Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita doa dan dzikir pagi yang diajarkan Rasulullah ﷺ ketika sedang dalam perjalanan (safar). Intinya adalah memuji Allah atas nikmat dan ujian-Nya yang baik, memohon kebersamaan dan keutamaan Allah di perjalanan, serta berlindung dari api neraka. Ini adalah sunnah yang ringan namun penuh makna, mengajarkan kita untuk selalu mengingat Allah dalam setiap keadaan, terutama saat safar.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Al-Adab, Bab "Maa Yuqalu Idza Asbaha" (Bab Apa yang Diucapkan Ketika Pagi Hari), no. 5086.
Teks Arab Hadits (dengan harakat lengkap):
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ صَالِحٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ، قَالَ أَخْبَرَنِي سُلَيْمَانُ بْنُ بِلاَلٍ، عَنْ سُهَيْلِ بْنِ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا كَانَ فِي سَفَرٍ فَأَسْحَرَ يَقُولُ: "سَمِعَ سَامِعٌ بِحَمْدِ اللَّهِ وَنِعْمَتِهِ وَحُسْنِ بَلاَئِهِ عَلَيْنَا، اللَّهُمَّ صَاحِبْنَا فَأَفْضِلْ عَلَيْنَا، عَائِذًا بِاللَّهِ مِنَ النَّارِ".
Terjemahan ringkas:
"Semoga ada yang mendengar (ucapan) kami yang memuji Allah, mensyukuri nikmat-Nya, dan kebaikan ujian-Nya atas kami. Ya Allah, temani kami dan berikanlah keutamaan-Mu kepada kami, sambil berlindung kepada Allah dari api neraka."
Kaitan dengan Ulama:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud (w. 275 H) dalam Sunan-nya. Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah seperti Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah membahas hadits ini dalam kitab-kitab beliau tentang doa dan dzikir, seperti Shahih Abi Dawud dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah. Beliau menilai hadits ini shahih (lihat Shahih Abi Dawud, no. 5086).
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan beberapa faedah penting dari hadits ini:
- Makna "سَمِعَ سَامِعٌ" (Sami'a sami'un): Ada dua penafsiran utama dari ulama:
- Pertama: Ini adalah doa agar ada orang yang mendengarkan ucapan ini dan menyampaikannya, atau agar orang yang mendengar turut mengamini. Ini seperti ungkapan "semoga yang mendengar menjadi saksi atas pujian kami."
- Kedua: Ini adalah kalimat berita yang bermakna doa, yaitu "semoga Allah menjadikan ada yang mendengar pujian kami ini." Syaikh al-Albani cenderung kepada makna bahwa ini adalah doa agar ada yang mendengar dan menjadi saksi atas pujian tersebut.
- "بِحَمْدِ اللَّهِ وَنِعْمَتِهِ وَحُسْنِ بَلاَئِهِ عَلَيْنَا" (dengan memuji Allah, nikmat-Nya, dan baiknya ujian-Nya atas kami): Ini adalah pujian yang mencakup tiga hal:
- Pujian (hamd): Mengakui segala kebaikan Allah.
- Nikmat (ni'mah): Mensyukuri segala karunia yang diberikan, termasuk nikmat safar yang aman dan diberikan kekuatan.
- Baiknya ujian (husnu bala'): Ini bagian yang sangat dalam. "Bala'" bisa berarti ujian atau cobaan. Namun di sini, Nabi ﷺ menyebut "husni bala'ihi" (baiknya ujian-Nya). Ini mengajarkan bahwa apa pun yang Allah takdirkan, baik yang tampak menyenangkan maupun yang tampak sulit, semuanya adalah baik dari sisi Allah. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya sering menjelaskan bahwa seorang mukmin memandang semua ketentuan Allah dengan kacamata hikmah dan kebaikan, karena Allah tidaklah memutuskan kecuali yang terbaik bagi hamba-Nya.
- "اللَّهُمَّ صَاحِبْنَا فَأَفْضِلْ عَلَيْنَا" (Ya Allah, temani kami dan berikanlah keutamaan-Mu kepada kami): Ini adalah doa memohon kebersamaan Allah yang khusus, yaitu kebersamaan dalam penjagaan, pertolongan, dan taufik. Ini bukan kebersamaan secara dzat (karena Allah Maha Suci dari itu), tetapi kebersamaan dalam ilmu, perlindungan, dan pertolongan-Nya. Ini juga doa agar Allah memberikan keutamaan (fadhl) berupa kemudahan, keselamatan, dan kecukupan selama perjalanan.
- "عَائِذًا بِاللَّهِ مِنَ النَّارِ" (berlindung kepada Allah dari neraka): Ini adalah bagian akhir dari doa yang menunjukkan bahwa tujuan akhir seorang mukmin adalah keselamatan dari api neraka. Ini juga mengajarkan bahwa dalam setiap keadaan, kita tidak boleh lupa akan akhirat dan tujuan hidup kita yang sebenarnya.
Penerapan Ulama:
Para ulama seperti Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Al-Adzkar dan Syaikh al-Albani dalam Shahih at-Targhib wa at-Tarhib menganjurkan untuk membaca doa-doa yang shahih dari Nabi ﷺ pada waktu pagi dan petang, termasuk doa safar ini. Mereka menekankan bahwa berdoa dengan doa-doa ma'tsur (yang berasal dari Nabi ﷺ) lebih utama daripada doa yang disusun sendiri, karena mengandung keberkahan lafaz dan makna.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, perawi hadits ini, adalah salah satu sahabat yang paling banyak menghafal hadits. Beliau pernah bercerita bahwa orang-orang munafik pernah menuduhnya terlalu banyak meriwayatkan hadits. Maka beliau menjawab dengan kisahnya: "Sesungguhnya saudara-saudaraku dari kalangan Muhajirin sibuk dengan perdagangan di pasar, dan saudara-saudaraku dari kalangan Anshar sibuk dengan ladang mereka. Sedangkan aku adalah orang miskin yang selalu menemani Rasulullah ﷺ, aku hadir ketika mereka tidak hadir, dan aku hafal ketika mereka lupa." (HR. Al-Bukhari).
Kisah ini menunjukkan bahwa kedekatan dengan Rasulullah ﷺ adalah sumber ilmu dan keberkahan. Abu Hurairah tidak hanya mendengar, tetapi juga memperhatikan dan menghafal setiap gerak dan ucapan Nabi ﷺ, termasuk doa-doa dalam safar ini. Hikmahnya, kita harus bersemangat untuk mempelajari dan mengamalkan sunnah-sunnah Nabi ﷺ, sekecil apa pun itu, karena di dalamnya terdapat kebaikan yang besar.
Kesimpulan Praktis
- Amalkan doa ini saat safar: Baca doa ini di pagi hari ketika sedang dalam perjalanan, sebagaimana dicontohkan Nabi ﷺ.
- Pahami maknanya: Renungkan bahwa kita memuji Allah atas nikmat dan ujian-Nya, karena semuanya baik dari sisi Allah.
- Minta kebersamaan Allah: Mohonlah agar Allah senantiasa menyertai kita dalam setiap langkah, memberikan pertolongan dan keutamaan-Nya.
- Jangan lupakan akhirat: Sertakan selalu permohonan perlindungan dari api neraka dalam setiap doa kita, karena itulah tujuan akhir kita.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.