Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah salah satu dalil utama tentang tata cara adzan yang diajarkan langsung oleh Nabi ﷺ kepada sahabat Abu Mahdzurah radhiyallahu 'anhu. Hadits ini menjelaskan bahwa adzan memiliki lafazh tertentu, termasuk disyariatkannya tarji' (mengulang syahadat dengan suara pelan terlebih dahulu) dan tatswib (lafazh "ash-shalatu khairum minan-naum") khusus pada adzan Subuh. Ini menunjukkan bahwa adzan adalah ibadah yang tata caranya telah ditetapkan (tauqifi) dan tidak boleh diubah-ubah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Shalat, Bab Cara Adzan, no. 500. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Imam An-Nasa'i, dan Imam At-Tirmidzi dengan redaksi yang serupa. Para ulama berbeda pendapat mengenai derajat hadits ini, namun Imam At-Tirmidzi menghasankannya, dan Imam Al-Albani menilainya shahih dalam Shahih Abi Dawud.
Adapun dalil dari Al-Qur'an tentang perintah adzan, Allah ﷻ berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ
"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan shalat pada hari Jum'at, maka segeralah kamu mengingat Allah..." (QS. Al-Jumu'ah [62]: 9)
Ayat ini menunjukkan bahwa adzan adalah seruan resmi untuk shalat yang telah disyariatkan, dan tata caranya dijelaskan oleh Nabi ﷺ dalam hadits-hadits shahih.
Penjelasan Rinci
Hadits Abu Mahdzurah ini menjelaskan beberapa poin penting tentang tata cara adzan:
1. Adzan Dimulai dengan Empat Kali Takbir
Nabi ﷺ mengajarkan: "Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar" (4 kali) dengan suara keras. Ini berbeda dengan riwayat hadits Abdullah bin Zaid yang menyebutkan takbir 4 kali juga, dan ini disepakati oleh para ulama. Imam Asy-Syafi'i dan Imam Ahmad berpendapat takbir adzan adalah 4 kali, berdasarkan hadits ini dan hadits-hadits lainnya.
2. Syahadat Dibaca Dua Kali dengan Tarji'
Yang unik dalam hadits ini adalah adanya tarji', yaitu mengucapkan syahadat dengan suara pelan terlebih dahulu, lalu mengulanginya dengan suara keras. Rinciannya:
- Ucapkan dengan suara pelan: "Asyhadu an la ilaha illallah" (2x), "Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah" (2x)
- Kemudian ulangi dengan suara keras: "Asyhadu an la ilaha illallah" (2x), "Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah" (2x)
Imam Asy-Syafi'i dan Imam Ahmad berpendapat bahwa tarji' ini disyariatkan berdasarkan hadits ini. Namun Imam Abu Hanifah dan Imam Malik tidak mensyariatkannya, karena mereka lebih menguatkan hadits Abdullah bin Zaid yang tidak menyebutkan tarji'. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa kedua bentuk ini pernah dipraktikkan oleh Nabi ﷺ, dan keduanya sah. Beliau cenderung membolehkan kedua cara tersebut, namun yang paling utama adalah mengikuti riwayat yang shahih sesuai daerah masing-masing.
3. Hayya 'alash-shalah dan Hayya 'alal-falah Diucapkan Dua Kali
Setelah syahadat, muadzin mengucapkan: "Hayya 'alash-shalah" (2x) dan "Hayya 'alal-falah" (2x). Ini disepakati oleh seluruh ulama.
4. Tatswib pada Adzan Subuh
Nabi ﷺ mengajarkan khusus untuk adzan Subuh: "Ash-shalatu khairum minan-naum" (2x). Ini disebut tatswib. Para ulama sepakat bahwa tatswib ini disyariatkan pada adzan Subuh, berdasarkan hadits ini dan hadits Abu Mahdzurah lainnya. Namun mereka berbeda pendapat apakah tatswib diucapkan sebelum atau sesudah hayya 'alal-falah. Dalam hadits ini, tatswib diucapkan setelah hayya 'alal-falah, dan inilah yang diamalkan oleh jumhur ulama.
5. Penutup Adzan
Adzan ditutup dengan "Allahu Akbar, Allahu Akbar, La ilaha illallah" (2x takbir, 1x syahadat). Ini juga disepakati oleh para ulama.
Imam Ibnu Qayyim dalam kitabnya Zaad al-Ma'ad menjelaskan bahwa Nabi ﷺ mengajarkan beberapa bentuk adzan, dan semua bentuk tersebut sah. Beliau menegaskan bahwa yang terpenting adalah muadzin tidak keluar dari lafazh-lafazh yang diajarkan Nabi ﷺ.
Story Telling
Abu Mahdzurah radhiyallahu 'anhu adalah seorang pemuda Quraisy yang awalnya belum masuk Islam. Ketika Nabi ﷺ menaklukkan Makkah, Abu Mahdzurah dan beberapa temannya sedang berada di suatu tempat dan mereka mengejek suara adzan dengan cara menirukannya secara olok-olok. Nabi ﷺ mendengar hal itu, lalu memanggil Abu Mahdzurah. Beliau mengusap bagian depan kepalanya dan mendoakannya dengan keberkahan. Setelah itu, Nabi ﷺ mengajarkan langsung tata cara adzan kepadanya.
Abu Mahdzurah berkata: "Maka Allah memberikan keberkahan padaku melalui usapan tangan beliau tersebut." Setelah peristiwa itu, Abu Mahdzurah menjadi muadzin tetap di Makkah dan tidak pernah meninggalkannya hingga wafat. Kisah ini menunjukkan bahwa adzan adalah amalan yang mulia, dan Nabi ﷺ sangat memperhatikan pendidikan langsung kepada para sahabatnya. (HR. Ahmad dan An-Nasa'i, dishahihkan oleh Al-Albani)
Kesimpulan Praktis
- Adzan adalah ibadah yang tata caranya telah ditetapkan oleh Nabi ﷺ, tidak boleh dikurangi atau ditambah seenaknya.
- Lafazh adzan yang diajarkan Nabi ﷺ adalah: 4x takbir, 2x syahadat (dengan tarji' menurut sebagian ulama), 2x hayya 'alash-shalah, 2x hayya 'alal-falah, lalu pada Subuh ditambah 2x tatswib, kemudian ditutup 2x takbir dan 1x syahadat.
- Bagi yang ingin mengamalkan tarji', itu sah berdasarkan hadits ini. Bagi yang tidak mengamalkannya, juga sah berdasarkan hadits Abdullah bin Zaid. Keduanya berasal dari Nabi ﷺ.
- Seorang muadzin hendaknya mengumandangkan adzan dengan suara yang baik dan keras, karena adzan adalah seruan untuk beribadah kepada Allah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.