Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan bahwa sifat kasih sayang (rahmah) adalah tanda kebahagiaan dan keimanan seseorang. Siapa yang hatinya kosong dari rahmat kepada makhluk, itu pertanda ia berada dalam kesengsaraan (syifa' / kecelakaan) di sisi Allah. Rahmat tidak dicabut dari orang beriman, tetapi dicabut dari orang yang sengsara hatinya karena jauh dari petunjuk.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. Al-Anbiya' [21]: 107
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
Terjemahan: "Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam."
QS. Al-Hajj [22]: 65 (potongan)
إِنَّ اللَّهَ لَرَءُوفٌ رَّحِيمٌ
Terjemahan: "Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."
Hadits terkait:
Hadits riwayat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dari Sunan Abu Dawud no. 4942, kitab Al-Adab, bab Ar-Rahmah. Nabi ﷺ bersabda:
لَا تُنْزَعُ الرَّحْمَةُ إِلَّا مِنْ شَقِيٍّ
"Rahmat tidak dicabut kecuali dari orang yang sengsara."
Hadits pendukung dari Abu Hurairah juga dalam Shahihain tentang kasih sayang Allah: "Allah membagi rahmat menjadi seratus bagian, satu bagian diturunkan ke bumi..." (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Imam An-Nawawi menjelaskan dalam Syarh Shahih Muslim bahwa rahmat yang diturunkan ke bumi inilah yang menjadi sumber kasih sayang antar makhluk.
Penjelasan Rinci
Makna kata "syifa'" (شَقِيٍّ):
Dalam bahasa Arab, syaqiy artinya orang yang sengsara, celaka, atau jauh dari kebahagiaan. Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa syaqawah (kesengsaraan) adalah lawan dari sa'adah (kebahagiaan), dan sumbernya adalah jauhnya hati dari iman serta kerasnya hati terhadap makhluk.
Siapa yang dimaksud "dicabut rahmatnya":
Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitab Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa rahmat di sini mencakup dua makna:
- Rahmat yang Allah tanamkan dalam hati seorang hamba berupa kasih sayang kepada sesama makhluk.
- Rahmat Allah yang akan diberikan di akhirat kepada hamba-Nya.
Orang yang hatinya tidak memiliki rasa kasih sayang kepada orang lain — kepada anak, orang tua, tetangga, bahkan hewan — maka itu tanda ia telah kehilangan bagian rahmat yang paling dasar. Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarij as-Salikin menyebutkan bahwa kerasnya hati adalah penyakit yang paling berbahaya, dan obatnya adalah mengenal Allah serta merenungi sifat rahmat-Nya.
Penjelasan Imam An-Nawawi:
Dalam Syarh Shahih Muslim, Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan sifat rahmat dan tercelanya sifat keras hati. Beliau menyebutkan bahwa rahmat adalah sifat yang Allah cintai, dan siapa yang tidak menyayangi makhluk, ia tidak akan disayangi oleh Allah — sebagaimana hadits lain: "Barangsiapa tidak menyayangi, ia tidak akan disayangi" (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Penjelasan Syeikh Abdurrahman as-Sa'di:
Dalam Tafsir as-Sa'di, beliau menjelaskan bahwa rahmat Allah itu luas dan mencakup segala sesuatu, namun orang yang sengsara adalah orang yang menutup pintu rahmat bagi dirinya sendiri dengan kekafiran, kesombongan, dan kerasnya hati. Beliau juga menegaskan bahwa rahmat tidak bertentangan dengan keadilan Allah, karena Allah Maha Adil dan Maha Penyayang sekaligus.
Penjelasan Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin:
Dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin, Syeikh al-Utsaimin menjelaskan bahwa hadits ini mendorong setiap muslim untuk melatih hatinya agar penuh kasih sayang. Beliau menyebutkan bahwa rahmat kepada makhluk bisa berupa: senyum, membantu kesulitan orang lain, memaafkan kesalahan, menyayangi anak kecil, menghormati orang tua, dan bahkan berbuat baik kepada hewan. Beliau juga mengingatkan bahwa kerasnya hati sering muncul karena banyaknya dosa dan lalai dari mengingat Allah.
Perbedaan pendapat:
Para ulama yang tercantum dalam daftar tidak berbeda pendapat tentang makna dasar hadits ini. Mereka sepakat bahwa rahmat adalah sifat yang wajib dimiliki seorang mukmin, dan hilangnya rahmat adalah tanda kesengsaraan. Yang berbeda hanya pada rincian: apakah "dicabut" berarti hilang total atau berkurang. Pendapat yang paling kuat — sebagaimana dijelaskan Ibn Rajab dan Ibn Qayyim — adalah bahwa rahmat bisa berkurang dan bahkan hilang dari hati orang yang terus-menerus berbuat dosa dan keras hati, namun rahmat Allah yang khusus bagi orang beriman di akhirat tidak akan hilang dari mereka.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki datang kepada Al-Hasan al-Bashri rahimahullah dan berkata: "Wahai Imam, aku memiliki hati yang keras dan tidak bisa menangis." Al-Hasan al-Bashri menjawab: "Jika hatimu keras, maka ketahuilah bahwa itu adalah tanda kesengsaraan. Perbanyaklah mengingat Allah dan menyayangi makhluk, karena rahmat tidak dicabut kecuali dari orang yang sengsara."
Dalam kisah lain, seorang Arab badui datang kepada Nabi ﷺ dan bertanya: "Apakah engkau mencium anak-anakmu?" Nabi ﷺ menjawab: "Ya." Orang itu berkata: "Aku punya sepuluh anak, tidak satu pun yang pernah aku cium." Nabi ﷺ bersabda: "Apa dayaku jika Allah telah mencabut rahmat dari hatimu?" (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Kisah ini menunjukkan bahwa rahmat adalah anugerah Allah yang harus dijaga dengan iman dan amal saleh.
Kesimpulan Praktis
- Jaga hati agar tetap penuh rahmat — dengan menyayangi keluarga, tetangga, dan semua makhluk, bahkan hewan.
- Hindari kerasnya hati — dengan memperbanyak istighfar, membaca Al-Qur'an, dan mengingat kematian.
- Rahmat adalah tanda kebahagiaan — siapa yang hatinya penuh kasih sayang, itu pertanda ia dekat dengan Allah.
- Jangan sombong dan kasar — karena kesombongan adalah pintu menuju kesengsaraan.
- Teladani Nabi ﷺ — beliau adalah rahmat bagi seluruh alam, dan kita diperintahkan meneladani akhlaknya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.