Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan tata cara membalas salam dari non-Muslim (Ahli Kitab). Jika mereka mengucapkan salam kepada kita, maka kita cukup membalas dengan ucapan "Wa 'alaikum" (dan atas kalian juga), tanpa menambahkan kata "salam" atau "rahmat" di dalamnya. Ini adalah bentuk keadilan dan ketegasan dalam menjaga kemuliaan Islam, sekaligus tetap menjaga adab dalam bermuamalah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Abu Dawud:
Telah menceritakan kepada kami 'Amr bin Marzuq, telah mengabarkan kepada kami Syu'bah, dari Qatadah, dari Anas, bahwa para sahabat Nabi ﷺ berkata kepada Nabi ﷺ: "Sesungguhnya Ahli Kitab memberi salam kepada kami, lalu bagaimana kami harus membalasnya?" Beliau bersabda: "Katakanlah: 'Wa 'alaikum' (dan atas kalian juga)."
Hadits pendukung dari Shahih al-Bukhari dan Muslim:
Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Nabi ﷺ bersabda: 'Apabila Ahli Kitab memberi salam kepada kalian, maka jawablah: "Wa 'alaikum" (dan atas kalian juga).'" (HR. Bukhari no. 6258, Muslim no. 2163)
Dalil Al-Qur'an yang relevan:
Allah Ta'ala berfirman:
وَإِذَا حُيِّيتُم بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا
"Apabila kamu diberi penghormatan dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah dengan yang sepadan. Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu."
(QS. An-Nisa' [4]: 86)
Ayat ini bersifat umum, namun hadits-hadits di atas menjelaskan pengecualian khusus ketika yang memberi salam adalah non-Muslim, yaitu cukup membalas dengan "Wa 'alaikum" saja.
Penjelasan Rinci
Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:
1. Hukum Membalas Salam Non-Muslim
Imam An-Nawawi rahimahullah dalam kitab Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa ulama sepakat (ijma') bahwa tidak boleh memulai salam kepada non-Muslim. Namun jika mereka memberi salam terlebih dahulu, maka kita wajib membalasnya, tetapi dengan lafazh yang lebih singkat, yaitu cukup "Wa 'alaikum" (dan atas kalian juga).
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hikmah dari jawaban "Wa 'alaikum" saja adalah karena orang-orang Yahudi dahulu ketika memberi salam kepada Nabi ﷺ, mereka mengucapkan "As-Samu 'alaikum" (kebinasaan atas kalian), bukan "Assalamu 'alaikum". Maka Nabi ﷺ memerintahkan untuk membalas dengan "Wa 'alaikum" yang artinya "dan atas kalian juga" — yakni kebinasaan itu juga akan menimpa kalian. Ini adalah doa yang setimpal.
2. Makna "Wa 'alaikum"
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa jawaban "Wa 'alaikum" dalam konteks ini adalah doa balasan yang setimpal. Jika mereka mengucapkan salam yang sebenarnya (Assalamu 'alaikum), maka kita boleh membalas dengan "Wa 'alaikum" yang maknanya "dan semoga keselamatan juga atas kalian". Namun jika mereka mengucapkan doa keburukan, maka kita membalas dengan doa yang sama.
3. Adab dan Ketegasan dalam Bermuamalah
Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini mengajarkan umat Islam untuk tetap menjaga adab dalam hubungan sosial dengan non-Muslim, namun tidak boleh berlebihan dalam penghormatan yang bersifat keagamaan. Kita tetap boleh berbuat baik dan berlaku adil kepada mereka dalam urusan dunia, tetapi dalam hal simbol-simbol keagamaan, kita harus tegas menjaga identitas.
4. Hikmah dari Riwayat Tambahan Abu Dawud
Dalam riwayat Abu Dawud disebutkan bahwa riwayat ini juga datang dari Aisyah, Abu Abdurrahman al-Juhani, dan Abu Basrah al-Ghifari radhiyallahu 'anhum. Ini menunjukkan bahwa hukum ini telah dipahami dan diamalkan oleh banyak sahabat, sehingga menjadi ijma' (kesepakatan) di kalangan mereka.
5. Pengecualian dalam Keadaan Darurat
Para ulama menjelaskan bahwa jika ada kebutuhan mendesak seperti dalam interaksi diplomatik, dakwah, atau keadaan yang mengharuskan, maka dibolehkan mengucapkan salam yang lebih lengkap dengan niat yang baik. Namun hukum asalnya tetap sebagaimana hadits ini.
Story Telling
Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata: "Suatu ketika sekelompok orang Yahudi datang menemui Nabi ﷺ dan mengucapkan: 'As-Samu 'alaikum' (kebinasaan atas kalian). Aisyah yang mendengar ucapan itu langsung menjawab: 'Wa 'alaikum as-samu wal la'nah' (dan atas kalian juga kebinasaan dan laknat)."
Maka Nabi ﷺ menegur Aisyah dengan lembut: "Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah mencintai kelembutan dalam segala urusan."
Aisyah bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah engkau tidak mendengar apa yang mereka ucapkan?"
Nabi ﷺ menjawab: "Sesungguhnya aku telah menjawabnya dengan 'Wa 'alaikum'." (HR. Bukhari no. 6024, Muslim no. 2165)
Hikmah dari kisah ini: Nabi ﷺ mengajarkan kita untuk tidak berlebihan dalam membalas keburukan, cukup dengan yang setimpal. Beliau tetap tenang dan lembut, tidak terpancing emosi, namun tetap tegas dalam menjaga kehormatan Islam.
Kesimpulan Praktis
- Jangan memulai salam kepada non-Muslim, karena salam adalah doa keselamatan yang merupakan ciri khas umat Islam.
- Jika mereka memberi salam, balaslah dengan "Wa 'alaikum" saja, tanpa menambahkan kata "salam" atau "rahmat".
- Tetap berlaku adil dan baik dalam muamalah sehari-hari dengan non-Muslim, karena Islam mengajarkan kebaikan kepada semua manusia.
- Jaga ketenangan dan kelembutan dalam merespons, sebagaimana teladan Nabi ﷺ.
- Pahami konteks — jika ada kebutuhan dakwah atau keadaan tertentu, boleh dipertimbangkan dengan bimbingan ulama.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.