Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 695 tentang Perintah mendekat ke sutrah saat shalat

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa ketika seseorang shalat menghadap sutrah (pembatas), hendaklah ia mendekat kepadanya. Tujuannya agar setan tidak dapat melintas di depannya dan mengganggu kekhusyukan shalatnya. Ini adalah sunnah yang ringan dilakukan namun besar manfaatnya untuk menjaga kualitas shalat.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits utama — Sunan Abu Dawud no. 695, Kitab Shalat, Bab Mendekat ke Sutrah:

Diriwayatkan dari Sahl bin Abu Hatsmah, dari Nabi ﷺ:

> إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ إِلَى سُتْرَةٍ فَلْيَدْنُ مِنْهَا لَا يَقْطَعُ الشَّيْطَانُ عَلَيْهِ صَلَاتَهُ

"Jika salah seorang di antara kalian shalat menghadap sutrah, hendaklah ia mendekat kepadanya, agar setan tidak memotong shalatnya."

Hadits pendukung — Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim:

Dari Abu Sa'id al-Khudri, Nabi ﷺ bersabda:

> إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَتِرْ وَلْيَدْنُ مِنْ سُتْرَتِهِ

"Jika salah seorang di antara kalian shalat, hendaklah ia memasang sutrah dan mendekat kepadanya." (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh al-Albani)

Ayat Al-Qur'an yang relevan — QS. Al-A'raf [7]: 27:

> يَا بَنِي آدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُم مِّنَ الْجَنَّةِ

"Wahai anak-anak Adam, janganlah sekali-kali setan menfitnah kalian sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua orang tua kalian dari surga."

Keterkaitan dengan ulama:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa mendekat ke sutrah adalah sunnah yang dianjurkan, dan jarak idealnya sekitar tiga hasta.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa mendekat ke sutrah mencegah setan melintas dan menjaga konsentrasi shalat.
  • Syeikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah menilai hadits ini hasan dan menguatkan maknanya.

Penjelasan Rinci

Makna hadits secara umum:

Hadits ini mengandung dua perintah:

  1. Mendekat ke sutrah — yaitu pembatas yang diletakkan di depan orang yang shalat, bisa berupa dinding, tiang, tongkat, atau bahkan punggung hewan tunggangan.
  2. Tujuan: agar setan tidak memotong shalat — yang dimaksud "memotong" di sini adalah melintas di antara orang yang shalat dan sutrahnya, sehingga mengganggu kekhusyukan.

Pemahaman ulama:

Imam an-Nawawi dalam al-Majmu' Syarh al-Muhadzdzab menjelaskan bahwa disunnahkan bagi orang yang shalat untuk mendekat ke sutrahnya, dengan jarak sekitar tiga hasta dari kaki hingga sutrah. Ini berdasarkan praktik Nabi ﷺ yang diriwayatkan dalam hadits-hadits shahih.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan hikmah mendekat ke sutrah:

  • Mencegah orang lain melintas di depannya
  • Menjaga pandangan agar tidak melihat hal-hal yang mengganggu
  • Menutup celah bagi setan untuk melintas

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa setan dari kalangan jin berusaha melintas di depan orang yang shalat jika tidak ada sutrah atau jika jaraknya terlalu jauh. Mendekat ke sutrah menutup celah ini.

Syeikh al-Albani dalam Tamam al-Minnah menegaskan bahwa hadits ini menunjukkan disyariatkannya mendekat ke sutrah, dan ini berlaku baik di masjid maupun di tempat lain.

Perbedaan pendapat:

Sebagian ulama berbeda pendapat tentang jarak ideal antara orang yang shalat dan sutrahnya:

  • Imam asy-Syafi'i dan Imam an-Nawawi: sekitar tiga hasta
  • Imam Ahmad bin Hanbal: tidak ada batasan pasti, yang penting mendekat
  • Ibnu Hajar al-Asqalani: jarak yang memungkinkan sujud dengan nyaman

Pendapat yang paling kuat adalah yang menyatakan bahwa mendekat ke sutrah hukumnya sunnah, dan jarak yang ideal adalah sekitar tiga hasta sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits shahih lainnya.

Catatan tentang sanad:

Imam Abu Dawud sendiri menyebutkan bahwa hadits ini memiliki beberapa jalur periwayatan yang berbeda. Ada yang meriwayatkan dari Sahl bin Abu Hatsmah, ada yang dari Sahl bin Sa'd, dan ada yang mursal. Namun secara keseluruhan, hadits ini hasan dan dapat dijadikan dalil.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Sahl bin Abu Hatsmah adalah salah satu sahabat yang meriwayatkan hadits ini. Beliau adalah termasuk sahabat yang ikut dalam Perang Badar.

Suatu ketika, Ibnu Umar — sahabat Nabi ﷺ yang terkenal sangat mengikuti sunnah — ketika shalat, beliau selalu berusaha mendekat ke sutrahnya hingga hampir menempel. Beliau berkata: "Aku melihat Rasulullah ﷺ melakukan demikian." (HR. al-Bukhari)

Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang jarak antara orang yang shalat dan sutrahnya. Beliau menjawab: "Yang penting adalah mendekat, karena itu yang diperintahkan." Dan beliau sendiri dalam shalatnya selalu berusaha mendekat ke sutrah.

Sufyan ats-Tsauri — salah satu ulama yang disebutkan dalam sanad hadits ini — dikenal sangat teliti dalam mengamalkan sunnah-sunnah yang ringan sekalipun. Beliau berkata: "Tidaklah aku tinggalkan suatu sunnah kecuali karena aku tidak mampu melakukannya."

Kesimpulan Praktis

  1. Mendekat ke sutrah adalah sunnah — ketika shalat, usahakan mendekat ke pembatas di depan, sekitar tiga hasta.
  2. Sutrah mencegah gangguan setan — baik dari kalangan jin maupun manusia yang melintas.
  3. Jangan biarkan celah terlalu lebar — karena setan berusaha melintas di antara orang yang shalat dan sutrahnya.
  4. Berlaku di mana saja — baik di masjid, rumah, maupun tempat terbuka.
  5. Jaga kekhusyukan — dengan mendekat ke sutrah, pandangan lebih terjaga dan hati lebih fokus.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?