Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ membuka shalat dengan takbir, lalu memuji Allah dengan kalimat "Allāhu Akbar kabīrā" tiga kali dan "Alhamdulillāh katsīrā" tiga kali, serta tasbih pagi-petang, kemudian membaca ta'awudz dengan lafaz khusus: berlindung dari nafkh (kesombongan), nafth (syair), dan hamz (kegilaan/bisikan setan). Ini adalah salah satu bentuk doa istiftah (pembuka shalat) yang diajarkan Nabi ﷺ, dan para ulama menjelaskan maknanya secara rinci.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. Al-A'raf [7]: 200
فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
Terjemahan: "Maka apabila engkau membaca Al-Qur'an, berlindunglah kepada Allah dari setan yang terkutuk."
QS. Al-Mu'minun [23]: 97-98
وَقُلْ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُونِ
Terjemahan: "Dan katakanlah: 'Ya Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari bisikan-bisikan setan. Dan aku berlindung kepada-Mu, ya Tuhanku, dari kehadiran mereka (padaku).'"
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Jubair bin Muth'im dari ayahnya (Jubair bin Muth'im), dalam Sunan Abu Dawud no. 764, kitab Shalat. Perawi lain seperti At-Tirmidzi dan An-Nasa'i juga meriwayatkan hadits serupa. Al-Albani menilai hadits ini shahih dalam Shahih Abu Dawud.
Kaitan dengan ulama:
- Imam an-Nawawi dalam Al-Majmu' dan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari membahas doa istiftah dan variasi lafaznya.
- Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menyebutkan bahwa Nabi ﷺ memiliki beberapa lafaz istiftah yang berbeda-beda sesuai keadaan.
- As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan makna ta'awudz dan permohonan perlindungan dari gangguan setan.
Penjelasan Rinci
1. Kedudukan hadits dan konteksnya
Hadits ini termasuk dalam bab doa pembuka shalat (istiftah). Jubair bin Muth'im radhiyallahu 'anhu melihat Nabi ﷺ shalat dan mendengar beliau membuka dengan lafaz tersebut. Amr bin Murrah (perawi) berkata ia tidak tahu shalat apa yang sedang dikerjakan Nabi ﷺ — ini menunjukkan bahwa lafaz istiftah ini bisa dipakai dalam shalat fardhu maupun sunnah.
2. Makna lafaz doa
- "اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا" (Allāhu Akbar kabīrā) — diulang tiga kali. Maknanya: Allah Maha Besar dengan kebesaran yang sempurna. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa pengulangan tiga kali menunjukkan penegasan dan kesungguhan dalam mengagungkan Allah.
- "وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا" (wal-hamdu lillāhi katsīrā) — diulang tiga kali. Maknanya: segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak. Imam an-Nawawi dalam Al-Adzkar menyebutkan bahwa pengulangan ini mencontohkan kesungguhan dalam memuji Allah saat membuka shalat.
- "وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً" (wa subhānallāhi bukratan wa ashīlā) — Maha Suci Allah di pagi dan petang. Ini diambil dari QS. Al-Ahzab [33]: 42 dan QS. Ar-Rum [30]: 17-18. Ibn Katsir menjelaskan bahwa tasbih pagi-petang mencakup seluruh waktu, karena pagi dan petang mewakili dua ujung siang.
3. Makna ta'awudz khusus dalam hadits ini
Nabi ﷺ membaca: "أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ مِنْ نَفْخِهِ وَنَفْثِهِ وَهَمْزِهِ"
- Nafkh (نَفْخ) — dijelaskan sebagai kesombongan (al-kibr). Ibn Qayyim dalam Zadul Ma'ad menjelaskan bahwa kesombongan adalah hembusan setan ke dalam hati manusia, sebagaimana Nabi ﷺ bersabda dalam hadits lain bahwa kesombongan adalah "menolak kebenaran dan merendahkan manusia" (HR. Muslim).
- Nafth (نَفْث) — dijelaskan sebagai syair (asy-syi'r). Para ulama seperti Ibnu Hajar menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah syair yang melalaikan dari dzikir dan Al-Qur'an, bukan semua syair. Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Sesungguhnya sebagian syair itu mengandung hikmah" — sehingga yang dicela adalah syair yang melalaikan.
- Hamz (هَمْز) — dijelaskan sebagai kegilaan (al-mautah) atau bisikan yang menyebabkan kegoncangan jiwa. As-Sa'di dalam tafsirnya atas QS. Al-Mu'minun [23]: 97 menjelaskan bahwa hamzāt asy-syayāthīn adalah bisikan dan dorongan setan yang menggoncang hati manusia.
4. Perbedaan pendapat ulama daftar
Para ulama berbeda pendapat tentang lafaz istiftah yang paling utama:
- Imam Ahmad bin Hanbal dan Ishaq bin Rahuyah cenderung memilih lafaz yang ada dalam hadits ini dan hadits Ali bin Abi Thalib (yang juga menyebut nafkh, nafth, hamz).
- Imam asy-Syafi'i dalam Al-Umm memilih lafaz "Subhānakallāhumma wa bihamdika..." (hadits Abu Sa'id al-Khudri).
- Imam Abu Hanifah memilih lafaz "Subhānakallāhumma..." juga.
Yang paling kuat menurut dalil: Semua lafaz istiftah yang shahih dari Nabi ﷺ boleh dipakai, dan yang lebih utama adalah mengikuti lafaz yang sesuai dengan hadits yang shahih. Al-Albani dalam Shifat ash-Shalah menyebutkan bahwa Nabi ﷺ mengajarkan beberapa lafaz istiftah dan semuanya boleh diamalkan. Ibn Qayyim dalam Zadul Ma'ad juga menyebutkan variasi-variasi ini dan menyatakan bahwa semuanya sah.
Story Telling
Jubair bin Muth'im radhiyallahu 'anhu adalah seorang pemuka Quraisy yang awalnya belum masuk Islam. Ia pernah mendengar Nabi ﷺ membaca QS. At-Tur [52] dan hatinya bergetar. Setelah Perang Badar, ia datang untuk menebus tawanan, dan ketika mendengar Nabi ﷺ membaca surat At-Tur dalam shalat Maghrib, ia berkata: "Hampir saja hatiku terbang." (HR. Al-Bukhari). Ia kemudian masuk Islam dan meriwayatkan hadits-hadits tentang shalat Nabi ﷺ, termasuk hadits ini. Hikmahnya: mendengarkan bacaan Nabi ﷺ dengan hati yang hadir bisa menjadi sebab hidayah, dan doa-doa shalat yang kita ucapkan hendaknya diresapi maknanya, bukan sekadar lafaz.
Kesimpulan Praktis
- Boleh memakai lafaz istiftah ini dalam shalat fardhu maupun sunnah, karena haditsnya shahih menurut Al-Albani.
- Pahami makna ta'awudz khusus ini: berlindung dari kesombongan (nafkh), syair yang melalaikan (nafth), dan bisikan/kegilaan (hamz).
- Hadirkan hati saat mengucapkan takbir dan pujian, karena pengulangan tiga kali menunjukkan kesungguhan.
- Ikuti sunnah dengan memilih lafaz istiftah yang shahih, dan tidak perlu memaksakan satu lafaz saja jika ada variasi lain yang shahih.
- Jauhi kesombongan dalam shalat, karena itu adalah pintu masuk setan yang paling besar.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.