Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 5233 tentang Adab menjawab panggilan dan kerendahan hati Rasulullah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menggambarkan adab dan kerendahan hati Nabi ﷺ yang sangat agung. Meskipun beliau adalah pemimpin tertinggi pasukan, kehidupannya sangat sederhana, bahkan pelana kudanya terbuat dari serabut kurma tanpa hiasan. Hadits ini juga mengajarkan adab menjawab panggilan dengan penuh semangat dan kesiapan, seperti yang dicontohkan Bilal bin Rabah radhiyallahu 'anhu ketika menjawab panggilan Nabi ﷺ dengan ucapan "Labbaik wa sa'daik" (aku penuhi panggilanmu dan aku bahagia melayanimu).

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Al-Adab, Bab "Fi Ar-Rajuli Yad'u Ar-Rajula Fa Yaqulu: Labbaik" (Bab Tentang Seorang Pria yang Memanggil Pria Lain dan Mengatakan: Labbaik), nomor 5233.

Berikut teks hadits dalam bahasa Arab (sebagaimana yang Anda sertakan):

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ، حَدَّثَنَا حَمَّادٌ، أَخْبَرَنَا يَعْلَى بْنُ عَطَاءٍ، عَنْ أَبِي هَمَّامٍ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ يَسَارٍ، أَنَّ أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْفِهْرِيَّ، قَالَ شَهِدْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ حُنَيْنًا فَسِرْنَا فِي يَوْمٍ قَائِظٍ شَدِيدِ الْحَرِّ فَنَزَلْنَا تَحْتَ ظِلِّ الشَّجَرَةِ فَلَمَّا زَالَتِ الشَّمْسُ لَبِسْتُ لأْمَتِي وَرَكِبْتُ فَرَسِي فَأَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ وَهُوَ فِي فُسْطَاطِهِ فَقُلْتُ السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ قَدْ حَانَ الرَّوَاحُ فَقَالَ " أَجَلْ " . ثُمَّ قَالَ " يَا بِلاَلُ قُمْ " . فَثَارَ مِنْ تَحْتِ سَمُرَةٍ كَأَنَّ ظِلَّهُ ظِلُّ طَائِرٍ فَقَالَ لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَأَنَا فِدَاؤُكَ . فَقَالَ " أَسْرِجْ لِي الْفَرَسَ " . فَأَخْرَجَ سَرْجًا دَفَّتَاهُ مِنْ لِيفٍ لَيْسَ فِيهِ أَشَرٌ وَلاَ بَطَرٌ فَرَكِبَ وَرَكِبْنَا . وَسَاقَ الْحَدِيثَ . قَالَ أَبُو دَاوُدَ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْفِهْرِيُّ لَيْسَ لَهُ إِلاَّ هَذَا الْحَدِيثُ وَهُوَ حَدِيثٌ نَبِيلٌ جَاءَ بِهِ حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ .

Terjemahan ringkas: Dari Abu Abdurrahman al-Fihri, ia berkata: "Aku ikut serta bersama Rasulullah ﷺ dalam perang Hunain. Kami berjalan di hari yang sangat panas. Kami berhenti di bawah naungan pohon. Ketika matahari telah condong (waktu zuhur), aku memakai baju besiku dan menaiki kudaku, lalu aku mendatangi Rasulullah ﷺ yang berada di kemahnya. Aku berkata: 'Assalamu'alaika ya Rasulullah wa rahmatullahi wa barakatuh, waktu berangkat telah tiba.' Beliau menjawab: 'Ya.' Kemudian beliau bersabda: 'Wahai Bilal, bangunlah.' Maka Bilal bangkit dari bawah pohon samurah, seakan-akan naungannya seperti naungan burung (karena sangat cepat dan ringan). Bilal berkata: 'Labbaik wa sa'daik, dan aku tebus engkau dengan diriku.' Beliau bersabda: 'Pasanglah pelana untuk kudaku.' Maka Bilal mengeluarkan pelana yang kedua sisinya terbuat dari serabut kurma, tidak ada padanya kesombongan dan kebanggaan. Maka beliau menunggang dan kami pun ikut menunggang..."

Imam Abu Dawud kemudian berkata: "Abu Abdurrahman al-Fihri tidak memiliki hadits selain hadits ini, dan ini adalah hadits yang mulia, dibawakan oleh Hammad bin Salamah."

Kaitan dengan ulama: Hadits ini dinilai sebagai hadits yang hasan atau shahih oleh para ulama. Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah dalam Shahih Abi Dawud menyebutkan bahwa hadits ini shahih. Adapun perawinya, Hammad bin Salamah adalah seorang perawi yang terkenal kuat dan teliti, salah satu ulama besar generasi tabi'in.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan beberapa pelajaran penting dari hadits ini:

1. Keadaan Perang Hunain dan Cuaca yang Panas

Perang Hunain terjadi pada bulan Syawal tahun 8 Hijriah, setelah penaklukan Makkah. Saat itu cuaca sangat panas, dan para sahabat tetap berjuang dalam keadaan sulit. Ini menunjukkan keikhlasan dan kesabaran para sahabat dalam berjihad di jalan Allah.

