Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 696 tentang Jarak sutrah Nabi cukup untuk lewat kambing

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menggambarkan tuntunan praktis Nabi ﷺ dalam shalat, yaitu jarak antara tempat berdiri beliau dengan sutrah (pembatas shalat, berupa dinding atau tiang di depannya) kira-kira selebar tempat lewat seekor kambing. Ini menunjukkan bahwa seorang muslim yang shalat sendirian dianjurkan untuk mendekat kepada sutrahnya, tidak berjauhan, agar setan tidak dapat melintas di antara dirinya dan sutrah tersebut, dan agar shalatnya lebih sempurna.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Shalat, Bab Mendekat kepada Sutrah, nomor 696. Berikut teks haditsnya:

حَدَّثَنَا الْقَعْنَبِيُّ، وَالنُّفَيْلِيُّ، قَالاَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ أَبِي حَازِمٍ، قَالَ أَخْبَرَنِي أَبِي، عَنْ سَهْلٍ، قَالَ وَكَانَ بَيْنَ مُقَامِ النَّبِيِّ ﷺ وَبَيْنَ الْقِبْلَةِ مَمَرُّ عَنْزٍ

Artinya: "Sahl berkata: 'Jarak antara tempat di mana Nabi ﷺ berdiri dan qiblah (yaitu sutrah atau dinding masjid) adalah cukup untuk memungkinkan seekor kambing lewat.'" (HR. Abu Dawud no. 696)

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya secara ringkas, dari Sahl bin Sa'd as-Sa'idi radhiyallahu 'anhu. Dalam riwayat al-Bukhari disebutkan:

كَانَ بَيْنَ مُصَلَّى رَسُولِ اللهِ ﷺ وَبَيْنَ الْجِدَارِ مَمَرُّ الشَّاةِ

Artinya: "Jarak antara tempat shalat Rasulullah ﷺ dan dinding (masjid) adalah tempat lewat seekor kambing." (HR. al-Bukhari no. 496)

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan sunnahnya mendekat kepada sutrah. Sutrah adalah benda yang diletakkan di depan orang yang shalat sebagai pembatas, seperti dinding, tiang, tongkat, atau benda lain yang ditancapkan. Tujuannya adalah untuk mencegah orang lain lewat di depannya dan untuk menghalangi setan yang ingin mengganggu shalatnya.

Imam Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa jarak antara tempat shalat Nabi ﷺ dan dinding masjid Nabawi adalah sekitar tiga hasta atau kurang lebih 1,5 meter. Ini menunjukkan bahwa beliau shalat dekat dengan sutrah, tidak berjarak jauh.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin menjelaskan bahwa makna hadits ini adalah bahwa Nabi ﷺ biasa shalat dekat dengan dinding atau sutrah di depannya, dengan jarak yang cukup untuk lewat seekor kambing. Ini mengajarkan kita agar tidak shalat di tempat yang terlalu jauh dari sutrah, karena hal itu dapat menyebabkan orang lain lewat di depan kita dan mengganggu shalat.

Adapun hikmah dari mendekat kepada sutrah adalah:

  1. Menghalangi setan: Dalam hadits lain, Nabi ﷺ bersabda, "Apabila salah seorang di antara kalian shalat, maka hendaklah ia menghadap sutrah dan hendaklah ia mendekat kepadanya, karena sesungguhnya setan lewat di antara dia dan sutrahnya." (HR. Abu Dawud, dan dinilai shahih oleh Syaikh al-Albani)
  2. Mencegah orang lewat di depan: Dengan adanya sutrah, orang yang lewat di depan orang shalat akan terhalang dan tidak mengganggu kekhusyukan shalat.
  3. Menjaga kekhusyukan: Jarak yang dekat dengan sutrah membuat pandangan orang yang shalat lebih fokus dan tidak mudah teralihkan.

Imam asy-Syafi'i rahimahullah dalam al-Umm menjelaskan bahwa disunnahkan bagi orang yang shalat sendirian untuk meletakkan sutrah di depannya, baik berupa dinding, tongkat, atau benda lain yang layak. Beliau juga menyebutkan bahwa jarak antara orang yang shalat dan sutrahnya hendaknya tidak terlalu jauh, sebagaimana yang dicontohkan Nabi ﷺ.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah pernah ditanya tentang jarak ideal antara orang shalat dan sutrahnya. Beliau menjawab bahwa yang terpenting adalah adanya sutrah di depan orang yang shalat, dan jaraknya tidak terlalu jauh, sebagaimana contoh Nabi ﷺ yang jaraknya sekitar selebar tempat lewat kambing. Ini menunjukkan bahwa sutrah itu dekat, tidak berjauhan.

Story Telling

Diriwayatkan dari Sahl bin Sa'd as-Sa'idi radhiyallahu 'anhu, sahabat yang meriwayatkan hadits ini, bahwa ia adalah salah seorang sahabat yang banyak meriwayatkan tentang detail ibadah Nabi ﷺ. Ia hidup lama dan menyaksikan langsung bagaimana Nabi ﷺ shalat di masjid Nabawi.

Suatu ketika, Sahl bin Sa'd ditanya oleh para tabi'in tentang bentuk mimbar Nabi ﷺ dan bagaimana beliau shalat. Ia menjelaskan dengan detail, termasuk jarak antara tempat shalat beliau dan dinding masjid. Ini menunjukkan kecintaan para sahabat dalam memperhatikan dan menghafal setiap gerakan dan keadaan Nabi ﷺ dalam beribadah, sekecil apa pun detailnya.

Para tabi'in seperti Imam az-Zuhri dan lainnya sangat antusias menanyakan detail-detail seperti ini kepada para sahabat, karena mereka memahami bahwa dalam setiap detail ibadah Nabi ﷺ terdapat hikmah dan tuntunan yang berharga. Dari sini kita belajar bahwa memperhatikan detail ibadah sesuai sunnah adalah bagian dari kecintaan kepada Nabi ﷺ dan kesempurnaan dalam mengikuti beliau.

Kesimpulan Praktis

  1. Seorang muslim yang shalat sendirian atau menjadi imam dianjurkan untuk meletakkan sutrah di depannya, baik berupa dinding, tiang, tongkat, atau benda lain yang layak.
  2. Jarak antara orang yang shalat dan sutrahnya hendaknya dekat, sekitar selebar tempat lewat seekor kambing atau kurang lebih 1,5 meter, sebagaimana contoh Nabi ﷺ.
  3. Sutrah berfungsi untuk menghalangi setan dan mencegah orang lewat di depan orang yang shalat, sehingga kekhusyukan lebih terjaga.
  4. Jika shalat di masjid dan tidak memungkinkan untuk meletakkan sutrah karena sudah ada saf di depan, maka saf tersebut sudah dianggap sebagai sutrah.
  5. Hendaknya kita memperhatikan detail-detail ibadah sebagaimana yang dicontohkan Nabi ﷺ, karena dalam setiap detail tersebut terdapat hikmah dan kebaikan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?