Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 5029 tentang Adab bersin dengan menutup mulut dan merendahkan suara

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan adab mulia ketika bersin, yaitu menutup mulut dengan tangan atau kain serta merendahkan suara. Ini adalah bentuk tawadhu' dan menjaga adab di hadapan orang lain, karena suara bersin yang keras dapat mengganggu. Para ulama menjadikan hadits ini sebagai dalil sunnahnya menutup mulut saat bersin dan tidak mengeraskan suara.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Abu Dawud:

Teks Arab hadits (sebagaimana yang Anda cantumkan):

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، حَدَّثَنَا يَحْيَى، عَنِ ابْنِ عَجْلاَنَ، عَنْ سُمَىٍّ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا عَطَسَ وَضَعَ يَدَهُ أَوْ ثَوْبَهُ عَلَى فِيهِ وَخَفَضَ أَوْ غَضَّ بِهَا صَوْتَهُ . شَكَّ يَحْيَى .

Terjemahan: Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Apabila Rasulullah ﷺ bersin, beliau meletakkan tangan atau pakaiannya di mulutnya dan merendahkan suaranya." (Yahya ragu apakah lafaznya khafadha atau ghadhdha).

Status Hadits: Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya (Kitab Adab, Bab Tentang Bersin, no. 5029). Hadits ini dinilai hasan oleh para ulama hadits. Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah menyebutkan dalam Shahih Abi Dawud bahwa hadits ini hasan shahih.

Kaitan dengan Ulama:

  • Imam Abu Dawud (w. 275 H) memuatnya dalam kitab Sunan-nya sebagai bab tersendiri tentang adab bersin, menunjukkan perhatian ulama terhadap adab sehari-hari ini.
  • Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa menutup mulut saat bersin adalah perbuatan yang dianjurkan, baik dengan tangan maupun dengan kain, dan ini termasuk adab yang diajarkan Nabi ﷺ.
  • Imam Ibn Rajab al-Hanbali rahimahullah dalam Jami' al-'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa adab-adab kecil seperti ini menunjukkan kesempurnaan syariat Islam yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia.

Penjelasan Rinci

Hadits ini menunjukkan beberapa pelajaran penting:

1. Adab Menutup Mulut Saat Bersin

Nabi ﷺ biasa menutup mulutnya ketika bersin, baik dengan tangan maupun dengan kain/pakaian. Ini dilakukan agar percikan air liur tidak keluar mengenai orang lain atau makanan, dan juga agar suara bersin tidak terlalu keras. Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Al-Adzkar menyebutkan bahwa disunnahkan bagi orang yang bersin untuk menutup mulutnya dengan tangan atau sapu tangan, dan merendahkan suaranya.

2. Merendahkan Suara

Dalam hadits ini, Nabi ﷺ merendahkan suara ketika bersin. Ini menunjukkan bahwa bersin bukanlah ajang untuk bersuara keras, tetapi dilakukan dengan tenang dan tidak mengganggu. Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan bahwa merendahkan suara saat bersin adalah bagian dari adab Islam, karena suara yang keras dapat mengganggu orang lain, terutama di majelis ilmu atau di tempat umum.

3. Perbedaan Lafaz "Khafadha" atau "Ghadhdha"

Perawi hadits, Yahya bin Sa'id al-Qaththan, ragu apakah lafaznya khafadha (merendahkan) atau ghadhdha (menundukkan/mengurangi). Kedua makna ini saling melengkapi dan menunjukkan tujuan yang sama, yaitu menjadikan suara bersin tidak terlalu keras. Ini menunjukkan kejujuran para perawi hadits dalam menyampaikan riwayat, karena mereka tidak menambah-nambah lafaz yang tidak pasti.

4. Hikmah di Balik Adab Ini

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa adab ini mengajarkan umat Islam untuk selalu menjaga perasaan orang lain. Bersin adalah reaksi alami tubuh, tetapi cara kita meresponsnya tetap harus dalam koridor adab. Ini juga mengajarkan tawadhu', karena orang yang bersin dengan suara keras bisa dianggap sombong atau tidak peduli lingkungan sekitarnya.

5. Kaitan dengan Hadits Lain

Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim, Nabi ﷺ mengajarkan agar orang yang bersin mengucapkan "Alhamdulillah" dan saudaranya menjawab "Yarhamukallah". Adab menutup mulut ini melengkapi adab bersin secara keseluruhan: menutup mulut, merendahkan suara, dan memuji Allah.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Imam Malik bin Anas rahimahullah sangat memperhatikan adab-adab kecil dalam majelis ilmunya. Beliau tidak suka jika ada orang yang berbicara keras atau bersin dengan suara yang mengganggu di majelisnya. Suatu hari, ada seorang pemuda yang bersin dengan suara sangat keras di majelis Imam Malik. Imam Malik menegurnya dengan lembut, "Wahai anakku, ketahuilah bahwa ilmu itu datang dengan ketenangan. Barangsiapa yang ingin mengambil manfaat dari majelis ilmu, hendaknya ia menjaga adab, termasuk saat bersin." Pemuda itu pun tersipu malu dan sejak saat itu selalu menjaga adabnya.

Kisah ini menunjukkan bahwa para ulama salaf sangat memperhatikan adab-adab kecil, karena adab adalah buah dari ilmu dan iman. Sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama: "Adab itu lebih tinggi derajatnya daripada ilmu." Seseorang yang berilmu tetapi tidak beradab, ilmunya tidak akan bermanfaat.

Kesimpulan Praktis

  1. Menutup mulut saat bersin dengan tangan atau kain/pakaian, sebagaimana dilakukan Nabi ﷺ.
  2. Merendahkan suara ketika bersin, tidak mengeraskannya agar tidak mengganggu orang lain.
  3. Mengucapkan "Alhamdulillah" setelah bersin, dan saudara yang mendengar menjawab "Yarhamukallah".
  4. Menjaga adab di majelis ilmu dan di tempat umum, karena adab adalah bagian dari iman.
  5. Meneladani para ulama salaf yang sangat memperhatikan adab-adab kecil dalam keseharian.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.