Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 671 tentang Sempurnakan barisan shalat berjamaah dari depan ke belakang

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah perintah dari Nabi ﷺ untuk menyempurnakan shaf (barisan) shalat berjamaah, dimulai dari shaf yang paling depan, lalu shaf berikutnya secara berurutan. Jika ada kekurangan jumlah makmum, maka kekurangan itu terjadi di shaf yang paling belakang. Ini menunjukkan keutamaan shaf depan dan anjuran untuk bersegera meraihnya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Abu Dawud:

Teks hadits yang Anda sampaikan adalah sebagai berikut:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سُلَيْمَانَ الأَنْبَارِيُّ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ، - يَعْنِي ابْنَ عَطَاءٍ - عَنْ سَعِيدٍ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: " أَتِمُّوا الصَّفَّ الْمُقَدَّمَ ثُمَّ الَّذِي يَلِيهِ فَمَا كَانَ مِنْ نَقْصٍ فَلْيَكُنْ فِي الصَّفِّ الْمُؤَخَّرِ "

"Sempurnakanlah barisan yang di depan, kemudian yang berikutnya, dan jika ada kekurangan, biarkanlah di barisan yang terakhir." (HR. Abu Dawud, no. 671)

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i (no. 815) dan Imam Ahmad dalam Musnad-nya (no. 12845) dari jalur Qatadah dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu. Syaikh Al-Albani menilai hadits ini shahih dalam Shahih Abi Dawud.

Ayat Al-Qur'an yang Relevan:

Meskipun tidak ada ayat yang secara khusus membahas perintah menyempurnakan shaf, namun terdapat ayat yang memerintahkan untuk menjaga shalat secara umum dan berjamaah, di antaranya:

QS. Ali 'Imran [3]: 103

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

"Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai..."

Ayat ini menunjukkan perintah untuk bersatu dan tidak bercerai-berai, yang salah satu penerapannya dalam shalat berjamaah adalah dengan merapatkan dan menyempurnakan shaf.

Penjelasan Rinci

1. Makna Hadits Secara Umum

Hadits ini mengandung perintah yang jelas dari Nabi ﷺ agar kaum muslimin menyempurnakan shaf yang paling depan terlebih dahulu. Jika shaf pertama sudah penuh, barulah mengisi shaf kedua, dan seterusnya. Jika jumlah jamaah tidak genap untuk memenuhi semua shaf, maka kekurangannya dibiarkan di shaf yang paling belakang.

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna hadits ini adalah anjuran untuk bersegera ke shaf depan dan larangan berlambat-lambat sehingga shaf depan kosong. Beliau juga menyebutkan bahwa para ulama sepakat (ijma') tentang keutamaan shaf pertama dan seterusnya secara berurutan.

2. Keutamaan Shaf Depan

Banyak hadits lain yang menunjukkan keutamaan shaf depan. Di antaranya hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda:

لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الْأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لَاسْتَهَمُوا

"Seandainya manusia mengetahui apa yang ada pada adzan dan shaf pertama, kemudian mereka tidak mendapatkannya kecuali dengan mengundi, niscaya mereka akan mengundi." (HR. Al-Bukhari, no. 615)

Syaikh Al-Albani rahimahullah menjelaskan bahwa keutamaan shaf depan ini mencakup keutamaan pahala yang besar, kedekatan dengan imam, dan kesempatan mendengar bacaan imam dengan lebih jelas.

3. Penerapan dalam Berjamaah

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa perintah menyempurnakan shaf depan ini berlaku ketika makmum datang secara bertahap. Maka orang yang datang lebih awal berhak mengisi shaf depan, dan tidak boleh meninggalkan shaf depan kosong untuk mengambil tempat di belakang dengan alasan tertentu.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Riyadhush Shalihin menegaskan bahwa jika seseorang datang dan shaf depan masih kosong, maka ia wajib mengisi shaf tersebut. Tidak boleh ia langsung menempati shaf belakang, karena hal itu menyelisihi perintah Nabi ﷺ.

4. Hikmah di Balik Perintah Ini

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Zad al-Ma'ad menyebutkan bahwa hikmah penyempurnaan shaf dari depan adalah:

  • Menjaga kekompakan dan kerapian jamaah
  • Menghindari kekosongan yang dapat dimasuki setan
  • Menunjukkan semangat dalam kebaikan dan berlomba-lomba dalam ibadah
  • Memudahkan imam untuk mengontrol dan membimbing makmum

Story Telling

Diriwayatkan bahwa para sahabat radhiyallahu 'anhum sangat bersemangat dalam memperebutkan shaf pertama. Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu menceritakan:

"Rasulullah ﷺ sangat menyukai orang-orang Muhajirin dan Anshar untuk berada di shaf depan, sehingga mereka saling berebut untuk mendapatkannya. Dan mereka berselisih tentang siapa yang berhak berada di dekat beliau, maka beliau menenangkan mereka dan mengajarkan adab-adab shaf." (HR. Al-Bukhari secara mu'allaq)

Kisah ini menunjukkan betapa besarnya semangat para sahabat dalam meraih keutamaan shaf depan, namun tetap dalam bingkai adab dan ketertiban yang diajarkan Nabi ﷺ.

Kesimpulan Praktis

  1. Segera mengisi shaf depan ketika datang ke masjid, jangan memilih shaf belakang selama shaf depan masih kosong.
  2. Merapatkan dan meluruskan shaf karena hal ini termasuk menyempurnakan shalat.
  3. Tidak memotong shaf atau berjalan melewati orang yang sedang shalat untuk mencari tempat di shaf depan.
  4. Menjaga kekompakan dengan tidak membiarkan celah kosong di antara jamaah.
  5. Mengutamakan shaf kanan jika shaf depan sudah penuh, sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits lain.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?