Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan dua pelajaran utama: pertama, bolehnya mencium tangan dan kaki Nabi ﷺ sebagai bentuk penghormatan dan kecintaan para sahabat, dan kedua, pujian Nabi ﷺ kepada Al-Mundhir bin 'Amr Al-Asyajj karena memiliki dua sifat mulia, yaitu al-hilm (kelembutan/kesantunan) dan al-anah (ketenangan/tidak tergesa-gesa). Hadits ini juga mengajarkan bahwa sifat baik adalah karunia Allah, dan kita diperintahkan untuk bersyukur atasnya.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Al-Adab, Bab Taqbil Ar-Rijl (Ciuman Kaki), no. 5225. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan lainnya.
Dalil pendukung tentang sifat Al-Hilm dan Al-Anah:
Allah ﷻ berfirman:
وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ
"Dan sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu." (QS. Ali 'Imran [3]: 159)
Kaitan dengan ulama:
Imam Ibn Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya Jami' Al-'Ulum wa Al-Hikam menjelaskan bahwa sifat al-hilm dan al-anah adalah akhlak para nabi dan orang-orang pilihan. Beliau menukil perkataan Al-Hasan Al-Bashri bahwa al-hilm adalah menahan amarah dan mengendalikan diri.
Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa mencium tangan orang shalih diperbolehkan, apalagi mencium tangan Nabi ﷺ yang merupakan bentuk pengagungan yang wajar.
Penjelasan Rinci
Pertama: Tentang Mencium Tangan dan Kaki Nabi ﷺ
Para sahabat dari delegasi Abdul Qais ketika tiba di Madinah, mereka bersegera turun dari kendaraan mereka dan langsung mencium tangan dan kaki Rasulullah ﷺ. Ini menunjukkan betapa besar kecintaan mereka kepada beliau.
Para ulama menjelaskan bahwa perbuatan ini adalah bentuk penghormatan yang dilakukan para sahabat karena kecintaan yang tulus, bukan karena kesombongan atau pemujaan berlebihan. Imam Al-Bukhari meriwayatkan bahwa sahabat Thufail bin 'Amr Ad-Dausi datang kepada Nabi ﷺ dan berkata: "Wahai Rasulullah, apakah engkau mau berlindung di benteng yang kuat?" Lalu beliau menolak. Ini menunjukkan bahwa para sahabat sangat mengagungkan Nabi ﷺ.
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fath Al-Bari menjelaskan bahwa mencium tangan Nabi ﷺ adalah bentuk pengagungan yang dibolehkan karena Nabi ﷺ tidak pernah melarang para sahabat melakukannya. Namun perlu dicatat, ini khusus untuk Nabi ﷺ dan para ulama yang shalih sebagai bentuk penghormatan, bukan sujud atau pemujaan.
Kedua: Sifat Al-Hilm dan Al-Anah
Nabi ﷺ memuji Al-Mundhir Al-Asyajj dengan dua sifat:
- Al-Hilm: Kemampuan menahan diri dari amarah, bersikap tenang, dan tidak mudah terprovokasi.
- Al-Anah: Tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan, berpikir matang sebelum bertindak.
Syaikh Abdurrahman As-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa sifat tenang dan tidak tergesa-gesa adalah sifat yang sangat dicintai Allah karena dengannya seseorang bisa berpikir jernih dan mengambil keputusan yang tepat.
Ketiga: Pertanyaan Al-Mundhir dan Jawaban Nabi
Al-Mundhir bertanya: "Apakah aku yang berusaha memiliki sifat ini, atau Allah yang menciptakannya dalam diriku?" Nabi ﷺ menjawab: "Bahkan Allah yang menciptakan kedua sifat itu dalam dirimu."
Ini menunjukkan bahwa sifat baik pada dasarnya adalah karunia Allah. Namun, manusia tetap diperintahkan untuk berusaha menghias diri dengan akhlak mulia. Imam Ibn Qayyim Al-Jawziyyah dalam Madarij As-Salikin menjelaskan bahwa antara takdir dan usaha tidak bertentangan. Kita tetap berusaha, dan hasil akhirnya kita serahkan kepada Allah.
Al-Mundhir kemudian bersyukur: "Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan dalam diriku dua sifat yang dicintai Allah dan Rasul-Nya." Ini adalah adab yang indah—ketika mendapat pujian, ia kembalikan pujian itu kepada Allah.
Story Telling
Dikisahkan bahwa Al-Mundhir bin 'Amr Al-Asyajj adalah seorang pemimpin yang bijaksana dari kalangan Abdul Qais. Ketika delegasi mereka datang ke Madinah, para sahabat lain berlomba-lomba turun dari kendaraan untuk segera bertemu Nabi ﷺ. Namun Al-Mundhir justru bersabar, pergi ke tempat barangnya, mengambil dua helai pakaiannya yang bagus, mengenakannya dengan rapi, baru kemudian datang menghadap Nabi ﷺ dengan penampilan yang pantas.
Nabi ﷺ yang melihat ketenangan dan kerapiannya langsung memujinya. Ini mengajarkan kita bahwa adab dan ketenangan lebih utama daripada tergesa-gesa, meskipun dalam kebaikan sekalipun. Sebagaimana disebutkan dalam hadits lain, "Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan" (HR. Muslim). Penampilan yang rapi dan sopan ketika menghadap orang yang dimuliakan adalah bagian dari adab Islam.
Kesimpulan Praktis
- Menghormati orang shalih dengan mencium tangan adalah dibolehkan selama tidak berlebihan dan bukan dalam bentuk pemujaan.
- Sifat al-hilm (kelembutan) dan al-anah (ketenangan) adalah akhlak yang sangat dicintai Allah—kita harus berusaha menghias diri dengannya.
- Ketika dipuji karena kebaikan, kembalikan pujian itu kepada Allah dan bersyukur, karena semua kebaikan berasal dari-Nya.
- Berpenampilan rapi dan sopan ketika menghadap orang yang dimuliakan adalah bagian dari adab Islam.
- Jangan tergesa-gesa dalam mengambil keputusan; berpikir matang adalah ciri orang berakal.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.