Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan bahwa kemampuan berbicara yang fasih dan memukau bisa memiliki efek seperti sihir dalam mempengaruhi hati pendengar, namun tidak boleh digunakan untuk kebatilan. Sementara itu, puisi yang baik mengandung hikmah dan kebijaksanaan yang bermanfaat, selama tidak bertentangan dengan syariat. Keduanya adalah anugerah yang harus digunakan di jalan kebaikan.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. Asy-Syu'ara' [26]: 224-227
وَالشُّعَرَاءُ يَتَّبِعُهُمُ الْغَاوُونَ ﴿٢٢٤﴾ أَلَمْ تَرَ أَنَّهُمْ فِي كُلِّ وَادٍ يَهِيمُونَ ﴿٢٢٥﴾ وَأَنَّهُمْ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ ﴿٢٢٦﴾ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَذَكَرُوا اللَّهَ كَثِيرًا وَانتَصَرُوا مِن بَعْدِ مَا ظُلِمُوا ۗ وَسَيَعْلَمُ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَيَّ مُنقَلَبٍ يَنقَلِبُونَ ﴿٢٢٧﴾
Artinya: "Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. Tidakkah engkau melihat bahwa mereka berjalan di setiap lembah (dengan khayalan mereka)? Dan sesungguhnya mereka mengatakan apa yang tidak mereka perbuat. Kecuali orang-orang (penyair) yang beriman dan beramal saleh dan banyak mengingat Allah serta mendapat kemenangan setelah dizalimi. Dan orang-orang yang zalim kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali."
Hadits terkait:
Hadits riwayat Abu Dawud no. 5011 dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma. Hadits ini juga diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam Sunan-nya dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud.
Penjelasan ulama:
- Imam Al-Khattabi (w. 388 H) dalam Ma'alim as-Sunan menjelaskan bahwa yang dimaksud "sihir dalam bayan (kemampuan berbicara)" adalah kemampuan seseorang untuk menyampaikan kebatilan dengan kemasan yang indah sehingga orang lain terpengaruh, sebagaimana tukang sihir mempengaruhi orang lain dengan sihirnya.
- Ibnu Qayyim al-Jawziyyah (w. 751 H) dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa "sihir" di sini bukan sihir hakiki yang diharamkan, melainkan kiasan karena efeknya yang kuat dalam mempengaruhi hati dan pikiran pendengar.
- Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin (w. 1421 H) dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin menjelaskan bahwa puisi yang mengandung hikmah adalah puisi yang mengajak kepada kebaikan, menjauhi keburukan, dan mengandung nasihat yang bermanfaat.
Penjelasan Rinci
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Al-Adab (Etika), Bab Ma Ja'a fi asy-Syi'r (Bab Tentang Puisi). Sanadnya: Musaddad meriwayatkan dari Abu Awanah, dari Simak bin Harb, dari Ikrimah maula Ibnu Abbas, dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma.
Makna "Inna minal bayani sihra" (Sesungguhnya di antara kemampuan berbicara ada sihir):
Para ulama dari kalangan salaf menjelaskan bahwa ungkapan ini adalah pujian terhadap kemampuan berbicara yang baik, sekaligus peringatan agar tidak menyalahgunakannya. Al-Hasan al-Bashri (w. 110 H) mengatakan bahwa yang dimaksud adalah kemampuan seseorang untuk membenarkan sesuatu yang batil dengan kata-kata yang indah sehingga orang lain menyangka itu benar. Ini adalah peringatan agar kita tidak tertipu oleh kefasihan lidah.
Imam an-Nawawi (w. 676 H) dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa "sihir" di sini adalah kinayah (kiasan) karena pengaruhnya yang cepat dan kuat dalam mempengaruhi hati, bukan berarti sihir yang diharamkan. Sebagaimana sihir dapat mengubah persepsi seseorang, demikian pula kata-kata yang fasih dapat mengubah pandangan seseorang terhadap suatu perkara.
Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H) dalam Fath al-Bari menambahkan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya memuji kemampuan berbicara yang baik, selama digunakan untuk kebenaran. Namun jika digunakan untuk kebatilan, maka ia menjadi tercela.
Makna "Wa inna minasy syi'ri hukman" (Dan sesungguhnya di antara puisi ada kebijaksanaan):
Yang dimaksud "hukman" di sini adalah kata-kata bijak yang mengandung kebenaran dan hikmah. Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) sangat menyukai puisi yang mengandung hikmah dan nasihat. Beliau sendiri sering melantunkan syair-syair yang mengandung makna mendalam.
Ibnu Rajab al-Hanbali (w. 795 H) dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa puisi yang baik adalah yang mengandung peringatan, nasihat, dan ajakan kepada kebaikan. Adapun puisi yang berisi kebatilan, fitnah, atau mengajak kepada maksiat, maka ia tercela dan dilarang.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di (w. 1376 H) dalam Tafsir as-Sa'di saat menafsirkan QS. Asy-Syu'ara' ayat 224-227 menjelaskan bahwa para penyair terbagi dua: yang sesat karena mengikuti hawa nafsu dan mengatakan apa yang tidak mereka lakukan, dan yang beriman yang menggunakan syairnya untuk membela Islam, menasihati, dan mengingatkan manusia.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Hassan bin Tsabit radhiyallahu 'anhu adalah penyair Rasulullah ﷺ. Beliau menggunakan syairnya untuk membela Islam dan menjawab serangan kaum musyrikin. Rasulullah ﷺ sendiri mempersilakan Hassan untuk menyindir kaum musyrikin di masjid, dan bersabda: "Sesungguhnya Ruhul Qudus (Jibril) bersamamu, wahai Hassan." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Ini menunjukkan bahwa puisi yang baik dan digunakan untuk membela kebenaran adalah perkara yang mulia. Imam asy-Syafi'i (w. 204 H) sendiri dikenal sebagai seorang yang menguasai syair dan sering mengutip syair-syair bijak dalam majelis ilmunya.
Kesimpulan Praktis
- Gunakan kemampuan berbicara untuk kebaikan - Jangan memanfaatkan kefasihan lidah untuk membenarkan kebatilan atau menipu orang lain.
- Apresiasi puisi yang mengandung hikmah - Puisi yang baik adalah yang berisi nasihat, peringatan, dan ajakan kepada ketaatan.
- Hindari puisi dan kata-kata yang merusak - Jauhi syair yang mengandung fitnah, maksiat, atau mengajak kepada keburukan.
- Jadilah pribadi yang jujur dalam berbicara - Kefasihan tanpa kejujuran hanya akan menyesatkan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk menggunakan lisan kita hanya untuk kebaikan dan menjadikan kita termasuk hamba-Nya yang bijaksana dalam berkata.