Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menerangkan keutamaan sebuah dzikir yang diucapkan pada pagi dan petang: seseorang mempersaksikan keesaan Allah dan kerasulan Muhammad ﷺ dengan menghadirkan persaksian para pembawa Arsy, malaikat, dan seluruh makhluk. Bagi yang mengucapkannya dengan jujur dan ikhlas, dijanjikan ampunan atas dosa-dosa yang terjadi pada hari atau malam itu. Ini adalah bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya melalui dzikir yang ringan namun agung maknanya.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya (no. 5078), dari sahabat Anas bin Malik رضي الله عنه. Sanadnya melalui 'Amr bin Utsman, dari Baqiyyah, dari Muslim bin Ziyad, dari Anas.
Teks hadits (sebagaimana Anda bawakan) berisi lafaz dzikir:
«اللَّهُمَّ إِنِّي أَصْبَحْتُ أُشْهِدُكَ وَأُشْهِدُ حَمَلَةَ عَرْشِكَ وَمَلَائِكَتَكَ وَجَمِيعَ خَلْقِكَ أَنَّكَ أَنْتَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ وَحْدَكَ لَا شَرِيكَ لَكَ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُكَ وَرَسُولُكَ»
Adapun ayat yang menjadi landasan makna persaksian dan keesaan Allah, di antaranya:
QS. Al-Baqarah [2]: 255
اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
Terjemahan ringkas: "Allah, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang Mahahidup, Yang terus-menerus mengurus makhluk-Nya..."
Ayat ini menegaskan keesaan Allah dan keberadaan Arsy serta pemeliharaan-Nya atas seluruh makhluk — makna yang sejalan dengan isi dzikir dalam hadits.
Juga QS. Al-Ahzab [33]: 41–42:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
Terjemahan ringkas: "Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang."
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini memerintahkan memperbanyak dzikir dan menyebutkan keutamaan berdzikir di waktu pagi dan petang. As-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menerangkan bahwa dzikir pagi-petang adalah penjaga hati dan sebab ketenangan serta ampunan.
Penjelasan Rinci
Hadits ini menunjukkan beberapa hal penting:
Pertama: Keutamaan waktu pagi dan petang. Islam mengajarkan agar hari dimulai dan diakhiri dengan mengingat Allah. Imam an-Nawawi dalam Al-Adzkar menegaskan bahwa dzikir pagi dan petang adalah sunnah yang sangat dianjurkan, dan para ulama menyusun bab khusus tentangnya. Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Al-Wabil ash-Shayyib menjelaskan bahwa dzikir adalah makanan hati; sebagaimana tubuh butuh makanan, hati butuh dzikir — dan waktu pagi-petang adalah waktu terbaik untuk memperbaharui iman.
Kedua: Makna "menghadirkan persaksian". Kalimat "أُشْهِدُكَ" (aku menjadikan-Mu sebagai saksi) mengandung makna bahwa hamba memohon agar Allah menjadi saksi atas pengakuan tauhidnya, lalu menghadirkan para pembawa Arsy, malaikat, dan seluruh makhluk sebagai saksi. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari (ketika membahas dzikir-dzikir serupa) menerangkan bahwa menghadirkan para saksi ini menambah kekuatan dan kesungguhan dalam persaksian, sekaligus menunjukkan betapa agungnya kalimat tauhid sehingga layak dipersaksikan oleh seluruh alam.
Ketiga: Kandungan tauhid. Dzikir ini memuat dua kalimat syahadat secara lengkap: pengakuan bahwa tidak ada tuhan selain Allah, Yang Maha Esa tanpa sekutu, dan pengakuan bahwa Muhammad ﷺ adalah hamba dan rasul-Nya. Muhammad bin Abdul Wahhab dalam Kitab at-Tauhid menekankan bahwa inti dakwah para nabi adalah tauhid, dan dzikir seperti ini adalah wujud nyata pengamalannya.
Keempat: Janji ampunan. Sabda Nabi ﷺ "إِلَّا غُفِرَ لَهُ مَا أَصَابَ فِي يَوْمِهِ ذَلِكَ مِنْ ذَنْبٍ" menunjukkan luasnya rahmat Allah. Syaikh Abdurrahman as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menerangkan bahwa ampunan ini adalah karunia Allah bagi hamba yang berdzikir dengan ikhlas dan jujur. Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah dosa-dosa kecil (shagha'ir), sebagaimana hadits-hadits keutamaan amal lainnya; adapun dosa besar tetap memerlukan taubat khusus. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa amal-amal tertentu memiliki keutamaan ampunan sebagai bentuk karunia, namun tidak menggugurkan kewajiban taubat dari dosa besar.
Kelima: Sanad hadits. Para ulama hadits seperti Abu Zur'ah ar-Razi dan Abu Hatim ar-Razi membahas perawi Baqiyyah bin al-Walid; ia diterima haditsnya oleh sebagian ulama dengan syarat, dan hadits ini termasuk yang diriwayatkan Abu Dawud. Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud menilai hadits ini shahih. Ini menunjukkan bahwa hadits ini dapat diamalkan.
Story Telling
Dikisahkan bahwa Al-Hasan al-Bashri رحمه الله, seorang tabi'in yang terkenal zuhud dan fasih, sangat menjaga dzikir pagi dan petang. Beliau pernah berkata bahwa hati manusia itu cepat berubah; maka jaga ia dengan dzikir. Suatu ketika seorang murid bertanya kepadanya tentang amal yang paling ringan namun besar pahalanya, beliau menjawab: "Sebutlah nama Allah di pagi dan petangmu, karena sesungguhnya dzikir itu menghidupkan hati sebagaimana air menghidupkan bumi yang kering." (Makna umum dari nasihat salaf; disebutkan dalam kitab-kitab adzkar seperti Al-Adzkar karya an-Nawawi.)
Hikmahnya: dzikir bukan sekadar bacaan lisan, tetapi sarana menghidupkan hati dan memperbaharui iman setiap hari.
Kesimpulan Praktis
- Biasakan membaca dzikir ini setiap pagi setelah subuh dan setiap petang setelah ashar/maghrib, dengan penuh kesadaran makna.
- Ucapkan dengan ikhlas dan jujur, karena janji ampunan berlaku bagi yang mengamalkannya dengan hati yang hadir.
- Pahami maknanya: tauhid, keesaan Allah, dan kerasulan Muhammad ﷺ — bukan sekadar lafaz.
- Jangan tinggalkan taubat dari dosa besar; dzikir ini adalah karunia untuk dosa-dosa kecil, sedangkan dosa besar butuh taubat nasuha.
- Ajarkan kepada keluarga agar mereka terbiasa berdzikir pagi dan petang.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.