Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 5005 tentang Larangan berbicara berlebihan dan memutarbalikkan kata

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita agar tidak berlebihan dalam berbicara, terutama dengan memilih kata-kata yang rumit, berbelit-belit, dan dibuat-buat hanya untuk menunjukkan kepandaian. Allah ﷻ membenci orang yang "beligh" (pandai memutar kata) yang menggunakan lidahnya seperti sapi yang mengunyah rumput—bergerak berlebihan tanpa manfaat. Yang dicintai Allah adalah pembicaraan yang jelas, lugas, dan bermanfaat, sebagaimana tuntunan Nabi ﷺ.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Abu Dawud:

Rasulullah ﷺ bersabda:

> "إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبْغِضُ الْبَلِيغَ مِنَ الرِّجَالِ الَّذِي يَتَخَلَّلُ بِلِسَانِهِ تَخَلُّلَ الْبَاقِرَةِ بِلِسَانِهَا"

Artinya: "Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla membenci orang yang pandai berbicara (beligh) di antara laki-laki yang menggerakkan lidahnya di antara giginya seperti sapi yang mengunyah (rumput)." (HR. Abu Dawud, no. 5005)

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan At-Tirmidzi dengan redaksi yang serupa. At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih.

Dalil Al-Qur'an yang Mendukung:

Allah ﷻ berfirman:

> وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

QS. Al-Isra' [17]: 36

Artinya: "Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya."

Ayat ini mengingatkan kita bahwa setiap ucapan akan dipertanggungjawabkan, sehingga kita harus berhati-hati dalam berbicara dan tidak berlebihan.

Penjelasan Rinci

Makna "Al-Baligh" dalam Hadits

Imam Al-Khattabi (salah satu pensyarah Sunan Abu Dawud, dan termasuk ulama yang sezaman dengan ulama dalam daftar rujukan kita) menjelaskan bahwa "al-baligh" di sini bukanlah orang yang sekadar pandai berbicara, tetapi orang yang berlebihan dalam berbicara—memilih kata-kata yang rumit, berbelit-belit, dan dibuat-buat untuk menunjukkan kepandaiannya. Ia seperti orang yang "mengunyah" kata-kata dengan lidahnya secara berlebihan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan bahwa yang tercela adalah "takalluf"—memaksakan diri dalam berbicara dengan cara yang tidak wajar. Beliau berkata: "Sesungguhnya Nabi ﷺ membenci orang yang berlebihan dalam berbicara, karena hal itu menunjukkan kesombongan dan keinginan untuk dipuji, bukan keinginan untuk menyampaikan kebenaran."

Perumpamaan Sapi yang Mengunyah

Nabi ﷺ mengumpamakan orang seperti ini dengan sapi yang mengunyah rumput. Sapi menggerakkan mulutnya terus-menerus, bolak-balik, tanpa henti, tetapi yang dihasilkan hanyalah makanan yang sama—tidak ada manfaat tambahan. Demikian pula orang yang berlebihan dalam berbicara: ia membolak-balik kata, memilih istilah yang sulit, tetapi pada hakikatnya tidak menambah kebaikan atau manfaat bagi pendengarnya.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya Madarijus Salikin menjelaskan bahwa pembicaraan yang baik adalah yang jelas, ringkas, dan padat makna. Beliau menukil perkataan sebagian ulama salaf: "Sebaik-baik perkataan adalah yang sedikit namun padat makna, tidak bertele-tele dan tidak pula terlalu pendek sehingga membingungkan."

Adab Berbicara Menurut Para Ulama

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Al-Adzkar menyebutkan bahwa di antara adab berbicara adalah:

  1. Tidak berlebihan dalam memilih kata-kata
  2. Tidak memaksakan diri untuk tampak pandai
  3. Menyesuaikan pembicaraan dengan kebutuhan pendengar
  4. Mengutamakan kejelasan daripada keindahan kata

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah ﷻ memerintahkan hamba-Nya untuk berkata yang "sadid" (benar dan tepat) dan "ma'ruf" (baik dan dikenal kebaikannya), bukan yang rumit dan berbelit-belit.

Perbedaan Antara "Baligh" yang Terpuji dan Tercela

Perlu dipahami: pandai berbicara tidak selalu tercela. Yang tercela adalah jika kepandaian itu digunakan untuk:

  • Menutup-nutupi kebenaran dengan kata-kata yang indah
  • Memutarbalikkan fakta untuk kepentingan pribadi
  • Membuat bingung pendengar dengan istilah-istilah yang tidak perlu
  • Menunjukkan kesombongan dan keinginan dipuji

Adapun jika kepandaian berbicara digunakan untuk menyampaikan kebenaran dengan cara yang baik dan jelas, maka itu terpuji. Bahkan Nabi ﷺ sendiri memiliki kemampuan berbicara yang sangat baik, ringkas namun padat makna (jawami'ul kalim).

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Amr bin Al-'Ash—perawi hadits ini—adalah seorang sahabat yang sangat memperhatikan adab berbicara. Beliau termasuk sahabat yang banyak meriwayatkan hadits tentang keutamaan menjaga lisan.

Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

> "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR. Bukhari dan Muslim)

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini adalah pondasi adab berbicara. Jika kita tidak bisa berkata baik, maka lebih baik diam. Karena diam yang selamat lebih baik daripada berbicara yang menyesatkan atau menyakiti.

Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah berkata: "Sesungguhnya seseorang yang berbicara dengan satu kalimat yang tidak bermanfaat baginya, maka ia telah menyia-nyiakan waktunya. Dan barangsiapa yang banyak bicaranya, banyak pula salahnya. Dan barangsiapa yang banyak salahnya, sedikit pula kehati-hatiannya."

Kesimpulan Praktis

  1. Hindari berlebihan dalam berbicara—pilih kata yang jelas dan lugas, jangan memaksakan istilah-istilah rumit.
  2. Niatkan setiap pembicaraan untuk kebaikan—jika tidak ada manfaat, lebih baik diam.
  3. Jangan memutarbalikkan kata untuk menutupi kebenaran atau mencari pujian.
  4. Gunakan kepandaian berbicara untuk menyampaikan kebenaran dengan cara yang baik dan mudah dipahami.
  5. Teladani Nabi ﷺ yang berbicara dengan ringkas, jelas, dan penuh hikmah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.