bacaan yang dihafal untuk kebanggaan."

4. Pelajaran tentang niat dan keikhlasan

Hadits ini mengajarkan bahwa kualitas bacaan Al-Qur'an tidak hanya diukur dari keindahan suara atau kefasihan lafaz, tetapi dari kehadiran hati dan keikhlasan niat. Syaikh Abdurrahman as-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa manfaat Al-Qur'an hanya akan diperoleh jika hati ikut merenungkan maknanya, karena itulah tujuan utama diturunkannya Al-Qur'an.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa sebagian ulama salaf sangat takut jika amal mereka tidak diterima. Suatu ketika, sebagian ulama menangis ketika membaca firman Allah tentang orang-orang yang beramal tetapi sia-sia. Mereka khawatir jangan-jangan termasuk golongan yang disebutkan dalam hadits ini — orang yang membaca Al-Qur'an tetapi tidak mendapatkan pahala akhirat.

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah pernah berkata: "Wahai manusia, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian menjadikan Al-Qur'an sebagai surat-surat yang mereka baca dengan penuh perenungan dan amal. Adapun kalian, kalian menjadikannya sebagai bacaan yang cepat, padahal hati kalian lalai."

Beliau juga berkata: "Sesungguhnya Al-Qur'an itu diturunkan untuk diamalkan, tetapi kalian menjadikan bacaannya sebagai amalan. Maka bertanyalah tentang amalan kalian."

Ini menunjukkan bahwa para salaf sangat menjaga hati mereka agar tidak termasuk orang yang membaca Al-Qur'an hanya di lisan, tanpa penghayatan dan pengamalan.

Kesimpulan Praktis

  1. Perbaiki niat — Bacalah Al-Qur'an semata-mata karena Allah, bukan untuk pujian atau kepentingan dunia.
  2. Hadirkan hati — Saat membaca Al-Qur'an, usahakan untuk merenungkan maknanya, meskipun hanya sedikit.
  3. Jangan bangga dengan bacaan — Kefasihan dan keindahan suara bukan jaminan pahala jika hati kosong dari keikhlasan.
  4. Amalkan yang dibaca — Al-Qur'an bukan hanya untuk dibaca, tetapi untuk dipahami dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
  5. Jaga persatuan — Al-Qur'an untuk semua orang tanpa membedakan suku, warna kulit, atau status sosial.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.