Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini berisi tuntunan Nabi ﷺ tentang etika memilih nama untuk anak. Beliau memerintahkan agar kita memakai nama-nama para nabi, mengabarkan bahwa nama yang paling dicintai Allah adalah 'Abdullah' dan 'Abdurrahman', nama yang paling benar (jujur) adalah 'Harits' dan 'Hammam', serta nama yang paling buruk adalah 'Harb' (perang) dan 'Murrah' (pahit). Ini menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan makna nama karena nama adalah doa dan identitas yang melekat pada seseorang.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Adab, Bab Tentang Mengubah Nama, no. 4950, dari sahabat Abu Wahb al-Jushami radhiyallahu 'anhu.
Terdapat dalil lain yang memperkuat anjuran memberi nama yang baik, yaitu firman Allah Ta'ala:
QS. Al-Hujurat [49]: 11
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِ ۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِ ۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olokkan) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim."
Ayat ini menunjukkan bahwa Islam melarang panggilan atau nama yang buruk, karena nama adalah bagian dari identitas dan kehormatan seseorang.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan beberapa faedah penting dari hadits ini:
1. Perintah memakai nama-nama para nabi
Imam Al-Khathabi (dalam Ma'alim as-Sunan, syarah Sunan Abu Dawud) menjelaskan bahwa perintah "تَسَمَّوْا بِأَسْمَاءِ الأَنْبِيَاءِ" (bergantilah dengan nama-nama para nabi) menunjukkan sunnahnya memberi nama anak dengan nama para nabi. Ini karena para nabi adalah manusia paling mulia, dan nama mereka membawa keberkahan serta harapan agar anak meneladani akhlak mereka. Di antara sahabat yang memakai nama nabi adalah Muhammad, Ahmad, Ibrahim, Yusuf, dan lainnya.
2. Nama yang paling dicintai Allah
Nabi ﷺ mengabarkan bahwa nama yang paling dicintai Allah adalah 'Abdullah' dan 'Abdurrahman'. Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa nama-nama yang mengandung penghambaan diri kepada Allah ('Abdullah = hamba Allah, 'Abdurrahman = hamba Ar-Rahman) adalah yang paling utama karena maknanya adalah pengakuan bahwa manusia adalah hamba Allah semata. Ini juga yang menjadi alasan mengapa Nabi ﷺ mengubah nama orang-orang yang bernama 'Abdul 'Uzza (hamba al-'Uzza, berhala) menjadi 'Abdullah atau 'Abdurrahman.
3. Nama yang paling benar (jujur)
Nabi ﷺ menyebut 'Harits' dan 'Hammam' sebagai nama yang paling benar. Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan maknanya: 'Harits' artinya petani/penggali tanah (yang bekerja mencari penghidupan), dan 'Hammam' artinya orang yang selalu berpikir/berkeinginan kuat. Kedua nama ini menggambarkan realitas manusia yang memang bekerja dan selalu memiliki keinginan. Maksudnya, nama-nama ini "paling benar" karena jujur menggambarkan keadaan manusia, bukan karena nama itu paling utama.
4. Nama yang paling buruk
Nabi ﷺ menyebut 'Harb' (perang) dan 'Murrah' (pahit) sebagai nama yang paling buruk. Imam Ibnul Qayyim dalam Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud menjelaskan bahwa nama-nama dengan makna buruk seperti perang dan kepahitan dibenci karena nama memiliki pengaruh psikologis pada pemiliknya dan orang-orang di sekitarnya. Karena itu, Nabi ﷺ sering mengubah nama-nama buruk menjadi nama yang baik.
5. Praktik Nabi ﷺ dalam mengubah nama
Ibnu Hajar al-'Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa Nabi ﷺ banyak mengubah nama-nama buruk para sahabat. Di antaranya:
- Mengubah nama 'Ashiyah (yang bermaksiat) menjadi Jamilah (yang cantik/bagus)
- Mengubah nama Harb (perang) menjadi Silm (damai)
- Mengubah nama Murrah (pahit) menjadi nama yang baik
Ini menunjukkan bahwa memberi nama yang baik adalah bagian dari syariat, dan mengubah nama yang buruk adalah anjuran.
6. Adab dalam memberi nama
Para ulama menyimpulkan adab memberi nama anak:
- Nama yang paling utama: 'Abdullah' dan 'Abdurrahman'
- Kemudian nama-nama nabi
- Kemudian nama-nama orang shalih
- Hindari nama-nama yang mengandung makna buruk, kesyirikan, atau penghambaan kepada selain Allah
Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam Majmu' Fatawa menegaskan bahwa memberi nama anak dengan nama yang baik adalah hak anak atas orang tuanya, dan orang tua akan ditanya tentang hal ini.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ sangat memperhatikan masalah nama. Suatu ketika beliau mendengar seseorang memanggil anaknya dengan nama yang buruk, beliau segera mengubahnya. Dalam Shahih Muslim, dari Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhuma, beliau berkata: Rasulullah ﷺ mengubah nama 'Ashiyah (yang bermaksiat) menjadi Jamilah (yang cantik) dan bersabda: "Sesungguhnya kalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama-nama kalian dan nama-nama bapak kalian, maka perbaguslah nama-nama kalian." (HR. Abu Dawud, dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani)
Kisah ini menunjukkan perhatian besar Nabi ﷺ terhadap nama karena nama adalah doa dan identitas yang akan dibawa seseorang seumur hidupnya, bahkan sampai hari kiamat.
Kesimpulan Praktis
- Utamakan nama 'Abdullah' atau 'Abdurrahman' karena paling dicintai Allah.
- Gunakan nama-nama nabi seperti Muhammad, Ibrahim, Yusuf, Musa, Isa, dan lainnya.
- Pilih nama yang baik maknanya dan hindari nama yang buruk atau bermakna negatif.
- Jangan memberi nama yang mengandung kesyirikan seperti 'Abdul Ka'bah (hamba Ka'bah) atau 'Abdun Nabi (hamba Nabi).
- Jika memiliki nama buruk, dianjurkan menggantinya dengan nama yang baik, sebagaimana dilakukan Nabi ﷺ.
- Nama adalah doa, maka pilihlah nama yang mengandung harapan baik bagi anak.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.