Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 4943 tentang Kasih sayang kepada yang kecil dan hormat kepada yang besar

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa tanda seorang muslim sejati adalah memiliki sifat kasih sayang kepada yang lebih muda dan menghormati hak-hak yang lebih tua. Jika seseorang tidak memiliki kedua sifat ini, maka ia tidak termasuk dalam golongan Nabi ﷺ dalam hal akhlak dan petunjuk beliau. Ini adalah peringatan keras agar kita senantiasa meneladani akhlak mulia Rasulullah ﷺ.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an:

Allah Ta'ala berfirman:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ

(QS. Ali Imran [3]: 159)

Artinya: "Maka berkat rahmat Allah-lah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu, maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal."

Hadits:

Hadits yang dimaksud diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Al-Adab, Bab Ar-Rahmah (Kasih Sayang), no. 4943. Juga diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (no. 1920) dan Ahmad (no. 6598). Hadits ini dinilai hasan shahih oleh At-Tirmidzi, dan dianggap shahih oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah.

Penjelasan Ulama:

  • Imam Al-Khattabi (w. 388 H) dalam Ma'alim as-Sunan menjelaskan bahwa makna "فَلَيْسَ مِنَّا" (bukan dari golongan kami) adalah bukan dari golongan orang yang mengikuti petunjuk dan sunnah kami. Ini adalah ancaman keras bagi yang meninggalkan akhlak mulia ini.
  • Imam An-Nawawi (w. 676 H) dalam Syarh Shahih Muslim (bab tentang kasih sayang) menjelaskan bahwa hadits ini memerintahkan untuk menyayangi anak kecil dan menghormati orang tua. Beliau juga menegaskan bahwa ini adalah bagian dari kesempurnaan iman dan akhlak Islam.
  • Syaikh Abdul Aziz bin Baz (w. 1420 H) dalam Majmu' Fatawa (10/385) menekankan bahwa hadits ini menunjukkan pentingnya pendidikan akhlak dalam Islam. Menyayangi yang kecil bukan berarti memanjakan, tetapi mendidik dengan lembut. Menghormati yang tua bukan berarti taklid buta, tetapi menghargai pengalaman dan ilmu mereka.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung dua pilar utama akhlak Islam: rahmat (kasih sayang) kepada yang lebih muda dan ma'rifah (pengakuan hak) kepada yang lebih tua.

  1. "Man lam yarham shaghiran" (Barangsiapa tidak menyayangi yang kecil):
  • Rahmat di sini bukan sekadar perasaan, tetapi tindakan nyata. Ini mencakup: berbicara dengan lembut, mengajarkan dengan sabar, tidak memarahi dengan kasar, dan memenuhi kebutuhan mereka sesuai kemampuan.
  • Imam Ibn Rajab al-Hanbali (w. 795 H) dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa rahmat kepada anak kecil adalah meniru sifat Allah Ar-Rahman dan mengikuti akhlak Nabi ﷺ yang sangat penyayang kepada anak-anak.
  • Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin (w. 1421 H) dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin (1/120) mengatakan bahwa menyayangi anak kecil adalah sebab turunnya rahmat Allah. Beliau mencontohkan bagaimana Nabi ﷺ mengusap kepala anak-anak, mencium mereka, dan bahkan memendekkan shalat ketika mendengar tangisan bayi.
  1. "Wa ya'rif haqqa kabirina" (dan tidak mengetahui hak yang besar):
  • Ma'rifah (mengetahui) di sini berarti mengakui dan menunaikan hak-hak mereka. Hak orang yang lebih tua dalam Islam sangat besar, seperti: didahulukan dalam berbicara, berjalan, dan mendapat pelayanan; tidak memanggil dengan nama saja tanpa gelar penghormatan; serta meminta nasihat dan doa dari mereka.
  • Imam Al-Bukhari (w. 256 H) dalam Shahih-nya (Kitab Al-Adab, Bab Taqdim al-Akbar) meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang muda dan tidak menghormati yang tua." (HR. At-Tirmidzi, dan dishahihkan Al-Albani).
  • Syaikh Shalih al-Fauzan (hafizhahullah) dalam Syarh Kitab al-Adab menjelaskan bahwa "hak yang besar" mencakup hak untuk dihormati, didahulukan, dan tidak direndahkan. Ini adalah bagian dari adab Islam yang menjaga keharmonisan masyarakat.

Kesimpulan dari para ulama: Hadits ini adalah kriteria untuk mengukur kualitas keislaman seseorang. Jika seseorang tidak memiliki rasa kasih sayang kepada yang muda dan tidak menghormati yang tua, maka akhlaknya jauh dari akhlak Nabi ﷺ, dan ia terancam tidak termasuk dalam golongan yang mendapat petunjuk dan perlindungan Allah.

Story Telling

Diriwayatkan dari Al-Aswad bin Yazid (seorang tabi'in besar), ia berkata: "Aku bertanya kepada Aisyah radhiyallahu 'anha tentang akhlak Rasulullah ﷺ di dalam rumahnya. Beliau menjawab: 'Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling lembut, paling dermawan, dan paling baik akhlaknya. Beliau tidak pernah memukul dengan tangannya seorang pun, baik istri maupun pembantu, kecuali jika berjihad di jalan Allah. Beliau tidak pernah membalas kejelekan dengan kejelekan, tetapi memaafkan dan berlapang dada.'" (HR. Muslim)

Kisah ini menunjukkan bahwa sifat kasih sayang dan lemah lembut adalah akhlak utama Nabi ﷺ. Beliau adalah teladan sempurna dalam menyayangi yang kecil (seperti cucu-cucu beliau, Hasan dan Husain) dan menghormati yang besar (seperti para sahabat senior). Maka, barangsiapa yang ingin dicintai Allah dan Rasul-Nya, hendaklah ia meneladani akhlak mulia ini.

Kesimpulan Praktis

  1. Latihlah rasa kasih sayang kepada anak-anak, adik-adik, dan semua yang lebih muda. Bantulah mereka dengan lembut, jangan memarahi dengan keras, dan doakan kebaikan untuk mereka.
  2. Hormatilah yang lebih tua, baik dalam keluarga, tetangga, maupun di majelis ilmu. Dahulukan mereka dalam berbicara, berjalan, dan mengambil keputusan.
  3. Jadikanlah akhlak ini sebagai syiar Islam di tengah masyarakat. Tunjukkan bahwa Islam adalah agama yang penuh kasih sayang dan penghormatan.
  4. Ingatlah bahwa meninggalkan akhlak ini adalah tanda bahwa kita belum sempurna dalam mengikuti petunjuk Nabi ﷺ.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.