Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita tentang was-was (bisikan hati) yang berupa keraguan, terutama tentang Allah dan agama. Ini adalah ujian yang wajar dan hampir semua orang mengalaminya, termasuk para sahabat. Kuncinya bukanlah merasa bersalah atau takut karena memiliki bisikan itu, melainkan bagaimana kita menyikapinya: jangan dibicarakan, jangan diikuti, dan berlindung kepada Allah dengan mengingat sifat-sifat-Nya yang sempurna. Selama kita tidak mengucapkan atau meyakininya, bisikan itu tidak membahayakan iman kita.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Abu Dawud (no. 5110): Dari Abu Zumayl, ia berkata: "Aku bertanya kepada Ibnu Abbas, 'Apa sesuatu yang kurasakan di dadaku?' Ia bertanya, 'Apa itu?' Aku menjawab, 'Demi Allah, aku tidak bisa membicarakannya.' Ia bertanya, 'Apakah itu sesuatu yang meragukan?' lalu ia tertawa. Ia berkata, 'Tidak ada seorang pun yang selamat dari hal itu, sampai Allah menurunkan ayat: 'Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keraguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca Kitab sebelum kamu.' Lalu ia berkata kepadaku, 'Jika kamu menemukan sesuatu dalam hatimu, maka ucapkanlah: Dialah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zhahir, dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.'"
Ayat Al-Qur'an yang Disebut dalam Hadits:
- QS. Yunus [10]: 94 - Tentang perintah bertanya kepada Ahlul Kitab jika ragu, yang menunjukkan bahwa keraguan semacam ini bisa dihilangkan dengan ilmu.
Teks Arab:
فَإِن كُنتَ فِي شَكٍّۢ مِّمَّآ أَنزَلْنَآ إِلَيْكَ فَسْـَٔلِ ٱلَّذِينَ يَقْرَءُونَ ٱلْكِتَٰبَ مِن قَبْلِكَ ۗ لَقَدْ جَآءَكَ ٱلْحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ ٱلْمُمْتَرِينَ
Terjemahan: "Maka jika engkau (Muhammad) dalam keraguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca Kitab sebelum kamu. Sesungguhnya kebenaran telah datang kepadamu dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali engkau termasuk orang yang ragu."
- QS. Al-Hadid [57]: 3 - Ayat yang diajarkan Ibnu Abbas sebagai obat penenang hati dari was-was.
Teks Arab:
هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Terjemahan: "Dialah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zhahir, dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu."
Kaitan dengan Ulama: Imam Abu Dawud membawakan hadits ini dalam Kitab Adab (Bab Mengatasi Bisikan), menunjukkan bahwa ini adalah bagian dari adab dan akhlak seorang muslim dalam menjaga hatinya. Para ulama seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim al-Jauziyyah banyak membahas masalah was-was ini dalam kitab-kitab mereka, menekankan bahwa ini adalah gangguan dari setan yang harus dilawan dengan berlindung kepada Allah dan tidak memikirkannya.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini sangat penting karena berbicara tentang was-was (bisikan hati) yang sering kali datang kepada seorang mukmin. Ini bukanlah dosa, melainkan ujian keimanan. Mari kita bedah poin-poin pentingnya:
- Was-was adalah Ujian yang Umum: Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu tertawa ketika Abu Zumayl menceritakan perasaannya. Tertawanya beliau bukan berarti meremehkan, tetapi menunjukkan bahwa ini adalah perkara yang sudah diketahui dan umum terjadi. Beliau menegaskan, "Tidak ada seorang pun yang selamat dari hal itu." Ini sejalan dengan hadits shahih riwayat Muslim dari Abu Hurairah, bahwa para sahabat pernah mengeluhkan bisikan yang terasa berat di hati mereka, dan Nabi ﷺ bersabda: "Itu adalah iman yang murni." (HR. Muslim). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan bahwa perasaan berat dan tidak nyaman karena bisikan itu justru bukti keimanan, karena hati yang kosong dari iman tidak akan merasa terganggu dengan bisikan tersebut.
- Sikap yang Benar Terhadap Was-was: Abu Zumayl berkata, "Demi Allah, aku tidak bisa membicarakannya." Ini adalah pelajaran penting. Bisikan was-was tidak boleh diucapkan atau diceritakan kepada orang lain, karena hal itu akan memperbesar dan membuatnya semakin kuat. Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya Ighatsatul Lahfan menjelaskan bahwa salah satu cara mengusir was-was adalah dengan tidak menanggapinya, tidak membicarakannya, dan menyibukkan diri dengan hal lain yang bermanfaat.
