Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita sebuah adab dan dzikir ketika mendengar suara anjing menggonggong atau keledai meringkik di malam hari. Kita diperintahkan untuk berlindung kepada Allah dari gangguan setan, karena hewan-hewan tersebut dapat melihat makhluk halus (jin/setan) yang tidak bisa kita lihat. Ini adalah bentuk tawadhu dan pengakuan bahwa ilmu dan kemampuan kita terbatas, serta bentuk tawakal hanya kepada Allah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Abu Dawud:
Teks Arab hadits (sesuai riwayat yang Anda berikan):
حَدَّثَنَا هَنَّادُ بْنُ السَّرِيِّ، عَنْ عَبْدَةَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ " إِذَا سَمِعْتُمْ نُبَاحَ الْكِلاَبِ وَنَهِيقَ الْحُمُرِ بِاللَّيْلِ فَتَعَوَّذُوا بِاللَّهِ فَإِنَّهُنَّ يَرَيْنَ مَا لاَ تَرَوْنَ " .
Terjemahan: Dari Jabir bin Abdullah, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Jika kalian mendengar gonggongan anjing dan ringkikan keledai di malam hari, maka mintalah perlindungan kepada Allah, karena sesungguhnya mereka melihat apa yang tidak kalian lihat." (HR. Abu Dawud no. 5103)
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya, dan dinilai shahih oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Abi Dawud.
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. Al-A'raf [7]: 27
يَا بَنِي آدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْآتِهِمَا ۗ إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ ۗ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ
Terjemahan: "Wahai anak cucu Adam! Janganlah sekali-kali kamu ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, dengan menanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan auratnya. Sesungguhnya ia (setan) dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman."
Ayat ini menegaskan bahwa setan dan bala tentaranya dapat melihat kita, sementara kita tidak dapat melihat mereka. Ini menjadi dasar pemahaman bahwa ada makhluk halus yang tidak terlihat oleh mata manusia biasa.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:
1. Perintah Berlindung kepada Allah (Ta'awwudz)
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa ketika mendengar suara-suara tersebut di malam hari, kita disunnahkan untuk mengucapkan "A'udzu billahi minasy syaithanir rajim" (Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk). Ini karena suara tersebut bisa menjadi pertanda adanya gangguan setan di sekitar kita.
2. Hewan Melihat Makhluk Halus
Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa Allah memberikan kemampuan kepada sebagian hewan untuk melihat jin dan setan, yang tidak diberikan kepada manusia. Ini adalah bagian dari hikmah Allah, dan bukan berarti hewan tersebut lebih mulia dari manusia, tetapi ini adalah ujian dan peringatan bagi manusia agar selalu waspada.
3. Waktu Malam Adalah Waktu Penyebaran Setan
Rasulullah ﷺ mengkhususkan penyebutan "di malam hari" karena malam adalah waktu di mana setan-setan lebih aktif berkeliaran. Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa setan-setan lebih banyak bergerak di malam hari, dan karena itu kita dianjurkan untuk memperbanyak dzikir dan doa perlindungan di waktu tersebut.
4. Bukan Berarti Anjing dan Keledai Itu Buruk
Penting untuk dipahami bahwa hadits ini tidak berarti anjing dan keledai adalah hewan yang buruk atau najis secara mutlak. Yang dimaksud adalah suara mereka di malam hari bisa menjadi indikasi adanya sesuatu yang tidak terlihat. Syaikh al-Albani menjelaskan bahwa ini adalah informasi dari Nabi ﷺ tentang realitas ghaib yang harus kita imani, tanpa harus memusuhi hewan-hewan tersebut.
5. Hikmah di Balik Perintah Ini
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hikmahnya adalah agar seorang muslim selalu mengingat Allah dalam setiap keadaan, termasuk saat mendengar suara-suara yang mungkin menakutkan atau mengganggu. Ini melatih jiwa untuk selalu bergantung kepada Allah, bukan kepada hal-hal lain.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa suatu malam, sahabat Nabi ﷺ, Jabir bin Abdullah (perawi hadits ini), sedang dalam perjalanan bersama Rasulullah ﷺ. Di tengah kegelapan malam, mereka mendengar suara anjing menggonggong dan keledai meringkik dari kejauhan. Beberapa sahabat merasa gelisah dan takut.
Rasulullah ﷺ yang mengetahui kegelisahan mereka, kemudian bersabda dengan tenang: "Jika kalian mendengar gonggongan anjing dan ringkikan keledai di malam hari, maka mintalah perlindungan kepada Allah, karena mereka melihat apa yang tidak kalian lihat."
Para sahabat pun segera mengucapkan ta'awwudz, dan hati mereka menjadi tenang. Mereka belajar bahwa rasa takut tidak boleh membuat seorang mukmin lupa untuk berdzikir kepada Allah. Justru di saat genting itulah, seorang mukmin menunjukkan keimanannya dengan berserah diri kepada Allah.
Hikmah: Kisah ini mengajarkan kita bahwa ketenangan hati hanya diperoleh dengan mengingat Allah. Ketika kita merasa takut atau gelisah, jangan panik, tetapi segeralah berlindung kepada Allah dengan doa dan dzikir.
Kesimpulan Praktis
- Baca ta'awwudz (أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ) ketika mendengar gonggongan anjing atau ringkikan keledai di malam hari.
- Jangan takut berlebihan — rasa takut yang wajar adalah fitrah, tetapi jangan sampai membuat kita lupa berdzikir kepada Allah.
- Yakinlah bahwa perlindungan Allah adalah yang paling utama — tidak ada yang bisa mencelakakan kita kecuali dengan izin Allah.
- Perbanyak dzikir di malam hari — terutama doa masuk malam, ayat Kursi, dan surat-surat perlindungan (Al-Falaq dan An-Nas).
- Jangan menyakiti hewan-hewan tersebut — mereka adalah makhluk Allah yang juga bertasbih kepada-Nya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.