Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 51 tentang Memulai masuk rumah dengan bersiwak

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan bahwa kebiasaan Nabi ﷺ ketika masuk rumah adalah memulai dengan bersiwak. Ini adalah sunnah yang mulia, mengajarkan kita untuk selalu menjaga kebersihan dan kesegaran mulut, terutama saat menemui keluarga. Hadits ini juga menunjukkan perhatian Islam terhadap kebersihan dan kerapian dalam kehidupan sehari-hari.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Abu Dawud:

Teks Arab hadits (dengan harakat lengkap):

حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُوسَى الرَّازِيُّ، أَخْبَرَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ، عَنْ مِسْعَرٍ، عَنِ الْمِقْدَامِ بْنِ شُرَيْحٍ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ قُلْتُ لِعَائِشَةَ بِأَىِّ شَىْءٍ كَانَ يَبْدَأُ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا دَخَلَ بَيْتَهُ قَالَتْ بِالسِّوَاكِ

Terjemahan: Ibrahim bin Musa Al-Razi memberitakan kepada kami, Isa bin Yunus dari Mis'ar dari Al-Miqdam bin Shuraih dari ayahnya, dia berkata: "Saya bertanya kepada Aisyah: 'Dengan apa Rasulullah ﷺ memulai ketika beliau masuk ke rumah?' Dia menjawab: 'Dengan siwak.'"

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 253) dan Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya (no. 89) dengan redaksi yang serupa.

Dalil tambahan tentang keutamaan siwak:

QS. Ali 'Imran [3]: 104

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

"Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung."

Ayat ini menunjukkan bahwa kebersihan dan kebaikan termasuk bagian dari ma'ruf yang diperintahkan, dan siwak adalah salah satu bentuknya.

Hadits lain tentang siwak:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ مَعَ كُلِّ صَلَاةٍ

"Kalau tidak memberatkan umatku, niscaya aku perintahkan mereka bersiwak pada setiap kali shalat." (HR. Al-Bukhari no. 887, Muslim no. 252)

Kaitan dengan ulama:

Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu' menjelaskan bahwa siwak disunnahkan pada setiap keadaan, dan lebih ditekankan ketika masuk rumah, hendak shalat, dan ketika berubah bau mulut. Beliau juga menyebutkan bahwa para ulama sepakat (ijma') tentang disunnahkannya siwak.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memberikan pelajaran penting tentang adab Nabi ﷺ dalam kehidupan rumah tangga. Beberapa poin yang bisa diambil:

1. Siwak sebagai kebiasaan harian Nabi ﷺ

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa siwak adalah salah satu kebiasaan Nabi ﷺ yang paling rutin dilakukan. Beliau bersiwak di berbagai kesempatan: sebelum shalat, ketika bangun tidur, ketika masuk rumah, dan ketika membaca Al-Qur'an.

2. Hikmah masuk rumah dengan bersiwak

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa hikmahnya adalah agar seseorang menemui keluarganya dalam keadaan mulut yang bersih dan segar. Ini adalah bentuk penghormatan kepada keluarga dan menjaga perasaan mereka. Bau mulut yang tidak sedap bisa mengganggu kenyamanan orang lain, terlebih orang terdekat.

3. Siwak adalah bagian dari fitrah

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa siwak termasuk salah satu dari sepuluh perkara fitrah yang disebutkan dalam hadits Abu Hurairah. Ini menunjukkan bahwa siwak bukan sekadar tradisi, tetapi bagian dari ajaran Islam yang sejalan dengan fitrah manusia untuk hidup bersih.

4. Adab masuk rumah secara umum

Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam fatwa-fatwanya menjelaskan bahwa adab masuk rumah meliputi: mengucapkan salam, menyebut nama Allah (bismillah), dan membersihkan diri. Siwak termasuk bagian dari persiapan untuk menemui keluarga dengan penampilan yang baik.

5. Perbedaan pendapat tentang hukum siwak

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum siwak:

  • Jumhur ulama (mayoritas) dari kalangan Hanafiyah, Malikiyah, Syafi'iyah, dan Hanabilah berpendapat bahwa siwak hukumnya sunnah (dianjurkan), bukan wajib.
  • Sebagian ulama seperti Imam Ahmad dalam salah satu riwayat dan sebagian ulama Zhahiriyah berpendapat wajib, berdasarkan perintah Nabi ﷺ yang tegas.

Pendapat yang lebih kuat adalah pendapat jumhur, karena ada hadits yang menunjukkan bahwa Nabi ﷺ tidak mewajibkannya, yaitu sabda beliau: "Kalau tidak memberatkan umatku, niscaya aku perintahkan mereka bersiwak..." — kata "perintahkan" di sini menunjukkan bahwa beliau tidak sampai mewajibkannya karena khawatir memberatkan.

6. Siwak ketika masuk rumah — apakah khusus untuk istri?

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskan bahwa siwak ketika masuk rumah bukan hanya untuk istri, tetapi untuk seluruh keluarga. Ini menunjukkan perhatian Nabi ﷺ terhadap kebersihan dan kenyamanan orang-orang di sekitarnya.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa 'Aisyah radhiyallahu 'anha sangat memperhatikan kebiasaan-kebiasaan Nabi ﷺ. Suatu hari, seorang sahabat bernama Syuraih (ayah dari Al-Miqdam) bertanya kepadanya tentang kebiasaan Nabi ﷺ ketika masuk rumah. 'Aisyah menjawab dengan tegas: "Dengan siwak."

Ini menunjukkan bahwa para sahabat sangat antusias untuk meniru setiap gerak-gerik Nabi ﷺ, bahkan hal-hal kecil sekalipun. Mereka memahami bahwa dalam setiap perilaku Nabi ﷺ terdapat hikmah dan kebaikan. Syuraih tidak bertanya tentang hal-hal besar seperti ibadah yang berat, tetapi tentang kebiasaan sederhana yang ternyata sangat dicintai oleh Nabi ﷺ.

Imam Al-Bukhari meriwayatkan bahwa 'Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: "Nabi ﷺ apabila masuk ke rumahnya, beliau memulai dengan bersiwak." (HR. Muslim no. 253)

Hikmah dari kisah ini: kita diajarkan untuk memperhatikan detail-detail sunnah, karena kesempurnaan ibadah dan akhlak itu terletak pada konsistensi dalam hal-hal kecil sekalipun.

Kesimpulan Praktis

  1. Bersiwaklah ketika masuk rumah — ini adalah sunnah Nabi ﷺ yang mudah diamalkan.
  2. Jaga kebersihan mulut — karena ini bentuk penghormatan kepada orang lain, terutama keluarga.
  3. Siwak bisa dilakukan kapan saja — terutama sebelum shalat, ketika bangun tidur, dan ketika bau mulut berubah.
  4. Niatkan karena Allah — agar kebiasaan bersiwak menjadi ibadah yang berpahala.
  5. Ajarkan kepada keluarga — biasakan anak-anak untuk bersiwak agar tumbuh kecintaan pada sunnah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?