Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 5062 tentang Dzikir sebelum tidur lebih baik daripada pelayan

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah hadits yang sangat agung dan penuh berkah. Hadits ini mengajarkan kepada kita sebuah amalan ringan namun bernilai besar, yaitu membaca tasbih (Subhanallah) 33 kali, tahmid (Alhamdulillah) 33 kali, dan takbir (Allahu Akbar) 34 kali sebelum tidur. Amalan ini disebut oleh Nabi ﷺ sebagai sesuatu yang lebih baik daripada memiliki seorang pembantu atau pelayan. Ini adalah pelajaran tentang kecukupan dan keberkahan dalam berdzikir kepada Allah, serta menunjukkan kasih sayang Nabi ﷺ kepada keluarganya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Al-Adab, Bab "Tasbih Saat Tidur", nomor 5062, dari sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dalam kitab Shahih mereka, dengan redaksi yang serupa.

Dalil Al-Qur'an yang relevan:

Allah Ta'ala berfirman:

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

"Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku."

(QS. Al-Baqarah [2]: 152)

Ayat ini menunjukkan keutamaan berdzikir kepada Allah, yang merupakan inti dari amalan dalam hadits ini.

Kaitan dengan Ulama:

Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah, seperti Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar dan Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (syarah Shahih Al-Bukhari), menjelaskan keutamaan dzikir ini dan menganjurkannya. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhus Shalihin juga menjelaskan faedah dan hikmah dari hadits ini.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki latar belakang kisah yang sangat menyentuh. Fatimah radhiyallahu 'anha, putri kesayangan Rasulullah ﷺ, bekerja keras menggiling gandum dengan batu penggilingan (ar-raha) hingga tangannya melepuh. Melihat kesulitan istrinya, Ali bin Abi Thalib mengusulkan untuk meminta seorang pembantu kepada Nabi ﷺ, karena saat itu ada tawanan perang yang dibagikan.

Saat Fatimah datang, beliau tidak menemui Nabi ﷺ. Kemudian beliau menyampaikan hal ini kepada Aisyah. Ketika Nabi ﷺ datang, Aisyah memberitahukan hal tersebut. Maka Nabi ﷺ mendatangi rumah Ali dan Fatimah yang sudah berbaring di tempat tidur. Dengan penuh kasih sayang, beliau duduk di antara keduanya, dan Ali merasakan dinginnya telapak kaki Nabi ﷺ di dadanya.

Nabi ﷺ tidak memberikan seorang pembantu, tetapi memberikan sesuatu yang jauh lebih baik dan kekal, yaitu dzikir. Beliau bersabda:

"Biarkan aku tunjukkan kepada kalian sesuatu yang lebih baik daripada apa yang kalian minta. Apabila kalian hendak tidur, maka bacalah Subhanallah (33 kali), Alhamdulillah (33 kali), dan Allahu Akbar (34 kali). Itu lebih baik bagi kalian daripada seorang pembantu."

Pemahaman Ulama:

  1. Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar menjelaskan bahwa dzikir ini disunnahkan dibaca setiap kali hendak tidur. Beliau menukil kesepakatan ulama tentang keutamaannya. Dzikir ini adalah pengganti yang lebih baik dari seorang pelayan karena pahalanya kekal di akhirat, sedangkan pelayan hanyalah kenikmatan dunia yang fana.
  2. Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan hikmah di balik angka-angka tersebut. Beliau menyebutkan bahwa jumlah totalnya adalah 100 (33+33+34). Ini menunjukkan kesempurnaan dzikir, seakan-akan seseorang telah berdzikir 100 kali. Beliau juga menukil pendapat yang mengatakan bahwa dzikir ini adalah bentuk syukur atas nikmat Allah yang tak terhitung.
  3. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam syarahnya menjelaskan bahwa pelajaran terpenting dari hadits ini adalah qana'ah (merasa cukup) dan tawakal kepada Allah. Nabi ﷺ mengajarkan bahwa kekayaan yang hakiki adalah kekayaan hati. Dengan berdzikir, hati menjadi tenang dan merasa cukup, sehingga tidak terlalu bergantung pada makhluk.
  4. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya seringkali mengaitkan dzikir dengan ketenangan hati, sebagaimana firman Allah dalam QS. Ar-Ra'd [13]: 28, "Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." Dzikir sebelum tidur adalah sarana untuk meraih ketenangan itu dan perlindungan dari gangguan setan.

Perbedaan Redaksi: Dalam riwayat lain (Shahih Al-Bukhari dan Muslim), disebutkan bahwa Ali berkata, "Demi Allah, kami tidak pernah meninggalkannya sejak kami mendengar hal itu dari Nabi ﷺ." Namun, dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa Ali meninggalkannya pada malam Perang Shiffin karena sibuk berperang, lalu beliau mengqadha-nya di akhir malam. Ini menunjukkan betapa pentingnya amalan ini bagi para sahabat.

Story Telling

Ada kisah yang sangat indah tentang seorang ulama salaf yang bernama Al-Hasan Al-Bashri (seorang ulama tabi'in yang sangat terkenal). Suatu hari, ia ditanya oleh seseorang, "Wahai Abu Sa'id, mengapa kami merasa berat untuk berdzikir dan shalat malam, sementara hati kami tidak selembut hati para sahabat?"

Al-Hasan Al-Bashri menjawab dengan bijak, "Karena kalian telah tenggelam dalam dosa-dosa dan nikmat-nikmat Allah yang telah kalian lupakan. Sesungguhnya, hati itu akan berkarat sebagaimana besi berkarat jika terkena air. Dan pengkilapnya adalah dzikir kepada Allah dan istighfar."

Kisah ini mengajarkan kita bahwa dzikir bukan hanya sekadar ucapan di lisan, tetapi ia adalah makanan bagi hati. Semakin sering kita berdzikir, hati kita akan semakin hidup, lembut, dan dekat dengan Allah. Amalan ringan seperti tasbih, tahmid, dan takbir sebelum tidur adalah salah satu cara untuk menjaga hati tetap hidup dan bersih.

Kesimpulan Praktis

Berikut beberapa poin yang bisa kita amalkan dari hadits ini:

  1. Membaca dzikir sebelum tidur: Bacalah Subhanallah (33 kali), Alhamdulillah (33 kali), dan Allahu Akbar (34 kali) setiap kali hendak berbaring di tempat tidur.
  2. Meyakini keutamaannya: Yakinilah bahwa dzikir ini lebih baik daripada harta benda dunia yang paling berharga sekalipun, karena pahalanya kekal di sisi Allah.
  3. Meneladani kasih sayang Nabi ﷺ: Hadits ini menunjukkan betapa perhatiannya Nabi ﷺ kepada keluarganya dan umatnya, selalu memberikan yang terbaik, baik untuk urusan dunia maupun akhirat.
  4. Menjaga lisan dari keluhan: Fatimah tidak mengeluh dengan berlebihan, tetapi mencari solusi. Kita pun hendaknya tidak banyak mengeluh, melainkan mencari solusi dan berlindung kepada Allah.
  5. Mengamalkan dzikir dengan konsisten: Jadikanlah dzikir ini sebagai kebiasaan yang tidak pernah ditinggalkan, sebagaimana Ali dan Fatimah yang berusaha menjaganya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?