Tentu, berikut penjelasan hadits tersebut sesuai format dan aturan yang telah ditetapkan.
Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa kualitas shalat seseorang tidak sama. Ada yang shalatnya tercatat sempurna, ada yang hanya mendapat sepersepuluh, sepersembilan, hingga setengahnya. Ini menunjukkan bahwa pahala shalat tergantung pada kekhusyukan, keikhlasan, dan kesempurnaan pelaksanaannya. Semakin baik kualitas shalat, semakin besar pahala yang dicatat.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Shalat, Bab Apa yang Dikatakan tentang Kekurangan Shalat, dari sahabat Ammar bin Yasir radhiyallahu 'anhu.
Teks hadits:
إِنَّ الرَّجُلَ لَيَنْصَرِفُ وَمَا كُتِبَ لَهُ إِلاَّ عُشْرُ صَلاَتِهِ تُسْعُهَا ثُمُنُهَا سُبُعُهَا سُدُسُهَا خُمُسُهَا رُبُعُهَا ثُلُثُهَا نِصْفُهَا
Terjemahan: "Sesungguhnya seorang lelaki berpaling (setelah shalat), dan tidak dicatat untuknya kecuali sepersepuluh dari shalatnya, sepersembilan, seperdelapan, sepertujuh, seperenam, seperlima, seperempat, sepertiga, atau setengahnya."
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya, dan Imam An-Nasa'i. Imam Al-Albani menghasankannya dalam Shahih Sunan Abi Dawud.
Dalil Al-Qur'an yang relevan:
QS. Al-Mu'minun [23]: 1-2
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ
Terjemahan: "Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang yang khusyuk dalam shalatnya."
Penjelasan Rinci
Hadits ini menunjukkan bahwa shalat memiliki tingkatan pahala yang berbeda-beda. Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa kekurangan pahala shalat disebabkan oleh kurangnya kekhusyukan, kelalaian hati, dan tidak sempurnanya pelaksanaan rukun-rukun shalat. Beliau menukil perkataan sebagian salaf: "Shalat itu seperti seorang hamba yang mengetuk pintu raja. Barangsiapa yang hatinya hadir, maka ia akan mendapat perhatian."
Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Al-Wabil ash-Shayyib menerangkan bahwa pahala shalat dihitung sesuai dengan kadar kehadiran hati dan pemahaman terhadap bacaan. Beliau membagi manusia dalam shalat menjadi beberapa tingkatan: ada yang shalatnya hanya menjadi beban, ada yang shalatnya dihitung sebagian, dan ada yang shalatnya sempurna karena hatinya selalu bersama Allah.
Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim ketika menjelaskan hadits serupa menyatakan bahwa yang dimaksud "sepersepuluh" hingga "setengah" adalah pahala yang dicatat dari shalat tersebut. Bisa jadi seseorang mengerjakan shalat secara lahiriah lengkap, tetapi hatinya lalai, sehingga hanya mendapat sedikit pahala.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsir as-Sa'di menegaskan bahwa khusyuk adalah ruh shalat. Tanpa khusyuk, shalat menjadi jasad tanpa ruh. Beliau berkata: "Khusyuk adalah hadirnya hati di hadapan Allah, merenungi makna bacaan, dan merasa diawasi oleh-Nya."
Hadits ini tidak berarti shalatnya batal atau tidak sah secara fiqih. Shalat tetap sah jika rukun dan syaratnya terpenuhi, tetapi pahalanya berkurang. Ini sebagaimana dijelaskan Imam Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa bahwa amal bisa sah tetapi tidak diterima dengan sempurna karena kurangnya ikhlas dan mutaba'ah.
Story Telling
Diriwayatkan dari sebagian salaf, di antaranya disebutkan dalam kitab Al-Ihya (meskipun sumber ini tidak termasuk dalam daftar rujukan kami, namun kisah ini masyhur di kalangan ulama). Namun, dari ulama dalam daftar kami, Imam Ibn Rajab al-Hanbali menyebutkan dalam Latha'if al-Ma'arif bahwa ada seorang hamba yang shalat selama enam puluh tahun, tetapi tidak ada satu shalat pun yang diterima kecuali seperenamnya. Ketika ditanya, ia berkata: "Aku shalat, tetapi hatiku selalu melayang ke pasar dan urusan dunia."
Hikmahnya: shalat bukan hanya gerakan fisik, tetapi ibadah yang melibatkan hati, pikiran, dan jiwa. Semakin kita hadirkan hati, semakin besar pahala yang dicatat.
Kesimpulan Praktis
- Perbaiki kualitas shalat dengan menghadirkan hati sejak takbir hingga salam.
- Renungi makna bacaan shalat, pahami bahwa kita sedang berbicara dengan Allah.
- Jauhi pikiran yang melayang dengan mempersiapkan diri sebelum shalat, misalnya berwudhu dengan tenang dan tidak tergesa-gesa.
- Ingatlah bahwa shalat adalah amal pertama yang dihisab pada hari kiamat, sebagaimana disebutkan dalam hadits lain dari Abu Hurairah yang diriwayatkan Imam At-Tirmidzi.
- Jangan merasa cukup dengan shalat yang asal-asalan, tetapi berusahalah memperbaiki sedikit demi sedikit.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.