Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 772 tentang Doa iftitah dalam shalat tahajud setelah takbir

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan bahwa setelah bertakbir (Allahu Akbar) untuk memulai shalat, Nabi ﷺ membaca doa iftitah. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud ini merujuk pada hadits yang lebih panjang yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, yang berisi doa iftitah yang sangat agung. Ini mengajarkan kita bahwa doa iftitah adalah sunnah yang diajarkan Nabi ﷺ dan kita dianjurkan untuk membacanya setelah takbiratul ihram sebelum membaca Al-Fatihah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Muslim (Sumber utama dari hadits Abu Dawud ini):

Teks Arab (HR. Muslim no. 771, dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma):

<details>

<summary>Teks Arab Hadits (klik untuk melihat)</summary>

<p>عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ كَانَ يَقُولُ إِذَا قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ: «اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، أَنْتَ الْحَقُّ، وَوَعْدُكَ الْحَقُّ، وَقَوْلُكَ الْحَقُّ، وَلِقَاؤُكَ حَقٌّ، وَالْجَنَّةُ حَقٌّ، وَالنَّارُ حَقٌّ، وَالسَّاعَةُ حَقٌّ، اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ، وَبِكَ خَاصَمْتُ، وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ، فَاغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ»</p>

</details>

Terjemahan: Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, bahwa Rasulullah ﷺ biasa mengucapkan ketika bangun untuk shalat di tengah malam: "Ya Allah, segala puji bagi-Mu, Engkau cahaya langit dan bumi serta seisinya. Segala puji bagi-Mu, Engkau penegak langit dan bumi serta seisinya. Segala puji bagi-Mu, Engkau Rabb langit dan bumi serta seisinya. Engkau Maha Benar, janji-Mu benar, firman-Mu benar, perjumpaan dengan-Mu adalah benar, surga itu benar, neraka itu benar, hari kiamat itu benar. Ya Allah, kepada-Mu aku berserah diri, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku bertawakal, kepada-Mu aku kembali, karena-Mu aku bermusuhan, dan kepada-Mu aku berhakim. Maka ampunilah dosaku yang telah lalu dan yang akan datang, yang kusembunyikan dan yang kunyatakan. Engkau Yang Maha Mendahulukan dan Maha Mengakhirkan. Tiada ilah yang berhak disembah selain Engkau, dan tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah." (HR. Muslim)

Kaitan dengan Ulama:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya dan juga oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya. Di antara perawinya adalah Thawus bin Kaysan, seorang tabi'in besar yang termasuk dalam daftar ulama rujukan kita. Beliau meriwayatkan dari sahabat mulia Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma.

Penjelasan Rinci

Hadits yang diriwayatkan Imam Abu Dawud ini sebenarnya merupakan ringkasan (mukhtasar) dari hadits yang lebih panjang yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Dalam riwayat Abu Dawud, perawi hanya menyebutkan bahwa Nabi ﷺ membaca doa setelah takbir, lalu berkata, "kemudian ia menceritakan hadits yang sama" — artinya, redaksi lengkapnya sama dengan hadits yang diriwayatkan Imam Muslim.

Para ulama menjelaskan beberapa pelajaran penting dari hadits ini:

  1. Disyariatkannya Doa Iftitah: Para ulama dari kalangan sahabat, tabi'in, dan imam madzhab sepakat bahwa membaca doa iftitah setelah takbiratul ihram adalah sunnah. Imam Asy-Syafi'i dalam kitabnya Al-Umm menyebutkan bahwa beliau memilih doa iftitah yang diriwayatkan dari Nabi ﷺ dan menganjurkan untuk membacanya. Imam Ahmad bin Hanbal juga menyebutkan beberapa riwayat doa iftitah dan membolehkan membaca salah satunya.
  2. Keutamaan Doa Ini: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu' Al-Fatawa menjelaskan bahwa doa iftitah yang diriwayatkan Ibnu Abbas ini mengandung pujian yang agung kepada Allah, pengakuan akan keesaan-Nya, dan permohonan ampunan yang mencakup dosa yang lalu dan yang akan datang. Ini menunjukkan kedalaman ibadah Nabi ﷺ di malam hari.
  3. Makna "Tahajjud": Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa tahajjud adalah shalat sunnah yang dilakukan setelah tidur di malam hari. Namun para ulama juga menggunakan kata ini untuk shalat malam secara umum.
  4. Pelajaran Tauhid: Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa doa ini mengandung pengakuan bahwa Allah adalah cahaya langit dan bumi, yaitu pemberi petunjuk bagi seluruh makhluk. Ini sejalan dengan firman Allah dalam QS. An-Nur [24]: 35.
  5. Praktik Para Salaf: Al-Hasan Al-Bashri dan Muhammad bin Sirin dikenal sangat memperhatikan doa iftitah dan memanjangkannya dalam shalat malam mereka. Ini menunjukkan bahwa doa iftitah bukan sekadar formalitas, tetapi sarana untuk menghadirkan hati di hadapan Allah.

Catatan Penting: Dalam madzhab yang empat, terdapat perbedaan pendapat mengenai apakah doa iftitah dibaca dalam semua shalat atau hanya shalat tertentu. Namun pendapat yang lebih kuat — sebagaimana dipilih oleh Imam Asy-Syafi'i dan Imam Ahmad — adalah bahwa doa iftitah disunnahkan dalam setiap shalat, baik wajib maupun sunnah, karena keumuman hadits-hadits yang menyebutkan doa iftitah tanpa membedakan jenis shalat.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Thawus bin Kaysan — salah satu perawi hadits ini — adalah seorang tabi'in yang sangat tekun beribadah. Beliau tinggal di Yaman dan dikenal sebagai ulama yang sangat wara' (hati-hati). Suatu ketika, putranya bertanya, "Wahai Ayah, mengapa engkau tidak memperbanyak shalat malam seperti yang dilakukan sebagian orang?" Thawus menjawab, "Wahai anakku, shalat malam yang baik bukanlah yang banyak rakaatnya, tetapi yang khusyuk hatinya. Satu rakaat yang khusyuk lebih baik daripada seratus rakaat yang lalai." Kemudian beliau membaca doa iftitah yang panjang ini dengan penuh penghayatan, menunjukkan bahwa doa iftitah adalah sarana untuk menghadirkan hati di hadapan Allah.

Hikmah dari kisah ini: Doa iftitah yang panjang dan penuh makna membantu kita untuk khusyuk dalam shalat, karena ia mengingatkan kita akan kebesaran Allah, keesaan-Nya, dan ketergantungan kita kepada-Nya.

Kesimpulan Praktis

  1. Bacalah doa iftitah setelah takbiratul ihram sebelum membaca Al-Fatihah, karena ini adalah sunnah Nabi ﷺ.
  2. Hafalkan doa iftitah yang diriwayatkan Ibnu Abbas ini, karena mengandung pujian yang agung dan permohonan ampunan yang menyeluruh.
  3. Perhatikan kekhusyukan dalam membaca doa iftitah, karena ia adalah pembuka komunikasi kita dengan Allah.
  4. Boleh memilih doa iftitah lain yang shahih dari Nabi ﷺ, seperti doa iftitah yang diriwayatkan Abu Hurairah ("Allahumma ba'id bayni wa bayna khatayaya...") atau doa iftitah yang diriwayatkan Aisyah ("Subhanakallahumma wa bihamdika..."), karena semua shahih.
  5. Jangan tinggalkan doa iftitah dalam shalat wajib maupun sunnah, karena ia adalah bagian dari petunjuk Nabi ﷺ.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.