Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits riwayat Abu Dawud no. 783 dari 'Aisyah رضي الله عنها ini menjelaskan tata cara shalat Nabi ﷺ secara ringkas: beliau membuka shalat dengan takbiratul ihram, membaca Al-Fatihah (yang dimulai dengan "Alhamdulillahi Rabbil 'alamin"), menjaga posisi kepala saat ruku (tidak mendongak dan tidak menunduk), tuma'ninah (tenang) saat bangkit dari ruku dan sujud, membaca tasyahud setiap dua rakaat, duduk iftirasy, dan menutup shalat dengan salam. Hadits ini juga memuat larangan duduk seperti setan dan membentangkan tangan seperti binatang buas saat sujud.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an terkait:
QS. Al-Fatihah [1]: 2
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Terjemahan: "Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam."
Hadits terkait:
- Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 783) dari 'Aisyah رضي الله عنها, melalui jalur Husain al-Mu'allim dari Budail bin Maisarah dari Abu al-Jauza' dari 'Aisyah.
- Hadits senada juga diriwayatkan Muslim bin al-Hajjaj dalam Shahih-nya (no. 498) dengan lafaz serupa, dan At-Tirmidzi (no. 240) yang menilainya hasan shahih.
Kaitan dengan ulama:
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil bahwa bacaan shalat dibuka dengan Al-Fatihah, dan bahwa basmalah tidak dibaca jahr (keras) — sesuai judul bab Abu Dawud.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menukil bahwa hadits ini menunjukkan sunnahnya membaca Al-Fatihah sebagai pembuka bacaan.
- Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menjadikan hadits ini sebagai salah satu rujukan utama sifat shalat Nabi ﷺ.
Penjelasan Rinci
1. Pembukaan shalat dengan takbir
Nabi ﷺ membuka shalat dengan takbiratul ihram. Ini menunjukkan bahwa shalat tidak sah tanpa takbiratul ihram, sebagaimana sabda beliau dalam hadits lain: "Kunci shalat adalah bersuci, pembukanya adalah takbir, dan penutupnya adalah salam." Ibn Qayyim menegaskan bahwa takbiratul ihram adalah rukun yang tidak boleh ditinggalkan.
2. Bacaan dibuka dengan Al-Fatihah
' Aisyah menyebutkan bahwa bacaan Nabi ﷺ dibuka dengan "الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ". Ini menjadi dalil yang kuat — sebagaimana dijelaskan Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar — bahwa basmalah tidak dibaca secara jahr, dan bahwa yang menjadi pembuka bacaan adalah Al-Fatihah. Judul bab Abu Dawud sendiri: "Bab Siapa yang Tidak Melihat Bacaan Bismillah" mengisyaratkan hal ini.
3. Posisi kepala saat ruku
Nabi ﷺ tidak mendongakkan kepala (syakhasha) dan tidak menundukkannya (shawwaba), tetapi menjaga kepala sejajar dengan punggung. Ibn Qayyim menjelaskan ini adalah sunnah yang sering dilupakan: kepala tidak lebih tinggi dan tidak lebih rendah dari punggung.
4. Tuma'ninah saat bangkit dari ruku dan sujud
Nabi ﷺ tidak langsung sujud sebelum berdiri tegak (i'tidal), dan tidak sujud kedua sebelum duduk dengan tenang (jalsah istirahat). Ibnu Hajar menegaskan ini adalah dalil wajibnya tuma'ninah dalam setiap perpindahan gerakan shalat.
5. Tasyahud setiap dua rakaat
Nabi ﷺ membaca tasyahud pada setiap dua rakaat — baik pada shalat dua rakaat, empat rakaat, maupun tiga rakaat. Imam an-Nawawi menjelaskan ini menunjukkan tasyahud awal pada shalat tiga/empat rakaat.
6. Duduk iftirasy
Nabi ﷺ duduk dengan menghamparkan kaki kiri dan menegakkan kaki kanan. Ini disebut duduk iftirasy, sebagaimana dijelaskan Ibnu Hajar dan Ibn Qayyim.
7. Larangan duduk seperti setan dan membentangkan tangan seperti binatang
- "Duduk seperti setan" (عَقِبِ الشَّيْطَانِ) adalah duduk di atas tumit atau menempelkan perut ke tanah seperti cara duduk setan — dijelaskan Ibn Qayyim sebagai duduk yang menyerupai hewan buas.
- "Membentangkan tangan seperti binatang" (فِرْشَةِ السَّبُعِ) adalah meletakkan kedua lengan di tanah saat sujud seperti singa atau binatang buas. Ibnu Hajar dan an-Nawawi menjelaskan sunnahnya mengangkat kedua lengan dari tanah saat sujud.
8. Penutup shalat dengan salam
Nabi ﷺ menutup shalat dengan salam. Ibn Qayyim menegaskan salam adalah penutup shalat yang tidak boleh ditinggalkan.
Perbedaan pendapat ulama daftar:
- Tentang basmalah: Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad berpendapat basmalah dibaca sirr (lirih) dalam shalat jahr. Imam Abu Hanifah berpendapat basmalah dibaca sirr juga. Imam Malik berpendapat tidak dibaca sama sekali dalam shalat fardhu. Yang paling kuat menurut dalil hadits 'Aisyah ini dan hadits Anas bin Malik (riwayat Muslim) adalah basmalah dibaca sirr, sebagaimana dikuatkan Ibnu Hajar dan an-Nawawi.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa 'Aisyah رضي الله عنها — istri Nabi ﷺ yang paling banyak meriwayatkan hadits tentang sifat shalat beliau — suatu hari ditanya oleh para tabi'in tentang bagaimana shalat Rasulullah ﷺ. Beliau menjawab dengan rincian yang sangat teliti, seolah beliau sedang "memperagakan" shalat Nabi ﷺ di hadapan para penanya. Di antara yang mendengar penjelasan beliau adalah Abu al-Jauza' (seorang tabi'in), yang kemudian menyampaikannya kepada Budail bin Maisarah, lalu kepada Husain al-Mu'allim, hingga sampai kepada Imam Abu Dawud.
Al-Hasan al-Bashri pernah berkata: "Shalat adalah amalan yang paling pertama dihisab, dan 'Aisyah adalah sebaik-baik wanita yang menjelaskan sunnah Nabi ﷺ dalam shalat." Hikmahnya: betapa pentingnya meriwayatkan dan menjaga sunnah Nabi ﷺ dalam ibadah, dan betapa besar peran 'Aisyah dalam menyampaikan ilmu kepada umat.
Kesimpulan Praktis
- Mulailah shalat dengan takbiratul ihram — jangan mendahului atau mengakhirinya.
- Bacalah Al-Fatihah sebagai pembuka bacaan — basmalah dibaca sirr menurut pendapat yang kuat.
- Jaga posisi kepala saat ruku — sejajar dengan punggung, tidak mendongak, tidak menunduk.
- Tuma'ninah dalam setiap gerakan — jangan terburu-buru saat i'tidal dan duduk antara dua sujud.
- Bacalah tasyahud setiap dua rakaat — termasuk tasyahud awal pada shalat tiga/empat rakaat.
- Duduklah dengan iftirasy — hamparkan kaki kiri, tegakkan kaki kanan.
- Jangan duduk seperti setan dan jangan membentangkan tangan seperti binatang saat sujud.
- Tutup shalat dengan salam.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.