Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 5194 tentang Memberi makan dan salam kepada yang dikenal dan tidak dikenal

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa di antara amal Islam yang paling utama adalah memberi makan (kepada yang membutuhkan) dan menyebarkan salam kepada semua orang, baik yang dikenal maupun tidak. Kedua amal ini menumbuhkan kasih sayang, mempererat persaudaraan, dan menghilangkan permusuhan di antara kaum muslimin. Inilah tanda Islam yang hidup, bukan sekadar klaim.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Hujurat [49]: 13

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

Terjemahan: "Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa di antara kamu."

Ayat ini menunjukkan bahwa kemuliaan tidak diukur dari kedekatan sosial atau pengenalan, melainkan dari ketakwaan. Karena itu, menyebarkan salam kepada orang yang tidak dikenal pun tetap bernilai di sisi Allah.

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Adab, Bab Menyebarkan Salam, dari jalur Qutaibah bin Sa'id, dari Al-Layts, dari Yazid bin Abi Habib, dari Abu Al-Khair, dari 'Abdullah bin 'Amr bin Al-'Ash radhiyallahu 'anhuma.

Hadits ini juga memiliki makna yang sejalan dengan hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari 'Abdullah bin 'Amr, di mana Nabi ﷺ bersabda tentang amalan Islam yang baik, salah satunya adalah menyebarkan salam.

Kaitan dengan ulama:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa menyebarkan salam adalah syiar Islam yang agung dan sarana memperkuat ukhuwah.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menegaskan bahwa memberi makan dan menyebarkan salam termasuk amal yang menggabungkan hak Allah dan hak manusia.
  • Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menyebutkan bahwa amal-amal yang disebut dalam hadits ini adalah amal yang manfaatnya dirasakan orang lain.

Penjelasan Rinci

Makna hadits secara umum:

Seorang laki-laki bertanya kepada Nabi ﷺ: "Aspek mana dari Islam yang terbaik?" Pertanyaan ini bukan tentang rukun Islam, melainkan tentang amal yang paling utama dan paling bermanfaat. Nabi ﷺ menjawab dengan dua amal: memberi makan dan menyebarkan salam.

Mengapa dua amal ini disebut terbaik?

  1. Memberi makan — Ini mencakup memberi makan keluarga, tamu, tetangga, orang miskin, dan siapa pun yang membutuhkan. Imam Ahmad bin Hanbal dan Ishaq bin Rahuyah menyebutkan bahwa memberi makan adalah amal yang sangat ditekankan karena menyentuh kebutuhan dasar manusia.
  2. Menyebarkan salam — Ini adalah amal lisan yang ringan namun besar pahalanya. Nabi ﷺ memerintahkan untuk mengucapkan salam kepada orang yang dikenal maupun tidak dikenal. Ini berbeda dengan kebiasaan sebagian orang yang hanya memberi salam kepada orang yang dikenal saja.

Pemahaman ulama:

  • Imam an-Nawawi dalam Riyadh ash-Shalihin dan Syarh Muslim menjelaskan bahwa menyebarkan salam kepada semua orang adalah tanda keikhlasan dan menghilangkan perbedaan status sosial.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa amal yang paling utama adalah yang manfaatnya kembali kepada orang lain, bukan hanya untuk diri sendiri.
  • Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menegaskan bahwa memberi makan dan menyebarkan salam adalah amal yang menggabungkan antara ibadah kepada Allah dan berbuat baik kepada manusia.
  • Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsir as-Sa'di menjelaskan bahwa menyebarkan salam adalah sarana untuk menumbuhkan cinta dan menghilangkan kebencian.

Perbedaan pendapat:

Sebagian ulama seperti Sufyan ats-Tsauri dan Abdullah bin al-Mubarak memandang bahwa memberi makan lebih utama karena manfaatnya lebih luas. Namun Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar menggabungkan keduanya sebagai amal yang saling melengkapi. Pendapat yang paling kuat adalah bahwa kedua amal ini disebutkan bersama karena keduanya adalah amal yang paling bermanfaat bagi orang lain, dan tidak perlu memilih salah satu.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa 'Abdullah bin 'Amr bin Al-'Ash radhiyallahu 'anhuma, setelah mendengar hadits ini, sangat bersemangat mengamalkannya. Ia dikenal sebagai sahabat yang gemar memberi makan dan selalu mengucapkan salam kepada siapa pun yang ia jumpai, baik yang dikenal maupun tidak. Bahkan disebutkan dalam riwayat bahwa ia pernah membeli seekor kambing untuk disembelih dan dibagikan kepada keluarganya, lalu ia bertanya kepada pembantunya: "Apakah kamu sudah memberikan bagian kepada tetangga kita yang Yahudi itu?" Pembantunya menjawab: "Belum." Maka ia pun memerintahkan untuk memberikannya. Ini menunjukkan bahwa memberi makan adalah amal yang tidak terbatas pada sesama muslim saja, tetapi juga kepada non-muslim sebagai bentuk akhlak yang baik.

Hikmah: Amal yang paling utama adalah yang manfaatnya dirasakan orang lain, dan menyebarkan salam adalah pintu masuk untuk menumbuhkan kasih sayang di antara manusia.

Kesimpulan Praktis

  1. Biasakan memberi makan — kepada keluarga, tetangga, tamu, dan orang yang membutuhkan, baik muslim maupun non-muslim, sebagai bentuk akhlak Islam.
  2. Sebarkan salam — kepada semua orang, baik yang dikenal maupun tidak, karena ini adalah syiar Islam yang ringan namun besar pahalanya.
  3. Jangan membatasi salam — hanya kepada orang yang dikenal, karena Nabi ﷺ memerintahkan untuk menyebarkannya kepada semua orang.
  4. Gabungkan kedua amal — memberi makan dan menyebarkan salam adalah dua amal yang saling melengkapi dan menunjukkan Islam yang rahmatan lil 'alamin.
  5. Ikhlas dalam beramal — karena yang dinilai di sisi Allah adalah ketakwaan, bukan pengenalan atau status sosial.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?