Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 793 tentang Anjuran mempermudah bacaan shalat dan tidak berlebihan

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa shalat yang paling utama adalah yang sesuai dengan tuntunan Nabi ﷺ, tidak berlebihan, dan tetap menjaga rukun-rukunnya — terutama membaca Al-Fatihah. Doa memohon surga dan berlindung dari neraka adalah doa yang sah dan baik, bahkan Nabi ﷺ dan Mu'adz pun fokus pada dua hal besar itu. Namun doa tidak boleh menggantikan bacaan shalat yang telah diajarkan.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Mu'minun [23]: 1-2

```

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ ۝ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

```

Terjemahan: "Sungguh beruntung orang-orang mukmin, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Shalat, Bab Mempermudah Shalat, dari sahabat Jabir bin Abdullah رضي الله عنهما.

Hadits lain yang sangat terkait adalah hadits Abu Hurairah رضي الله عنه yang diriwayatkan Imam al-Bukhari dan Imam Muslim tentang seorang sahabat yang shalatnya buruk, lalu Nabi ﷺ mengajarinya membaca Al-Fatihah dan rukun-rukun shalat. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa Al-Fatihah adalah rukun yang tidak boleh ditinggalkan dalam shalat.

Kaitan dengan ulama:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa membaca Al-Fatihah adalah rukun shalat menurut jumhur ulama.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa doa dalam shalat boleh dilakukan, tetapi tidak menggantikan bacaan yang disyariatkan.
  • Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa khusyuk dan mengikuti tuntunan Nabi ﷺ adalah inti dari shalat yang diterima.

Penjelasan Rinci

Makna umum hadits:

Hadits ini menceritakan dialog Nabi ﷺ dengan seorang pemuda — menurut sebagian riwayat ia adalah keponakan Jabir atau seorang pemuda dari kaum Mu'adz. Nabi ﷺ bertanya: "Apa yang engkau lakukan dalam shalat?" Pemuda itu menjawab dengan jujur: ia membaca Al-Fatihah, lalu berdoa memohon surga dan berlindung dari neraka. Ia juga mengaku tidak memahami "dandaanah" (suara lirih/doa panjang) yang dilakukan Nabi ﷺ dan Mu'adz.

Nabi ﷺ tidak mencela jawaban pemuda itu. Bahkan beliau membenarkan bahwa inti yang beliau dan Mu'adz fokuskan juga berkisar pada surga dan neraka. Ini menunjukkan kelembutan Nabi ﷺ dan pengakuan bahwa doa tersebut baik.

Bagaimana ulama memahami hadits ini:

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya berdoa dalam shalat dengan doa yang ma'tsur maupun doa umum yang baik, selama tidak mengandung hal yang terlarang. Namun beliau juga menegaskan bahwa bacaan Al-Fatihah tetap wajib dan tidak bisa digantikan oleh doa.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits ini menjadi dalil bahwa doa memohon surga dan berlindung dari neraka adalah doa yang paling utama, karena itulah yang menjadi fokus Nabi ﷺ dan Mu'adz. Beliau juga menjelaskan bahwa "dandaanah" dalam hadits ini bermakna suara lirih saat berdoa atau membaca, dan pemuda itu tidak terbiasa dengan hal tersebut.

Syeikh Abdurrahman as-Sa'di dalam Tafsir as-Sa'di menekankan bahwa shalat harus dibangun di atas dua pilar: mengikuti sunnah Nabi ﷺ dan menghadirkan hati (khusyuk). Doa yang dipanjatkan dengan hati yang hadir lebih utama daripada bacaan panjang namun kosong dari kekhusyukan.

Perbedaan pendapat di antara ulama:

  • Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad berpendapat bahwa Al-Fatihah wajib dibaca di setiap rakaat, dan tidak boleh digantikan dengan doa.
  • Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa Al-Fatihah tidak wajib secara mutlak, tetapi tetap merupakan bacaan yang utama. Namun beliau juga tidak membolehkan menggantinya dengan doa semata.
  • Jumhur ulama (mayoritas) — termasuk Imam Malik, asy-Syafi'i, dan Ahmad — sepakat bahwa Al-Fatihah adalah rukun yang tidak boleh ditinggalkan.

Yang paling kuat adalah pendapat jumhur, berdasarkan hadits "Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Al-Fatihah" (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah). Adapun doa memohon surga dan berlindung dari neraka, ia tetap dianjurkan dan tidak bertentangan dengan bacaan shalat.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Mu'adz bin Jabal رضي الله عنه adalah seorang imam yang shalatnya panjang. Suatu ketika ia mengimami kaumnya dengan bacaan yang panjang, hingga seorang pemuda meninggalkan shalat berjamaah dan shalat sendiri. Ketika hal itu dilaporkan kepada Nabi ﷺ, beliau tidak marah kepada pemuda itu, tetapi menasihati Mu'adz agar mempermudah shalatnya.

Dalam riwayat Imam Abu Dawud ini, Nabi ﷺ justru berdialog lembut dengan pemuda tersebut. Beliau bertanya apa yang ia baca dalam shalat. Pemuda itu menjawab dengan jujur dan sederhana: Al-Fatihah, lalu doa memohon surga dan berlindung dari neraka. Nabi ﷺ tidak menyalahkannya, bahkan membenarkan bahwa itulah yang menjadi fokus beliau dan Mu'adz.

Hikmah: Kejujuran dan kesederhanaan seorang hamba dalam beribadah lebih baik daripada berlebihan namun tidak memahami. Nabi ﷺ mengajarkan bahwa inti dari shalat adalah menghadap Allah dengan hati yang tulus, bukan sekadar panjangnya bacaan atau indahnya suara.

Kesimpulan Praktis

  1. Jaga Al-Fatihah di setiap rakaat shalat, karena ia adalah rukun yang tidak boleh ditinggalkan.
  2. Berdoalah dengan tulus memohon surga dan berlindung dari neraka, karena itu adalah doa yang paling utama dan menjadi fokus Nabi ﷺ.
  3. Jangan berlebihan dalam shalat hingga memberatkan diri sendiri atau orang lain, terutama saat menjadi imam.
  4. Ikuti tuntunan Nabi ﷺ dalam shalat, karena shalat yang diterima adalah yang sesuai dengan sunnah beliau.
  5. Perbaiki kualitas shalat, bukan hanya kuantitas — hadirkan hati dan pahami apa yang dibaca.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?