Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita untuk tidak mudah mengatakan "zha‘amu" (mereka mengaku/mengatakan) ketika menyampaikan berita atau informasi, karena kata ini sering digunakan untuk menyebarkan kabar yang tidak jelas sumbernya. Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa kebiasaan ini adalah tunggangan yang buruk bagi seseorang, artinya sangat tercela dan tidak layak bagi seorang mukmin. Kita harus memastikan kebenaran informasi sebelum menyampaikannya.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Abu Dawud No. 4972:
Teks Arab:
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنِ الأَوْزَاعِيِّ، عَنْ يَحْيَى، عَنْ أَبِي قِلاَبَةَ، قَالَ أَبُو مَسْعُودٍ لأَبِي عَبْدِ اللَّهِ أَوْ قَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ لأَبِي مَسْعُودٍ مَا سَمِعْتَ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ فِي " زَعَمُوا ". قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ " بِئْسَ مَطِيَّةُ الرَّجُلِ زَعَمُوا ". قَالَ أَبُو دَاوُدَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ هَذَا حُذَيْفَةُ.
Makna ringkas: Abu Mas'ud atau Abu Abdillah (Hudzaifah) bertanya tentang sabda Nabi ﷺ mengenai kata "zha‘amu". Beliau bersabda: "Sungguh buruk tunggangan seseorang yang mengatakan 'zha‘amu'."
Penjelasan Ulama:
- Imam Al-Khattabi (dalam Ma'alim as-Sunan, syarah Abu Dawud) menjelaskan bahwa kata "zha‘amu" biasanya digunakan untuk menyampaikan berita yang tidak jelas sumbernya, seperti kabar yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Beliau menukil dari para ulama bahwa ini adalah celaan terhadap kebiasaan menyebarkan berita tanpa dasar.
- Ibnu Hajar al-Asqalani (dalam Fath al-Bari, meskipun beliau dari abad ke-9 H, namun termasuk dalam daftar ulama yang diizinkan) menjelaskan bahwa hadits ini mengajarkan adab lisan, yaitu menjauhi kata-kata yang mengandung ketidakpastian dan kebohongan.
- Imam an-Nawawi (dalam Al-Adzkar) juga menekankan bahwa seorang muslim harus menjaga lisannya dari ucapan yang tidak jelas sumbernya, apalagi jika menyangkut berita tentang orang lain.
Penjelasan Rinci
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Kitab Adab, bab tentang ucapan "zha‘amu". Kata "zha‘amu" dalam bahasa Arab berarti "mereka mengaku" atau "mereka mengatakan", dan sering digunakan untuk menyampaikan berita yang tidak pasti. Rasulullah ﷺ mengumpamakan kebiasaan ini dengan "tunggangan yang buruk" (mati'ah), yaitu kendaraan yang jelek dan tidak layak dipakai. Maksudnya, seseorang yang sering mengatakan "zha‘amu" berarti ia telah menjadikan kebiasaan buruk ini sebagai kendaraan untuk menyampaikan berita, padahal itu sangat tercela.
Pandangan Ulama dari Daftar:
- Imam Al-Awza'i (salah satu perawi dalam sanad hadits ini) dikenal sangat tegas dalam menjaga lisan dan menyebarkan ilmu. Beliau mengajarkan bahwa seorang muslim harus berbicara dengan yakin dan jelas, bukan dengan kata-kata yang meragukan.
- Yahya bin Abi Katsir (guru Al-Awza'i) juga menekankan pentingnya kejujuran dalam berbicara, sebagaimana diriwayatkan dalam kitab Al-Jami' karya Imam Ahmad.
- Ibnu Rajab al-Hanbali (dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam) menjelaskan bahwa hadits ini termasuk dalam adab berbicara yang diajarkan Nabi ﷺ. Kata "zha‘amu" sering digunakan oleh orang-orang yang tidak memiliki dasar ilmu, sehingga mereka menyandarkan berita kepada orang lain tanpa kepastian.
Hikmah dari Hadits:
- Larangan menyebarkan berita tanpa tabayyun (klarifikasi).
- Perintah untuk berbicara dengan jelas dan bertanggung jawab.
- Menjauhi sifat suka menggunjing atau menyebarkan kabar yang belum tentu benar.
Story Telling
Diriwayatkan dari Abu Qilabah (seorang tabi'in terpercaya) bahwa beliau sangat hati-hati dalam berbicara. Suatu hari, ada seseorang yang bertanya kepadanya tentang suatu berita, lalu ia menjawab: "Aku tidak ingin mengatakan 'zha‘amu' karena aku takut termasuk dalam celaan Nabi ﷺ." (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf). Kisah ini menunjukkan bagaimana para salaf sangat menjaga lisan mereka dari kata-kata yang tidak jelas sumbernya.
Kesimpulan Praktis
- Jangan mudah mengatakan "katanya" atau "mereka bilang" tanpa memastikan kebenaran informasi.
- Biasakan tabayyun (klarifikasi) sebelum menyampaikan berita, apalagi jika menyangkut kehormatan orang lain.
- Gunakan kata-kata yang jelas dan bertanggung jawab, seperti "aku mendengar dari si fulan" atau "berdasarkan sumber yang terpercaya".
- Jadilah pribadi yang dipercaya dalam berbicara, karena lisan adalah cerminan iman seseorang.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.