Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 5141 tentang Larangan mengutuk orang tua termasuk dosa besar

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa mencela atau mengutuk orang tua termasuk dosa besar. Bentuknya bisa langsung (si anak sendiri mencela orang tuanya) atau tidak langsung, yaitu ia mencela orang tua orang lain sehingga orang lain itu balas mencela orang tuanya. Jadi, menjadi sebab orang tua sendiri dicela pun sudah termasuk dosa besar.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Adab, Bab Berbakti kepada Orang Tua, dari sahabat Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiyallahu 'anhuma. Hadits ini juga diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim dengan makna yang sama, sehingga derajatnya shahih.

Lafazh hadits:

إِنَّ مِنْ أَكْبَرِ الْكَبَائِرِ أَنْ يَلْعَنَ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ

"Sesungguhnya termasuk dosa besar yang paling besar adalah seseorang mencela (mengutuk) kedua orang tuanya."

Kemudian beliau ﷺ menjelaskan caranya:

يَلْعَنُ أَبَا الرَّجُلِ فَيَلْعَنُ أَبَاهُ وَيَلْعَنُ أُمَّهُ فَيَلْعَنُ أُمَّهُ

"Ia mencela ayah seseorang, lalu orang itu mencela ayahnya; dan ia mencela ibu seseorang, lalu orang itu mencela ibunya."

Dalil Al-Qur'an yang menjadi dasar besarnya berbakti kepada orang tua, di antaranya firman Allah:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

QS. Al-Isra' [17]: 23

"Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka jangan sekali-kali engkau mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' dan jangan engkau membentak keduanya, serta ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia."

Penjelasan Rinci

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan betapa besarnya dosa mencela orang tua. Beliau menegaskan bahwa yang dimaksud "mencela orang tua" mencakup dua bentuk:

  1. Mencela langsung — si anak sendiri menghina, mengutuk, atau menyakiti orang tuanya dengan lisan maupun perbuatan.
  2. Mencela tidak langsung — si anak mencela orang tua orang lain, sehingga orang lain itu membalas dengan mencela orang tuanya. Meski secara lahir ia tidak mencela orang tuanya sendiri, tetapi ia telah menjadi sebab orang tuanya dicela. Maka ia tetap berdosa besar.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menambahkan bahwa hadits ini mengandung pelajaran penting: barangsiapa menjadi sebab terjadinya suatu kemungkaran, maka ia ikut menanggung dosanya. Karena itu, mencela orang tua orang lain sama saja dengan membuka pintu bagi celaan terhadap orang tua sendiri.

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa dosa besar (kaba'ir) memiliki tingkatan. Di antara yang paling besar adalah menyakiti orang tua, karena hak orang tua adalah hak yang paling agung setelah hak Allah. Beliau juga menyebutkan bahwa durhaka kepada orang tua ('uquq al-walidain) adalah dosa yang disebutkan berulang kali dalam Al-Qur'an dan hadits sebagai dosa besar.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat Al-Isra' 23 mengajarkan adab bertingkat: dari larangan berkata "ah" (uff), larangan membentak, hingga perintah berkata mulia. Ini menunjukkan bahwa Islam sangat menjaga kehormatan orang tua, bahkan sampai pada hal-hal kecil.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin menegaskan bahwa hadits ini menunjukkan haramnya mencela orang tua orang lain, karena itu menjadi jalan menuju celaan terhadap orang tua sendiri. Beliau juga mengingatkan bahwa seorang Muslim harus menjaga lisannya, karena lisan bisa menjerumuskan ke dalam dosa besar.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan bahwa berbakti kepada orang tua adalah kewajiban besar, dan durhaka kepada mereka termasuk dosa besar yang disebutkan setelah syirik dalam banyak ayat. Beliau menasihatkan agar seorang Muslim berhati-hati dalam berbicara, terutama tentang orang tua orang lain, karena itu bisa menjadi sebab orang tuanya sendiri dihina.

Kesimpulan ilmiah: Para ulama sepakat bahwa mencela orang tua — baik langsung maupun tidak langsung — adalah dosa besar. Yang paling kuat adalah pendapat yang menyatakan bahwa menjadi sebab celaan terhadap orang tua sendiri tetap termasuk dosa besar, berdasarkan zhahir hadits ini.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiyallahu 'anhuma, perawi hadits ini, adalah seorang sahabat yang sangat tekun beribadah dan banyak meriwayatkan hadits. Beliau pernah bertanya kepada Nabi ﷺ tentang amal yang paling utama, dan beliau juga dikenal sangat berbakti kepada orang tuanya.

Suatu ketika, ada seorang lelaki yang mencela orang tua orang lain di hadapan Abdullah bin Amr. Beliau pun mengingatkan dengan hadits ini, bahwa perbuatan tersebut adalah dosa besar, karena akan memicu balasan celaan terhadap orang tuanya sendiri. Para salafus shalih sangat menjaga lisan mereka, bukan hanya karena takut kepada manusia, tetapi karena takut kepada Allah dan ingin menjaga kehormatan orang tua mereka.

Hikmah: Lisan yang terjaga adalah cerminan hati yang bersih. Barangsiapa menjaga lisannya dari mencela orang lain, Allah akan menjaga kehormatan dirinya dan keluarganya.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan mencela orang tua sendiri — baik dengan perkataan, perbuatan, maupun sikap.
  2. Jangan mencela orang tua orang lain — karena itu menjadi sebab orang tuamu dicela, dan itu termasuk dosa besar.
  3. Jaga lisan — terutama dalam pergaulan, karena lisan bisa menjerumuskan ke dalam dosa besar.
  4. Berbakti kepada orang tua — dengan perkataan yang mulia, perbuatan yang baik, dan doa yang tulus.
  5. Bertaubat — jika pernah melakukan kesalahan terhadap orang tua, segera bertaubat dan minta maaf kepada mereka.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?