Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 810 tentang Bacaan Nabi dalam shalat Maghrib adalah surat Al-Mursalat

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ pernah membaca surat Al-Mursalat (77) dalam shalat Maghrib, dan ini adalah bacaan terakhir yang didengar Ummu al-Fadhl dari beliau dalam shalat tersebut. Hadits ini menjadi dalil bahwa membaca surat yang panjang dalam shalat Maghrib itu boleh, meskipun kebiasaan Nabi ﷺ umumnya membaca surat-surat pendek dari Mufashshal (surat-surat pendek dalam Al-Qur'an). Ini juga menunjukkan bahwa shalat Maghrib tidak harus selalu singkat, tetapi tetap mengikuti tuntunan Nabi ﷺ.

---

Rujukan Ulama & Dalil

1. Ayat Al-Qur'an yang Terkait

Allah ﷻ berfirman:

> فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ

QS. Al-Muzzammil [73]: 20

Artinya: "Maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur'an."

Ayat ini menjadi dasar bahwa bacaan dalam shalat itu fleksibel — boleh panjang atau pendek, selama itu yang mudah dan sesuai dengan tuntunan Nabi ﷺ.

2. Hadits Terkait

Hadits yang Anda tanyakan diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Shalat, Bab Ukuran Bacaan dalam Shalat Maghrib, nomor 810. Sanadnya: Al-Qa'nabi dari Malik dari Ibnu Syihab az-Zuhri dari 'Ubaidillah bin 'Abdillah bin 'Utbah dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma.

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dari jalur lain, sehingga shahih menurut kesepakatan ulama hadits.

3. Kaitan dengan Ulama dalam Daftar

  • Imam Malik bin Anas meriwayatkan hadits ini dalam al-Muwaththa', dan beliau menggunakannya sebagai dalil bahwa membaca surat panjang dalam Maghrib itu boleh.
  • Imam asy-Syafi'i menjelaskan bahwa Nabi ﷺ kadang membaca surat panjang dalam Maghrib, kadang surat pendek, dan semua itu menunjukkan kelapangan dalam hal ini.
  • Imam Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya membaca surat Thiwal al-Mufashshal (surat-surat panjang dari kelompok Mufashshal) dalam shalat Maghrib.

---

Penjelasan Rinci

Para ulama berbeda pendapat tentang ukuran bacaan yang disunnahkan dalam shalat Maghrib:

  1. Pendapat pertama: Disunnahkan membaca surat-surat pendek dari Mufashshal, seperti surat At-Tin, Al-Qadr, atau Al-Kautsar. Ini berdasarkan hadits-hadits yang menunjukkan Nabi ﷺ biasa membaca surat pendek dalam Maghrib. Ini adalah pendapat yang masyhur di kalangan ulama.
  2. Pendapat kedua: Boleh membaca surat yang panjang, seperti Al-Mursalat, Ath-Thur, atau Al-A'raf. Ini berdasarkan hadits Ummu al-Fadhl di atas, dan juga hadits lain bahwa Nabi ﷺ pernah membaca surat Ath-Thur dalam shalat Maghrib (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Jubair bin Muth'im).

Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa Nabi ﷺ bervariasi dalam bacaan Maghribnya. Kadang beliau membaca surat pendek, kadang surat sedang, dan kadang surat panjang seperti Al-Mursalat. Ini menunjukkan bahwa tidak ada batasan kaku dalam bacaan Maghrib, selama tidak memberatkan makmum.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa yang terbaik adalah mengikuti kebiasaan Nabi ﷺ yang paling sering, yaitu membaca surat-surat pendek dari Mufashshal dalam Maghrib. Namun jika ada kebutuhan — misalnya untuk mengajarkan surat tertentu atau karena kondisi tertentu — maka membaca surat panjang juga dibolehkan berdasarkan hadits ini.

Pelajaran penting dari hadits ini:

  1. Shalat Maghrib tidak harus selalu singkat — ada kelonggaran.
  2. Nabi ﷺ mengajarkan kita untuk bervariasi dalam ibadah agar tidak membosankan.
  3. Ummu al-Fadhl — seorang wanita shahabiyah — memahami dan memperhatikan bacaan Nabi ﷺ dengan seksama, lalu menyampaikannya kepada generasi berikutnya. Ini menunjukkan peran wanita dalam menjaga sunnah.

---

Story Telling

Ada kisah menarik tentang Ummu al-Fadhl binti al-Harits — istri dari Abbas bin Abdul Muththalib, paman Nabi ﷺ. Beliau adalah salah satu wanita yang banyak meriwayatkan hadits.

Suatu hari, keponakannya — Ibnu Abbas — sedang membaca surat Al-Mursalat. Ummu al-Fadhl mendengarnya dengan seksama. Lalu beliau berkata:

> "Wahai anakku, kamu telah mengingatkanku dengan bacaanmu ini. Sesungguhnya surat ini adalah surat terakhir yang aku dengar Rasulullah ﷺ membacanya dalam shalat Maghrib."

Perhatikan! Seorang wanita yang sudah lanjut usia, namun ingatannya tajam terhadap bacaan Nabi ﷺ. Beliau mendengar Nabi ﷺ membaca surat Al-Mursalat dalam Maghrib, dan itu menjadi kenangan terakhir yang melekat di hatinya.

Ini menunjukkan bahwa para shahabiyah sangat perhatian terhadap sunnah Nabi ﷺ, bahkan dalam detail bacaan shalat. Mereka tidak hanya hadir, tetapi juga memperhatikan, menghafal, dan menyampaikan kepada generasi berikutnya.

---

Kesimpulan Praktis

  1. Boleh membaca surat panjang dalam shalat Maghrib, seperti Al-Mursalat, Ath-Thur, atau surat lainnya — berdasarkan hadits ini.
  2. Yang lebih utama adalah mengikuti kebiasaan Nabi ﷺ yang sering membaca surat pendek dari Mufashshal dalam Maghrib, karena itu yang lebih ringan bagi makmum.
  3. Bagi imam, hendaknya memperhatikan kondisi makmum — jangan terlalu panjang sehingga memberatkan, dan jangan terlalu pendek sehingga mengurangi kekhusyukan.
  4. Bagi makmum, hendaknya bersabar dan tidak tergesa-gesa, karena imam mengikuti sunnah.
  5. Kita harus semangat mempelajari dan menjaga sunnah seperti para shahabiyah yang teliti dalam memperhatikan bacaan Nabi ﷺ.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?