Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan bahwa kasih sayang kepada anak—termasuk mencium mereka—adalah bagian dari adab Islam yang dicontohkan Nabi ﷺ. Orang yang tidak menyayangi tidak akan mendapatkan rahmat. Kasih sayang tidak mengurangi wibawa seorang lelaki, justru menunjukkan kelembutan hati yang dipuji syariat.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan (no. 5218), dari jalur Sufyan (yaitu Sufyan bin 'Uyainah) dari az-Zuhri dari Abu Salamah dari Abu Hurairah رضي الله عنه. Sanad ini disebutkan dalam teks yang Anda bawakan, dan para perawi jalur ini termasuk ulama dalam daftar rujukan (Sufyan bin 'Uyainah, az-Zuhri).
Hadits senada juga terdapat dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Abu Hurairah dengan lafaz yang semakna, bahwa Nabi ﷺ mencium Hasan, lalu Al-Aqra' bin Habis berkata sebagaimana dalam teks, dan Nabi ﷺ bersabda: "مَنْ لَا يَرْحَمُ لَا يُرْحَمُ".
Adapun ayat yang berkaitan dengan kasih sayang dan rahmat, di antaranya firman Allah:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
QS. Al-Anbiya' [21]: 107
Terjemahan: "Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam."
Juga firman Allah tentang sifat lembut Nabi ﷺ:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ
QS. Ali 'Imran [3]: 159
Terjemahan: "Maka berkat rahmat Allah engkau bersikap lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauh dari sekitarmu."
Penjelasan Rinci
Hadits ini menunjukkan beberapa hal penting:
Pertama: Mencium anak adalah sunnah dan adab yang dicontohkan Nabi ﷺ. Nabi ﷺ mencium Husain رضي الله عنه di hadapan orang lain, dan beliau tidak menyembunyikannya. Ini menunjukkan bahwa menampakkan kasih sayang kepada anak adalah hal yang baik dan tidak tercela.
Kedua: Al-Aqra' bin Habis (dalam sebagian riwayat disebut Al-Aqra' bin Habis, dan dalam teks Anda "Habib") adalah seorang tokoh Arab yang memiliki sepuluh anak. Ia merasa heran dan menganggap mencium anak sebagai hal yang tidak pantas bagi seorang lelaki yang punya wibawa. Ini menunjukkan pemahaman sebagian orang Arab jahiliyah bahwa kelembutan kepada anak mengurangi kejantanan. Nabi ﷺ membantah anggapan ini.
Ketiga: Sabda Nabi ﷺ "مَنْ لَا يَرْحَمُ لَا يُرْحَمُ" — "Barangsiapa tidak menyayangi, dia tidak akan disayangi." Ini bukan sekadar anjuran, tetapi menunjukkan bahwa sifat kasih sayang adalah bagian dari iman dan merupakan sebab datangnya rahmat Allah. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini memerintahkan untuk menyayangi anak-anak, orang lemah, dan sesama, serta menunjukkan bahwa orang yang tidak memiliki sifat rahmat akan terhalang dari rahmat Allah. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari juga menyebutkan bahwa hadits ini menjadi dalil disunnahkannya mencium anak sebagai bentuk kasih sayang, dan bahwa hal itu tidak mengurangi wibawa seseorang.
Keempat: Kaitan dengan aqidah dan akhlak. Ibn Taymiyyah dan Ibn Qayyim al-Jawziyyah sering menekankan bahwa akhlak yang baik dan kasih sayang adalah bagian dari kesempurnaan iman. Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam menjelaskan bahwa rahmat Allah diberikan kepada orang yang memiliki sifat rahmat kepada makhluk. As-Sa'di dalam tafsirnya juga menegaskan bahwa rahmat adalah sifat yang harus dimiliki seorang mukmin, terutama kepada anak dan keluarga.
Kelima: Tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama daftar bahwa mencium anak adalah sunnah dan bukan hal yang tercela. Yang berbeda hanyalah pemahaman orang-orang jahiliyah seperti Al-Aqra' yang menganggapnya aib, dan Nabi ﷺ membantahnya.
Story Telling
Dikisahkan bahwa suatu hari Nabi ﷺ sedang duduk bersama para sahabat. Beliau memanggil cucunya, Hasan atau Husain, lalu menciumnya dengan penuh kasih sayang. Melihat itu, Al-Aqra' bin Habis—seorang lelaki yang dikenal gagah dan memiliki banyak anak—berkata dengan nada heran: "Wahai Rasulullah, aku punya sepuluh anak, tapi aku tidak pernah mencium satu pun dari mereka." Nabi ﷺ memandangnya dan bersabda dengan lembut namun tegas: "Barangsiapa tidak menyayangi, dia tidak akan disayangi." (HR. Abu Dawud no. 5218, juga dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim dengan makna yang sama).
Hikmahnya: Nabi ﷺ tidak mencela Al-Aqra' dengan kasar, tetapi mengajarkan prinsip besar bahwa kasih sayang adalah pintu rahmat. Seorang lelaki yang kuat tetap boleh dan bahkan dianjurkan mencium anaknya. Al-Hasan al-Bashri dan Sufyan ats-Tsauri dikenal sering menekankan pentingnya kelembutan dalam mendidik keluarga.
Kesimpulan Praktis
- Ciumlah anak-anak Anda dengan penuh kasih sayang, terutama saat mereka masih kecil. Ini sunnah Nabi ﷺ.
- Jangan malu menunjukkan kasih sayang kepada keluarga; itu bukan tanda kelemahan, melainkan tanda hati yang hidup.
- Sadari bahwa kasih sayang adalah sebab datangnya rahmat Allah. Barangsiapa tidak menyayangi, ia terhalang dari rahmat.
- Didiklah anak dengan lembut, bukan dengan kekerasan atau sikap dingin yang berlebihan.
- Jangan merendahkan orang yang menunjukkan kasih sayang kepada anak, karena itu adalah adab yang diajarkan Nabi ﷺ.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.