Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 4994 tentang Menjelaskan bahwa setan mengalir dalam diri manusia seperti darah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita sebuah adab yang sangat mulia dari Nabi ﷺ, yaitu menjaga kejelasan dan menghilangkan prasangka buruk. Beliau ﷺ secara terbuka menjelaskan siapa wanita yang bersamanya agar tidak ada seorang pun yang berprasangka buruk. Ini adalah pelajaran tentang pentingnya menutup pintu fitnah dan was-was setan, serta menjaga hati sesama muslim dari bisikan yang buruk.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Al-Adab, Bab Fi Husnizh Zhann (Bab Dalam Berprasangka Baik), no. 4994. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim.

Teks Arab Hadits (sebagaimana yang Anda sertakan):

<p>حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْمَرْوَزِيُّ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ حُسَيْنٍ، عَنْ صَفِيَّةَ، قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مُعْتَكِفًا فَأَتَيْتُهُ أَزُورُهُ لَيْلاً فَحَدَّثْتُهُ وَقُمْتُ فَانْقَلَبْتُ فَقَامَ مَعِي لِيَقْلِبَنِي - وَكَانَ مَسْكَنُهَا فِي دَارِ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ - فَمَرَّ رَجُلاَنِ مِنَ الأَنْصَارِ فَلَمَّا رَأَيَا النَّبِيَّ ﷺ أَسْرَعَا فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ ‏"‏ عَلَى رِسْلِكُمَا إِنَّهَا صَفِيَّةُ بِنْتُ حُيَىٍّ ‏"‏ ‏.‏ قَالاَ سُبْحَانَ اللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ ‏"‏ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنَ الإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ فَخَشِيتُ أَنْ يَقْذِفَ فِي قُلُوبِكُمَا شَيْئًا ‏"‏ ‏.‏ أَوْ قَالَ ‏"‏ شَرًّا ‏"‏ ‏.</p>

Terjemahan:

Safiyyah binti Huyayy radhiyallahu 'anha berkata: "Rasulullah ﷺ sedang beri'tikaf. Aku datang menemuinya di malam hari. Aku berbicara dengannya, lalu aku berdiri dan berbalik (pulang). Beliau pun berdiri untuk mengantarku." (Safiyyah tinggal di rumah Usamah bin Zaid). "Lalu dua orang laki-laki dari kalangan Anshar lewat. Ketika mereka melihat Nabi ﷺ, mereka berjalan cepat. Maka Nabi ﷺ bersabda: 'Tenanglah kalian berdua, sesungguhnya dia adalah Safiyyah binti Huyayy.' Keduanya berkata: 'Maha Suci Allah, wahai Rasulullah!' Beliau bersabda: 'Sesungguhnya setan mengalir dalam diri manusia seperti mengalirnya darah. Maka aku khawatir setan akan melemparkan sesuatu (prasangka buruk) ke dalam hati kalian berdua.'" Atau beliau bersabda: "Kejahatan."

Dalil Al-Qur'an yang Terkait:

Allah Ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ

"Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa." (QS. Al-Hujurat [49]: 12)

Ayat ini memerintahkan kita untuk menjauhi prasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sumber dari banyak dosa, seperti menggunjing, memfitnah, dan merusak hubungan persaudaraan.

Penjelasan Rinci

Hadits ini adalah salah satu bukti kasih sayang dan perhatian Nabi ﷺ yang sangat besar terhadap umatnya. Beliau ﷺ tidak hanya menjaga dirinya dari perbuatan yang haram, tetapi juga menjaga hati para sahabatnya dari was-was dan prasangka buruk yang bisa menjerumuskan mereka ke dalam dosa.

1. Makna "Setan Mengalir dalam Diri Manusia Seperti Aliran Darah"

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan bahwa setan benar-benar dapat masuk ke dalam diri manusia dan membisikkan was-was ke dalam hatinya. Ini adalah hakikat yang nyata, bukan sekadar kiasan. Setan bisa mencapai hati manusia melalui aliran darah, sebagaimana disebutkan dalam hadits ini. Oleh karena itu, seorang mukmin harus selalu waspada dan berlindung kepada Allah dari bisikan setan, karena setan tidak pernah berhenti berusaha untuk menyesatkan manusia.

