Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 5226 tentang Adab menjawab panggilan dengan kesiapan dan penghormatan

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan adab seorang sahabat, Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, ketika dipanggil oleh Nabi ﷺ. Beliau menjawab dengan penuh semangat dan kerendahan hati, "Labbaik wa sa'daik, ya Rasulullah, wa ana fida'uka" (Aku penuhi panggilanmu, aku bahagia melayanimu, wahai Rasulullah, dan semoga aku menjadi tebusanmu). Jawaban ini mengajarkan kita adab yang indah: bersegera memenuhi panggilan orang yang lebih mulia, mengungkapkan kesiapan melayani, dan merendahkan diri di hadapan orang yang kita hormati karena cinta karena Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Abu Dawud:

Teks Arab hadits (sebagaimana yang Anda cantumkan, dengan harakat):

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ، حَدَّثَنَا حَمَّادٌ، ح وَحَدَّثَنَا مُسْلِمٌ، حَدَّثَنَا هِشَامٌ، عَنْ حَمَّادٍ، - يَعْنِيَانِ ابْنَ أَبِي سُلَيْمَانَ - عَنْ زَيْدِ بْنِ وَهْبٍ، عَنْ أَبِي ذَرٍّ، قَالَ قَالَ النَّبِيُّ ﷺ " يَا أَبَا ذَرٍّ " . فَقُلْتُ لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَأَنَا فِدَاؤُكَ .

Terjemahan: Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: "Nabi ﷺ bersabda: 'Wahai Abu Dzar!' Maka aku menjawab: 'Aku penuhi panggilanmu dan aku bahagia melayanimu, wahai Rasulullah, dan semoga aku menjadi tebusanmu.'" (HR. Abu Dawud no. 5226)

Kaitan dengan Ulama:

Imam Abu Dawud as-Sijistani (w. 275 H) memuat hadits ini dalam Sunan-nya, Kitab Adab, Bab tentang seorang lelaki yang berkata: "Semoga Allah menjadikan aku tebusanmu." Ini menunjukkan bahwa para ulama memperhatikan adab-adab kecil dalam ucapan sehari-hari, termasuk ungkapan penghormatan seperti ini.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:

  1. Adab Menjawab Panggilan: Jawaban Abu Dzar "Labbaik wa sa'daik" adalah ungkapan yang menunjukkan kesiapan total dan kebahagiaan dalam memenuhi panggilan. Ini adalah bentuk adab yang diajarkan Nabi ﷺ dan dipraktikkan para sahabat. Imam Al-Khathabi (dalam Ma'alim as-Sunan, syarah Sunan Abu Dawud) menjelaskan bahwa makna "Labbaik" adalah "aku menetap di hadapanmu dan terus menerus memenuhi panggilanmu," sedangkan "Sa'daik" berarti "aku berbahagia dengan ketaatan dan pelayanan kepadamu." Ini menunjukkan kerendahan hati dan cinta yang tulus.
  2. Ungkapan "Fida'uka" (Tebusanmu): Ungkapan "wa ana fida'uka" (semoga aku menjadi tebusanmu) adalah bentuk penghormatan yang tinggi. Ini bukanlah doa agar dirinya celaka, melainkan ungkapan cinta dan pengagungan, bahwa ia rela mengorbankan dirinya demi keselamatan orang yang dicintainya. Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menyebutkan bahwa para sahabat sering menggunakan ungkapan ini kepada Nabi ﷺ sebagai bentuk cinta dan pengagungan yang murni, karena mereka tahu Nabi ﷺ adalah manusia paling mulia dan paling berharga bagi mereka.
  3. Bolehnya Mengucapkan Ungkapan Penghormatan: Hadits ini menunjukkan bahwa mengucapkan ungkapan penghormatan seperti "fida'uka" (tebusanmu) kepada orang yang dimuliakan adalah boleh, selama tidak mengandung unsur syirik atau melebihi batas dalam pengagungan. Imam Abu Dawud meletakkan bab ini untuk menjelaskan bahwa hal ini diperbolehkan. Namun, para ulama juga mengingatkan agar pengagungan ini tidak berlebihan hingga meniru cara orang-orang musyrik dalam mengagungkan sesembahan mereka.
  4. Keutamaan Abu Dzar: Hadits ini juga menunjukkan kedudukan Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu. Beliau adalah sahabat yang jujur dan zuhud. Jawabannya yang penuh adab ini menjadi teladan bagi kita dalam berinteraksi dengan orang yang lebih tua, lebih berilmu, atau pemimpin yang adil.

Story Telling

Abu Dzar al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu adalah seorang sahabat yang terkenal dengan kejujuran dan keberaniannya dalam menyampaikan kebenaran. Sebelum masuk Islam, ia adalah seorang yang pemberani. Ketika mendengar tentang seorang Nabi di Makkah, ia langsung pergi mencarinya, meskipun saudaranya melarangnya karena takut akan bahaya. Ia berkata kepada saudaranya, "Tunjukkan aku kepadanya." Akhirnya ia bertemu Nabi ﷺ dan masuk Islam pada masa awal dakwah.

Kisah ini menunjukkan bahwa cinta Abu Dzar kepada Nabi ﷺ bukanlah cinta yang kosong. Ia rela menempuh bahaya demi mencari kebenaran. Maka ketika Nabi ﷺ memanggilnya, jawabannya "Labbaik wa sa'daik, wa ana fida'uka" keluar dari hati yang penuh keikhlasan dan cinta. Hikmahnya: adab yang baik lahir dari hati yang bersih dan cinta yang tulus kepada kebaikan.

Kesimpulan Praktis

  1. Bersegera dan Berbahagia dalam memenuhi panggilan orang tua, guru, atau pemimpin yang adil, selama bukan dalam kemaksiatan.
  2. Gunakan Ungkapan yang Baik saat menjawab panggilan, seperti "Labbaik" (aku penuhi) atau ungkapan lain yang menunjukkan kesiapan dan kerendahan hati.
  3. Jaga Adab dalam Ucapan karena ini adalah bagian dari akhlak mulia yang dicontohkan Nabi ﷺ dan para sahabat.
  4. Tidak Berlebihan dalam Memuji manusia, karena pujian yang berlebihan dilarang, namun ungkapan penghormatan yang wajar dan tulus adalah bagian dari adab.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?