Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita sebuah adab dan pemahaman yang sangat indah tentang shalat. Shalat bukanlah beban atau sekadar kewajiban rutin, melainkan sumber ketenangan, istirahat jiwa, dan kebahagiaan hati bagi seorang mukmin. Rasulullah ﷺ sendiri memerintahkan Bilal untuk mengumandangkan iqamah agar beliau dan para sahabat bisa "beristirahat" dengan shalat, karena di dalam shalat itulah beliau menemukan ketenangan dan kedekatan dengan Allah ﷻ.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Al-Adab, Bab Fi Shalat Al-'Atamah, no. 4986. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya. Para ulama menilai sanad hadits ini hasan (baik).
Dalil lain yang menguatkan makna ini adalah firman Allah ﷻ:
QS. Thaha [20]: 14
إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي
"Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku."
Ayat ini menunjukkan bahwa tujuan utama shalat adalah untuk mengingat Allah, dan dalam mengingat Allah itulah hati menjadi tenang, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Ar-Ra'd [13]: 28:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung pelajaran besar tentang hakikat shalat. Sahabat yang dijenguk oleh Abdullah bin Muhammad bin al-Hanafiyyah dan ayahnya (Muhammad bin al-Hanafiyyah, putra Ali bin Abi Thalib) adalah seorang Ansar yang sedang sakit. Ketika waktu shalat tiba, ia justru meminta air wudhu dan berkata, "Agar aku bisa shalat dan merasa istirahat." Perkataan ini membuat para pengunjungnya merasa heran, karena biasanya orang sakit akan merasa berat untuk shalat. Namun, sahabat Ansar ini menjelaskan bahwa ia mendengar langsung dari Rasulullah ﷺ yang bersabda kepada Bilal: "Bangkitlah, wahai Bilal, dan berikanlah kami kenyamanan (istirahat) dengan shalat."
Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ menjadikan shalat sebagai penyejuk mata dan kebahagiaan hatinya. Beliau ﷺ bersabda: "Dijadikan kesenanganku (kebahagiaanku) dalam shalat." (HR. An-Nasa'i, dan dinilai shahih oleh Syaikh al-Albani). Ibnul Qayyim mengatakan bahwa orang yang hatinya sibuk dengan urusan dunia akan merasa shalat sebagai beban, tetapi orang yang hatinya telah mengenal Allah dan mencintai-Nya akan merasa shalat sebagai istirahat dan kebahagiaan.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa shalat yang dilakukan dengan khusyuk dan menghadirkan hati akan menjadi sumber ketenangan. Beliau menukil bahwa para salaf sangat menantikan waktu shalat sebagaimana orang yang menantikan kekasihnya. Mereka merasa gelisah jika waktu shalat belum tiba, dan merasa tenang ketika sudah berada dalam shalat.
Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Fath al-Bari (syarah Shahih al-Bukhari) membahas tentang "istirahatnya orang-orang yang mencintai Allah dalam shalat." Beliau menjelaskan bahwa shalat adalah mi'raj (tangga spiritual) bagi seorang mukmin untuk berdialog dengan Allah. Dalam shalat, seorang hamba bermunajat kepada Rabb-nya, membaca firman-Nya, dan bersujud di hadapan-Nya. Inilah kenikmatan yang tidak bisa dirasakan oleh orang yang hatinya lalai.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah pernah berkata: "Sesungguhnya di dunia ini ada surga; barangsiapa yang tidak memasukinya, maka ia tidak akan memasuki surga di akhirat." Yang beliau maksud adalah kenikmatan beribadah dan bermunajat kepada Allah di dunia. Orang yang merasakan manisnya shalat dan dzikir, ia telah merasakan sebagian dari kenikmatan surga.
Para ulama juga menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan disunnahkannya mempercepat shalat ketika waktu telah masuk, dan tidak menundanya tanpa alasan. Rasulullah ﷺ memerintahkan Bilal untuk segera mengumandangkan iqamah, karena beliau sangat merindukan shalat. Ini juga menjadi bantahan bagi orang yang menganggap shalat sebagai beban dan selalu menunda-nundanya.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal — semoga Allah merahmatinya — ketika ditanya tentang kapan waktu istirahatnya, beliau menjawab: "Ketika aku meletakkan dahiku di tempat sujud (dalam shalat)." Ini menunjukkan bahwa para ulama salaf benar-benar menghayati makna hadits ini. Bagi mereka, shalat bukanlah kegiatan yang melelahkan, melainkan saat-saat paling indah untuk beristirahat dari hiruk-pikuk dunia.
Ada juga kisah tentang Sufyan ats-Tsauri yang berkata: "Tidaklah aku merasakan kenikmatan di dunia ini kecuali dalam tiga hal: (1) ketika aku membaca Al-Qur'an, (2) ketika aku berdzikir kepada Allah, dan (3) ketika aku berbicara tentang ilmu (agama)." Ini menunjukkan bahwa hati orang-orang yang beriman benar-benar merasakan ketenangan dalam ketaatan kepada Allah.
Kesimpulan Praktis
- Ubah persepsi kita tentang shalat. Shalat bukan beban, melainkan hadiah dari Allah untuk menenangkan jiwa kita.
- Berusahalah untuk khusyuk dalam shalat dengan memahami makna bacaan dan menghadirkan hati.
- Jangan menunda shalat dari awal waktunya, karena Rasulullah ﷺ sangat bersemangat untuk segera melaksanakannya.
- Jadikan shalat sebagai tempat curhat dan mengadu kepada Allah. Di dalam sujud, kita bisa menyampaikan segala keluh kesah kita kepada-Nya.
- Jika kita merasa lelah dengan urusan dunia, maka carilah ketenangan dalam shalat, sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda: "Wahai Bilal, tenangkanlah kami dengan shalat."
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.