Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa shalat bukan sekadar kewajiban yang memberatkan, tetapi sarana untuk mendapatkan ketenangan dan istirahat bagi jiwa. Nabi ﷺ menyebut shalat sebagai waktu "beristirahat", bukan "menyelesaikan beban". Karena itu, seorang muslim seharusnya merindukan shalat sebagai waktu tenang bersama Allah, bukan menganggapnya sebagai gangguan aktivitas.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits utama (Sunan Abu Dawud no. 4985, Kitab Adab):
Perawi: Salim bin Abi al-Ja'd, dari seorang lelaki Khuza'ah. Jalur: Musaddad → Isa bin Yunus → Mis'ar bin Kidam → Amru bin Murrah → Salim bin Abi al-Ja'd.
Teks hadits:
> يَا بِلاَلُ أَقِمِ الصَّلاَةَ أَرِحْنَا بِهَا
Terjemahan: "Wahai Bilal, tegakkanlah shalat, tenangkanlah kami dengannya."
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. Al-Baqarah [2]: 45
> يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
Terjemahan: "Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar."
QS. Thaha [20]: 14
> إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي
Terjemahan: "Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku."
Kaitan dengan ulama daftar:
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits "أرحنا بها" menunjukkan shalat adalah sebab ketenangan hati, bukan beban.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa para salaf mencintai shalat dan menantinya, berbeda dengan orang munafik yang menganggapnya beban.
- Ibnul Qayyim dalam Zad al-Ma'ad menegaskan shalat adalah "raudhah" (taman) bagi hati orang beriman.
Penjelasan Rinci
Makna hadits secara bahasa dan istilah:
Kata "أَرِحْنَا" berasal dari akar "رَاحَ - يَرِيحُ" yang berarti melepaskan lelah, memberi ketenangan, atau mengistirahatkan. Nabi ﷺ tidak berkata "أَقِمِ الصَّلَاةَ نُصَلِّي" (dirikan shalat agar kami shalat), tetapi "أَرِحْنَا بِهَا" (tenangkan kami dengannya). Ini menunjukkan bahwa shalat adalah tujuan ketenangan, bukan sekadar rutinitas.
Pemahaman para ulama daftar:
- Imam an-Nawawi (wafat 676 H) dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil bahwa shalat adalah waktu istirahat ruhani. Beliau menyebutkan bahwa Nabi ﷺ menjadikan shalat sebagai "qurratu 'ain" (penyejuk mata), sebagaimana dalam hadits lain: "وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ" (dijadikan penyejuk mataku dalam shalat).
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa ucapan "أرحنا بها" menunjukkan kecintaan Nabi ﷺ kepada shalat, dan bahwa orang beriman seharusnya merasa tenang ketika menghadap Allah, bukan merasa terbebani.
- Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa shalat adalah "mizan" (timbangan) keimanan seseorang. Barangsiapa mencintai shalat, ia akan merasakan ketenangan; barangsiapa menganggapnya beban, ia akan kehilangan ketenangan.
- Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman ketika menafsirkan QS. Al-Baqarah [2]: 45 menjelaskan bahwa shalat menjadi penolong dalam menghadapi kesulitan karena di dalamnya ada dzikir, doa, dan kedekatan dengan Allah.
Perbedaan pendapat:
Sebagian ulama daftar membahas apakah "أرحنا بها" berarti "istirahatkan kami dari shalat" atau "istirahatkan kami dengan shalat". Yang paling kuat menurut dalil adalah makna kedua: shalat itu sendiri adalah istirahat. Ini dikuatkan oleh hadits lain bahwa Nabi ﷺ bersabda: "حُبِّبَ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا النِّسَاءُ وَالطِّيبُ، وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ" (dijadikan penyejuk mataku dalam shalat) — riwayat an-Nasa'i, dan dipahami oleh Ibnul Qayyim sebagai dalil bahwa shalat adalah kenikmatan, bukan beban.
Konteks bab "Shalat Al-'Atamah":
Al-'Atamah adalah shalat Isya yang dikerjakan di awal malam. Bab ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ menganjurkan untuk tidak menunda shalat Isya hingga larut malam, karena shalat adalah waktu istirahat yang seharusnya dinanti, bukan ditunda-tunda.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Salim bin Abi al-Ja'd (seorang tabi'in) mendengar seorang lelaki dari Khuza'ah berkata: "Seandainya aku telah shalat, aku akan beristirahat." Orang-orang mencela ucapan itu, seolah menganggapnya malas atau aneh. Lalu lelaki itu menjawab dengan hadits Nabi ﷺ: "Wahai Bilal, tegakkanlah shalat, tenangkanlah kami dengannya."
Hikmahnya: Ucapan itu bukan tanda kemalasan, tetapi tanda kerinduan kepada shalat. Para salaf seperti Al-Hasan al-Bashri (wafat 110 H) dikenal sangat merindukan shalat. Beliau pernah berkata: "Wahai anak Adam, engkau adalah tamu di dunia ini. Shalat adalah waktu engkau menghadap Rabbmu." Sufyan ats-Tsauri (wafat 161 H) juga berkata: "Aku tidak pernah merasa lebih tenang daripada ketika aku berada dalam shalat."
Kesimpulan Praktis
- Ubahlah cara pandang terhadap shalat. Shalat bukan beban, tetapi waktu istirahat jiwa.
- Rindukan shalat. Ketika lelah atau gelisah, jadikan shalat sebagai tempat berlindung, bukan aktivitas yang ditunda.
- Jangan menunda shalat. Terutama shalat Isya, kerjakan di awal waktu agar tidak kehilangan ketenangannya.
- Ajarkan kepada keluarga. Ajak anak dan keluarga untuk mencintai shalat, bukan sekadar memenuhi kewajiban.
- Renungkan makna "أرحنا بها". Setiap kali mendengar adzan, ucapkan dalam hati: "Ini waktuku beristirahat bersama Allah."
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.