2. Adab Menjawab Panggilan

Ketika Nabi ﷺ memanggil Bilal, beliau langsung bangkit dengan cepat dan menjawab: "Labbaik wa sa'daik" (Aku penuhi panggilanmu dan aku bahagia melayanimu). Ini menunjukkan adab seorang bawahan kepada pemimpinnya, dan lebih utama lagi adab seorang sahabat kepada Nabinya ﷺ. Jawaban ini menunjukkan kesiapan total dan kebahagiaan dalam melayani.

Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah rahimahullah dalam kitabnya Madarijus Salikin menjelaskan bahwa jawaban "Labbaik" mengandung makna pengulangan dan peneguhan niat untuk memenuhi panggilan, sedangkan "Sa'daik" bermakna kebahagiaan dan kesungguhan dalam melayani.

3. Kerendahan Hati dan Kesederhanaan Nabi ﷺ

Bagian yang paling menakjubkan dalam hadits ini adalah pelana kuda Nabi ﷺ yang terbuat dari serabut kurma (lif), tanpa hiasan dan tanpa kemewahan. Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ adalah pemimpin yang paling zuhud terhadap dunia. Meskipun beliau adalah pemimpin umat dan panglima perang, beliau tidak memakai pelana yang mewah.

Imam Ibn Rajab al-Hanbali rahimahullah dalam kitabnya Jami'ul 'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa zuhud bukanlah berarti mengharamkan yang halal, tetapi zuhud adalah tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama, dan hati tidak terikat pada kemewahan dunia.

4. Makna "Tidak Ada Padanya Ashar dan Bathar"

Kata ashar berarti kesombongan dan keangkuhan, sedangkan bathar berarti kebanggaan yang berlebihan dan sikap melampaui batas karena merasa senang dengan dunia. Pelana Nabi ﷺ tidak memiliki keduanya, artinya beliau tidak memilih pelana yang bisa menimbulkan kesombongan.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa kesombongan adalah penyakit hati yang paling berbahaya. Nabi ﷺ sengaja memilih yang sederhana untuk mengajarkan umatnya agar tidak terjebak dalam kemewahan yang melalaikan.

5. Kisah Abu Abdurrahman al-Fihri

Imam Abu Dawud menjelaskan bahwa perawi hadits ini, Abu Abdurrahman al-Fihri, hanya memiliki satu hadits ini saja dari Nabi ﷺ. Namun haditsnya sangat mulia dan agung. Ini menunjukkan bahwa sedikitnya riwayat bukan berarti rendahnya kedudukan seseorang, karena yang terpenting adalah kualitas dan keikhlasan.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa ketika 'Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu menjadi khalifah, beliau tetap hidup sederhana. Suatu hari beliau berkhutbah dengan mengenakan jubah yang memiliki dua belas tambalan. Beliau berkata: "Aku tidak menginginkan dunia ini, dan dunia tidak akan memperbudakku."

Para ulama salaf sangat menjaga kesederhanaan ini. Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata: "Aku mendapati kaum (para sahabat) yang mereka lebih zuhud terhadap dunia daripada kalian terhadap debu." Ini menunjukkan bahwa kesederhanaan adalah ciri khas orang-orang yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir.

Kisah dalam hadits ini mengajarkan kita bahwa kemuliaan di sisi Allah bukan diukur dari kemewahan hidup, tetapi dari ketakwaan dan keikhlasan. Nabi ﷺ adalah manusia paling mulia di sisi Allah, namun hidupnya paling sederhana. Beliau tidak pernah merasa bahwa kemewahan adalah kebutuhan, karena hatinya telah dipenuhi oleh kecintaan kepada Allah dan kerinduan kepada akhirat.

Kesimpulan Praktis

  1. Meneladani kesederhanaan Nabi ﷺ dalam kehidupan sehari-hari, tidak berlebihan dalam hal-hal yang bersifat duniawi.
  2. Adab menjawab panggilan dengan penuh kesiapan dan kerendahan hati, seperti Bilal yang menjawab "Labbaik wa sa'daik".
  3. Menghindari kesombongan dalam penampilan dan harta, karena Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.
  4. Menjaga semangat beribadah dan berjuang meskipun dalam keadaan sulit, seperti para sahabat yang berjuang di hari yang sangat panas.
  5. Menghargai setiap hadits Nabi ﷺ, meskipun hanya satu hadits, karena itu adalah warisan berharga dari Rasulullah ﷺ.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?