2. Sikap Nabi ﷺ yang Menutup Pintu Fitnah

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa tindakan Nabi ﷺ yang menyebut nama Safiyyah secara terang-terangan adalah bentuk saddu adz-dzari'ah (menutup jalan menuju perbuatan haram). Beliau ﷺ tidak membiarkan dua sahabat Anshar itu berprasangka buruk, meskipun mereka adalah orang-orang yang baik dan tidak akan berprasangka buruk kepada beliau. Namun, Nabi ﷺ tetap menjelaskan untuk menghilangkan keraguan yang mungkin timbul, karena setan bisa membisikkan sesuatu yang buruk ke dalam hati mereka.

3. Pelajaran dari Sikap Para Sahabat

Ketika dua sahabat Anshar itu mendengar penjelasan Nabi ﷺ, mereka langsung berkata, "Subhanallah, wahai Rasulullah!" Ini menunjukkan kesucian hati mereka. Mereka tidak memiliki prasangka buruk sedikit pun kepada Nabi ﷺ. Namun, Nabi ﷺ tetap menjelaskan, karena beliau sangat memahami bahwa bisikan setan itu nyata dan bisa datang kepada siapa saja, bahkan kepada orang-orang yang saleh sekalipun.

4. Penerapan dalam Kehidupan Sehari-hari

Hadits ini mengajarkan kita beberapa hal penting:

  • Menjaga kejelasan dalam pergaulan. Jika kita berada dalam situasi yang bisa menimbulkan prasangka buruk, maka sebaiknya kita menjelaskan dengan baik dan sopan, sebagaimana yang dicontohkan Nabi ﷺ.
  • Tidak mudah berprasangka buruk. Kita harus berusaha untuk selalu berprasangka baik kepada sesama muslim, karena prasangka buruk adalah dosa.
  • Berlindung dari bisikan setan. Kita harus senantiasa berdzikir dan berdoa kepada Allah agar dijauhkan dari was-was setan.

Story Telling

Ada sebuah kisah yang menunjukkan betapa Nabi ﷺ sangat menjaga hati para sahabatnya. Suatu ketika, beliau ﷺ sedang duduk bersama para sahabatnya, lalu datanglah seorang wanita yang merupakan salah satu istri beliau. Wanita itu berdiri di depan beliau dan berbicara. Setelah selesai, beliau ﷺ berdiri dan mengantarnya pulang. Di tengah jalan, mereka berpapasan dengan dua orang sahabat Anshar. Ketika melihat Nabi ﷺ, kedua sahabat itu pun berjalan cepat untuk menjauh.

Nabi ﷺ memanggil mereka dan berkata, "Tenanglah, ini adalah Safiyyah binti Huyayy." Keduanya menjawab, "Subhanallah, wahai Rasulullah, kami tidak memiliki prasangka buruk sedikit pun kepada engkau." Nabi ﷺ bersabda, "Sesungguhnya setan mengalir dalam diri manusia seperti aliran darah. Aku khawatir setan membisikkan sesuatu yang buruk ke dalam hati kalian berdua."

Kisah ini menunjukkan betapa lembutnya akhlak Nabi ﷺ. Beliau tidak marah kepada kedua sahabatnya, tetapi justru menjelaskan dengan tenang agar hati mereka bersih dari prasangka buruk. Ini adalah pelajaran bagi kita semua untuk selalu menjaga kejelasan dan tidak membiarkan kesalahpahaman terjadi.

Kesimpulan Praktis

  1. Jauhi prasangka buruk kepada sesama muslim, karena sebagian prasangka adalah dosa.
  2. Jaga kejelasan dalam pergaulan dan tutuplah pintu-pintu yang bisa menimbulkan fitnah.
  3. Selalu berlindung kepada Allah dari bisikan setan, karena setan mengalir dalam diri manusia seperti aliran darah.
  4. Jika melihat sesuatu yang bisa menimbulkan prasangka buruk, maka jelaskan dengan baik dan sopan, sebagaimana dicontohkan Nabi ﷺ.
  5. Biasakan berprasangka baik dan berbaik sangka kepada saudara sesama muslim.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?