- Obat dari Al-Qur'an: Ibnu Abbas mengajarkan dua hal:
- Pertama, mengingat ayat QS. Yunus [10]: 94. Ayat ini turun sebagai jawaban atas keraguan yang mungkin muncul, dan mengajarkan bahwa obat dari keraguan adalah kembali kepada ilmu, yaitu Al-Qur'an dan keterangan para ulama. Ini menunjukkan bahwa kita harus mencari jawaban atas keraguan kita dari sumber yang benar, bukan membiarkannya berlarut-larut.
- Kedua, mengucapkan QS. Al-Hadid [57]: 3. Ayat ini mengandung penegasan tentang sifat-sifat Allah yang sempurna: Al-Awwal (Yang Maha Awal), Al-Akhir (Yang Maha Akhir), Azh-Zhahir (Yang Maha Nyata), dan Al-Bathin (Yang Maha Tersembunyi). Mengingat sifat-sifat ini akan mengusir keraguan tentang Allah, karena Dia adalah satu-satunya yang layak disembah, dan segala sesuatu selain Dia adalah makhluk yang lemah. Imam As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini mengandung penetapan kesempurnaan Allah dan bahwa Dia meliputi segala sesuatu, sehingga tidak ada tempat bagi keraguan di dalam hati seorang mukmin.
- Perbedaan Antara Was-was dan Keyakinan: Para ulama membedakan antara was-was yang datang dan pergi (ini yang dimaafkan) dengan keyakinan yang tertanam dalam hati (ini yang berbahaya). Selama seorang hamba membenci bisikan itu, tidak mengucapkannya, dan tidak meyakininya, maka ia tidak berdosa. Ini adalah rahmat Allah yang besar.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa suatu ketika, para sahabat Nabi ﷺ datang kepada beliau dan mengeluhkan tentang sesuatu yang mereka rasakan di dalam hati mereka. Mereka berkata, "Wahai Rasulullah, salah seorang dari kami merasakan sesuatu di dalam hatinya yang berat baginya untuk mengucapkannya." Rasulullah ﷺ bertanya, "Apakah benar salah seorang dari kalian merasakannya?" Mereka menjawab, "Ya." Maka beliau bersabda, "Itu adalah iman yang murni." (HR. Muslim).
Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan "iman yang murni" adalah bahwa bisikan itu muncul justru karena iman yang kuat. Setan tidak akan bersusah payah membisikkan keraguan kepada orang yang hatinya sudah mati atau tidak peduli pada agama. Ia hanya menyerang orang yang beriman, karena ia ingin merusak keyakinannya. Maka, ketika seorang mukmin merasa terganggu dengan bisikan buruk, itu adalah tanda bahwa imannya masih hidup dan peka terhadap kebaikan. Kisah ini memberikan ketenangan bahwa kita tidak sendirian dalam menghadapi ujian ini, dan bahwa perasaan tidak nyaman itu sendiri adalah bukti keimanan.
Kesimpulan Praktis
Berikut beberapa poin yang bisa kita amalkan:
- Jangan Takut dan Jangan Cemas: Ketika bisikan was-was datang, jangan panik atau merasa bahwa iman kita telah rusak. Ini adalah ujian yang wajar dan bisa dialami siapa saja.
- Jangan Dibicarakan atau Diucapkan: Tutup mulut dan jangan ceritakan bisikan itu kepada orang lain. Mengucapkannya hanya akan memperkuat keberadaannya.
- Berlindung kepada Allah: Segera ucapkan "A'udzu billahi minasy-syaithanir-rajim" (Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk) dan berusahalah untuk mengalihkan pikiran kepada hal-hal yang bermanfaat.
- Ingat Sifat-Sifat Allah: Ucapkan dan renungkan makna QS. Al-Hadid [57]: 3. Meyakini bahwa Allah Maha Awal, Maha Akhir, Maha Nyata, dan Maha Tersembunyi akan mengusir keraguan tentang-Nya.
- Cari Ilmu: Jika keraguan itu terus berulang, carilah jawaban dari para ulama yang terpercaya, sebagaimana isyarat dari QS. Yunus [10]: 94. Jangan biarkan keraguan itu dibiarkan tanpa jawaban.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.