Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 5199 tentang Kewajiban memberi salam orang berkendara kepada pejalan kaki

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan adab salam yang berlapis: yang berkendara memulai salam kepada yang berjalan, yang berjalan kepada yang duduk, yang sedikit kepada yang banyak, dan yang muda kepada yang tua. Tujuannya menumbuhkan kerendahan hati, menghilangkan kesombongan, dan mempererat kasih sayang antar sesama Muslim. Memberi salam lebih dahulu adalah kebaikan dan keutamaan, bukan kehinaan.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Adab, Bab "Siapa yang Lebih Berhak Memberi Salam", dari sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه. Imam Abu Dawud menyebutkan hadits ini dengan sanad: Yahya bin Habib bin 'Arabi → Rauh → Ibnu Juraij → Ziyad → Tsabit (maula Abdurrahman bin Zaid) → Abu Hurairah.

Hadits ini juga memiliki penguat dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Abu Hurairah, dengan lafaz yang lebih lengkap:

«يُسَلِّمُ الرَّاكِبُ عَلَى الْمَاشِي، وَالْمَاشِي عَلَى الْقَاعِدِ، وَالْقَلِيلُ عَلَى الْكَثِيرِ»

"Orang yang berkendara memberi salam kepada orang yang berjalan, orang yang berjalan kepada orang yang duduk, dan yang sedikit kepada yang banyak." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Adapun ayat yang menjadi landasan umum perintah menyebarkan salam dan kasih sayang:

وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

"Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan, 'Salam.'" (QS. Al-Furqan [25]: 63)

Penjelasan Rinci

Hadits ini secara tegas mengajarkan siapa yang lebih dahulu memberi salam. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hikmah urutan ini adalah: yang lebih tinggi kedudukannya secara sosial (misalnya berkendara) diperintahkan merendahkan diri lebih dahulu, sehingga tidak timbul kesombongan. Sebaliknya, yang lebih lemah (berjalan, duduk) tidak dibebani lebih dahulu agar tidak merasa direndahkan.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa para ulama sepakat hukum memberi salam adalah sunnah, dan menjawabnya adalah wajib. Beliau juga menegaskan bahwa memulai salam adalah keutamaan yang besar, dan urutan dalam hadits ini bersifat anjuran (istihbab), bukan kewajiban yang mengikat.

Imam Abu Dawud sendiri dalam Sunan-nya menyusun bab ini untuk menegaskan bahwa yang lebih utama memulai salam adalah yang lebih tinggi kedudukannya secara zahir, agar tidak terjadi kesombongan. Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menambahkan bahwa menyebarkan salam adalah sebab tumbuhnya mahabbah (kasih sayang), sebagaimana sabda Nabi ﷺ: "Tidaklah kalian masuk surga hingga kalian beriman, dan tidaklah kalian beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian kerjakan akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian." (HR. Muslim)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Bahjah Qulub al-Abrar menjelaskan bahwa adab salam ini mengandung pendidikan jiwa: orang yang berkendara dilatih untuk tidak merasa lebih tinggi, orang yang berjalan dilatih untuk menghormati yang duduk, dan yang muda dilatih menghormati yang tua. Semua ini membentuk masyarakat yang saling menghargai.

Adapun perbedaan pendapat di antara ulama daftar: sebagian memandang urutan ini wajib secara adab, sebagian memandangnya sunnah muakkadah. Yang paling kuat adalah pendapat Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar bahwa ini adalah sunnah yang sangat dianjurkan, karena tidak ada dalil yang menunjukkan kewajiban memulai salam.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin al-Mubarak رحمه الله, seorang ulama besar Tabi'ut Tabi'in, sangat menjaga adab salam ini. Beliau dikenal selalu memulai salam kepada siapa pun yang beliau jumpai, baik yang lebih muda maupun yang lebih tua, baik yang berkendara maupun yang berjalan. Ketika ditanya mengapa beliau selalu memulai salam, beliau menjawab bahwa memulai salam adalah amal yang paling ringan namun paling besar pahalanya, dan beliau tidak ingin kehilangan keutamaan itu. Kisah ini disebutkan dalam kitab-kitab biografi beliau seperti Siyar A'lam an-Nubala karya Adz-Dzahabi (dengan makna umum).

Hikmahnya: orang yang selalu memulai salam adalah orang yang hatinya bersih dari kesombongan dan penuh kasih kepada sesama.

Kesimpulan Praktis

  1. Mulailah memberi salam kepada siapa pun yang engkau jumpai, terutama jika engkau berkendara dan dia berjalan, engkau berjalan dan dia duduk, engkau sedikit dan mereka banyak, atau engkau muda dan dia tua.
  2. Jangan menunggu orang lain memberi salam lebih dahulu, karena memulai salam adalah keutamaan dan pahala yang besar.
  3. Jawablah salam dengan yang lebih baik atau minimal yang semisal, karena menjawab salam adalah wajib.
  4. Jadikan salam sebagai sarana mempererat ukhuwah dan menghilangkan kesombongan dalam hati.
  5. Ajarkan adab ini kepada keluarga dan anak-anak agar tumbuh menjadi pribadi yang rendah hati dan penuh kasih.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?