Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 4997 tentang Larangan menyombongkan diri dengan pemberian yang tidak diterima

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini melarang seseorang menampakkan atau mengaku-aku mendapatkan nikmat/pemberian yang sebenarnya tidak ia terima, karena itu termasuk bentuk kedustaan. Rasulullah ﷺ menyerupakan orang yang melakukan hal itu seperti orang yang memakai "dua pakaian kebohongan", yaitu tampak indah di luar tetapi penuh kepalsuan. Larangan ini berlaku dalam urusan rumah tangga (seperti madu/istri) maupun dalam urusan lain, karena intinya adalah kejujuran dan menjauhi riya' serta pamer yang dusta.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan Abu Dawud, Kitab Adab, Bab "Seseorang yang Menyombongkan Diri dengan Apa yang Tidak Diberikan", dari jalur Asma' binti Abu Bakr radhiyallahu 'anha.

Teks hadits:

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ فَاطِمَةَ بِنْتِ الْمُنْذِرِ، عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ، أَنَّ امْرَأَةً، قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لِي جَارَةً - تَعْنِي ضَرَّةً - هَلْ عَلَىَّ جُنَاحٌ إِنْ تَشَبَّعْتُ لَهَا بِمَا لَمْ يُعْطِ زَوْجِي قَالَ " الْمُتَشَبِّعُ بِمَا لَمْ يُعْطَ كَلاَبِسِ ثَوْبَىْ زُورٍ "

Terjemahan: "Diriwayatkan dari Asma' binti Abu Bakr, bahwa seorang wanita berkata: 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku memiliki tetangga — yaitu madu (istri lain suamiku) — apakah aku berdosa jika aku menyombongkan diri kepadanya dengan sesuatu yang tidak diberikan suamiku kepadaku?' Beliau bersabda: 'Orang yang menyombongkan diri dengan apa yang tidak diberikan kepadanya adalah seperti orang yang memakai dua pakaian kebohongan.'"

Ayat yang relevan tentang larangan berdusta dan mengaku-aku sesuatu yang tidak dimiliki:

وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَٰذَا حَلَالٌ وَهَٰذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ

QS. An-Nahl [16]: 116

"Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta: 'Ini halal dan ini haram', untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidak akan beruntung."

Juga firman Allah:

إِنَّمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَاذِبُونَ

QS. An-Nahl [16]: 105

"Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta."

Penjelasan Rinci

Makna hadits secara bahasa dan istilah:

Kata "تَشَبَّعْتُ" berasal dari "شِبَع" (kenyang). Dalam konteks ini, maknanya adalah menampakkan diri seolah-olah kenyang/puas dengan pemberian suami, padahal tidak demikian. Ini termasuk "تَشَبُّعٌ بِمَا لَمْ يُعْطَ" — mengaku-aku mendapatkan sesuatu yang tidak diberikan.

Pemahaman ulama:

Imam an-Nawawi dalam kitabnya Syarh Shahih Muslim (ketika membahas hadits serupa tentang "المتشبع بما لم يعط كلابس ثوبي زور") menjelaskan bahwa makna hadits ini adalah: orang yang menampakkan kepada orang lain bahwa ia memiliki keutamaan atau nikmat yang sebenarnya tidak ia miliki, maka ia seperti orang yang memakai pakaian kebohongan. Pakaian itu tampak indah dari luar, tetapi hakikatnya adalah kedustaan. An-Nawawi juga menyebutkan bahwa ini mencakup semua bentuk pamer (riya') dan berbangga diri dengan sesuatu yang tidak nyata.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa "ثوبي زور" (dua pakaian kebohongan) adalah ungkapan kinayah (kiasan) tentang kedustaan yang sangat jelas. Dinamakan "dua pakaian" karena kebohongan itu menutupi hakikat sebagaimana pakaian menutupi tubuh. Orang yang berdusta seakan-akan memakai pakaian yang bukan miliknya.

Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menegaskan bahwa hadits ini menunjukkan haramnya berdusta dan menampakkan sesuatu yang tidak sesuai kenyataan, baik dalam urusan dunia maupun agama. Beliau juga menyebutkan bahwa ini termasuk dosa besar jika dilakukan dengan sengaja dan terus-menerus.

Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Ighatsat al-Lahfan menjelaskan bahwa "tasyabbu'" (mengaku-aku kenyang) adalah salah satu pintu setan untuk menjerumuskan manusia ke dalam riya' dan ujub. Orang yang melakukannya sebenarnya sedang menipu dirinya sendiri dan orang lain.

Konteks hadits:

Hadits ini turun dalam konteks seorang wanita yang memiliki madu (istri lain suaminya). Ia ingin menampakkan kepada madunya bahwa suaminya memberinya lebih banyak, padahal tidak. Ini adalah bentuk persaingan yang tidak sehat dan mengandung kedustaan. Rasulullah ﷺ melarangnya dengan tegas.

Perbedaan pendapat:

Para ulama dari daftar yang disebutkan sepakat bahwa hadits ini menunjukkan larangan berdusta dan menampakkan sesuatu yang tidak nyata. Tidak ada perbedaan pendapat yang signifikan di antara mereka. Yang paling kuat adalah pendapat yang menyatakan bahwa larangan ini bersifat umum, mencakup semua bentuk "tasyabbu' bidun 'atha'" (mengaku-aku mendapat pemberian padahal tidak), baik dalam urusan rumah tangga, sosial, maupun ibadah.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Asma' binti Abu Bakr radhiyallahu 'anha, seorang sahabiyah yang mulia, meriwayatkan hadits ini. Beliau adalah putri Abu Bakr ash-Shiddiq dan saudari Aisyah radhiyallahu 'anha. Dalam riwayat ini, seorang wanita datang kepada Nabi ﷺ mengadukan keadaan madunya. Wanita itu ingin menampakkan bahwa suaminya memberinya lebih banyak daripada yang diberikan kepada madunya, padahal tidak demikian. Nabi ﷺ tidak membenarkan perbuatan itu, melainkan mengingatkan bahwa itu adalah kedustaan yang nyata.

Hikmah: Islam sangat menjaga kejujuran, bahkan dalam hal-hal kecil seperti persaingan antar madu. Seorang Muslim harus jujur dalam segala keadaan, tidak menampakkan sesuatu yang tidak ada padanya, karena Allah mengetahui segala rahasia.

Kesimpulan Praktis

  1. Jujurlah dalam segala keadaan, baik dalam rumah tangga, pekerjaan, maupun pergaulan. Jangan menampakkan sesuatu yang tidak sesuai kenyataan.
  2. Hindari riya' dan pamer, karena itu termasuk "tasyabbu' bidun 'atha'" yang dilarang dalam hadits ini.
  3. Jangan membandingkan diri dengan orang lain dengan cara yang dusta, terutama dalam urusan rumah tangga. Persaingan yang sehat adalah yang didasari kejujuran.
  4. Ingatlah bahwa Allah mengetahui segala rahasia, maka tidak ada gunanya berdusta untuk menutupi kenyataan.
  5. Bertaubatlah jika pernah melakukan hal ini, dan berusahalah untuk selalu berkata benar.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?