Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 523 tentang Mengucapkan seperti muadzin, bershalawat, dan memohon wasilah

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan adab lengkap ketika mendengar adzan: (1) mengulang kalimat muadzin, (2) bershalawat kepada Nabi ﷺ, dan (3) memohonkan wasilah (kedudukan tertinggi di surga) untuk beliau. Barangsiapa melakukan hal ini, ia akan mendapatkan syafaat Nabi ﷺ di hari kiamat. Ini adalah keutamaan besar yang sayang jika dilewatkan setiap kali adzan berkumandang.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Shalat, Bab "Apa yang Diucapkan Ketika Mendengar Muadzin" (no. 523), dari sahabat Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiyallahu 'anhu. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 384) dengan lafaz yang semakna.

Dalil Al-Qur'an yang terkait:

Allah Ta'ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya." (QS. Al-Ahzab [33]: 56)

Kaitan dengan ulama:

Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil disunnahkannya mengulang kalimat muadzin, kemudian bershalawat, lalu berdoa memohonkan wasilah. Beliau juga menukil kesepakatan ulama tentang keutamaan wasilah dan syafaat ini.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung tiga rangkaian amalan yang berurutan dan saling berkaitan:

Pertama: Mengulang kalimat muadzin. Para ulama menjelaskan bahwa ketika mendengar adzan, kita disunnahkan mengucapkan seperti yang diucapkan muadzin, kecuali pada kalimat "Hayya 'alash shalah" dan "Hayya 'alal falah" (marilah menuju shalat, marilah menuju kemenangan), maka kita mengucapkan "La haula wala quwwata illa billah" (tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Ini berdasarkan hadits shahih dari Umar bin Khathab radhiyallahu 'anhu yang diriwayatkan Imam Muslim. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menegaskan bahwa sunnah ini berlaku baik dalam keadaan suci maupun berhadats, karena dzikir tidak disyaratkan suci.

Kedua: Bershalawat kepada Nabi ﷺ. Setelah mengulang kalimat adzan, kita diperintahkan bershalawat. Imam Ibnul Qayyim dalam Jala'ul Afham menjelaskan hikmahnya: karena adzan adalah panggilan untuk mengagungkan Allah, maka setelahnya kita mengagungkan Rasul-Nya dengan shalawat. Balasannya sangat besar—satu shalawat dibalas sepuluh rahmat dari Allah. Ini menunjukkan betapa luasnya karunia Allah kepada hamba-Nya yang mendoakan Nabi-Nya.

Ketiga: Memohonkan wasilah untuk Nabi ﷺ. Wasilah adalah kedudukan tertinggi di surga yang khusus hanya untuk satu orang hamba Allah, dan Nabi ﷺ berharap beliau adalah orang tersebut. Doa yang diajarkan adalah:

اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ

"Ya Allah, Rabb pemilik seruan yang sempurna ini dan shalat yang akan didirikan, berikanlah kepada Muhammad wasilah dan keutamaan, dan bangkitkanlah dia di maqam terpuji yang telah Engkau janjikan."

Imam Al-Bukhari meriwayatkan hadits dari Jabir bin Abdillah bahwa barangsiapa membaca doa ini, ia berhak mendapatkan syafaat Nabi ﷺ di hari kiamat. Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam Tuhfatul Ikhwan menjelaskan bahwa syafaat yang dimaksud di sini adalah syafaat al-'uzhma (syafaat besar) ketika manusia kebingungan di padang mahsyar, dan ini adalah keutamaan yang sangat agung.

Catatan penting: Para ulama menjelaskan bahwa amalan ini dilakukan setiap kali mendengar adzan, baik adzan untuk shalat fardhu maupun selainnya. Namun jika seseorang berada di masjid dan ingin menjawab adzan, ia tetap menjawabnya, dan ini tidak bertentangan dengan shalat sunnah rawatib yang dikerjakan sebelum shalat fardhu.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiyallahu 'anhu—perawi hadits ini—adalah sahabat yang sangat bersemangat dalam beribadah dan menuntut ilmu. Suatu hari, beliau mendengar Rasulullah ﷺ bersabda tentang wasilah ini, dan beliau pun sangat memperhatikannya. Para ulama menyebutkan bahwa Abdullah bin Amr termasuk sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits tentang keutamaan adzan dan shalawat, karena beliau menyadari betapa besar keutamaan yang terkandung di dalamnya.

Dari sini kita belajar: para sahabat tidak pernah meremehkan amalan-amalan ringan yang diajarkan Nabi ﷺ, karena mereka memahami bahwa kebaikan sekecil apa pun tetap bernilai besar di sisi Allah. Abdullah bin Amr bahkan menulis hadits-hadits Nabi ﷺ dengan izin beliau, sebagaimana disebutkan dalam Sunan Abu Dawud, agar ilmunya tidak hilang.

Kesimpulan Praktis

  1. Jawablah adzan dengan mengulang kalimat muadzin, kecuali pada "hayya 'alash shalah" dan "hayya 'alal falah" maka ucapkan "la haula wala quwwata illa billah".
  2. Bershalawatlah kepada Nabi ﷺ setelah selesai menjawab adzan, karena satu shalawat dibalas sepuluh rahmat.
  3. Berdoalah memohonkan wasilah untuk Nabi ﷺ dengan doa yang diajarkan, agar kita berhak mendapatkan syafaat beliau di hari kiamat.
  4. Amalkan ini setiap kali mendengar adzan, baik di rumah, di masjid, maupun di tempat kerja, karena keutamaannya sangat besar.
  5. Ajarkanlah adab ini kepada keluarga dan anak-anak, agar mereka tumbuh dalam kecintaan kepada Nabi ﷺ dan menghidupkan sunnah beliau.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.