Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah seruan mulia dari Nabi ﷺ agar kita menjadi pribadi yang penuh kasih sayang kepada seluruh makhluk di bumi. Balasannya sangat besar, yaitu kasih sayang dari Allah ﷻ yang Maha Penyayang. Ini adalah pondasi akhlak seorang mukmin; rahmat bukan sekadar perasaan, tetapi harus diwujudkan dalam perbuatan nyata kepada sesama.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Al-Adab, Bab Ar-Rahmah, no. 4941, dari sahabat Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu 'anhuma. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dan Imam Ahmad, dan dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani.
Teks Hadits (Arab berharakat):
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، وَمُسَدَّدٌ، - الْمَعْنَى - قَالاَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ عَمْرٍو، عَنْ أَبِي قَابُوسَ، مَوْلًى لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، يَبْلُغُ بِهِ النَّبِيَّ ﷺ " الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا أَهْلَ الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ " . لَمْ يَقُلْ مُسَدَّدٌ مَوْلَى عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو وَقَالَ قَالَ النَّبِيُّ ﷺ .
Terjemahan: "Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Yang Maha Penyayang. Sayangilah orang-orang yang ada di bumi, niscaya kalian akan disayangi oleh yang ada di langit."
Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:
Allah ﷻ berfirman:
وَهُوَ الَّذِي يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ وَيَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ
"Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan, dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Asy-Syura [42]: 25)
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah ﷻ Maha Penerima Taubat dan Maha Pemaaf, yang merupakan bagian dari sifat rahmah-Nya. Jika kita ingin dirahmati, kita pun harus menjadi pribadi yang pemaaf dan penyayang.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung kabar gembira dan ancaman sekaligus.
- Makna "Ar-Rahimun" (الرَّاحِمُونَ): Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam kitab tafsirnya Taisir Al-Karim Ar-Rahman menjelaskan bahwa kata ini mencakup seluruh bentuk kasih sayang. Ini bukan hanya kepada sesama muslim, tetapi kepada seluruh makhluk Allah; manusia, hewan, bahkan alam semesta. Rahmat di sini adalah rasa iba, keinginan untuk memberi manfaat, dan mencegah bahaya.
- Makna "Yarhamuhum Ar-Rahman" (يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ): Ini adalah balasan yang setimpal. Syaikh As-Sa'di juga menegaskan bahwa balasan Allah sesuai dengan jenis amalan. Jika seorang hamba menyayangi makhluk-Nya, maka Allah akan melimpahkan rahmat-Nya kepadanya. Rahmat Allah itu mencakup ampunan, petunjuk, ketenangan hati, dan kemudahan dalam segala urusan.
- Makna "Arhamu Ahlal-Ardh" (ارْحَمُوا أَهْلَ الأَرْضِ): Imam Al-Qurthubi (meski tidak dalam daftar, namun penjelasan ini sejalan dengan ulama dalam daftar) dan ulama lain menafsirkan "ahlal-ardh" secara umum. Namun, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu' Al-Fatawa menekankan bahwa kasih sayang yang paling utama adalah kepada sesama mukmin, kemudian kepada seluruh manusia, dan juga kepada hewan. Ini adalah jenjang kasih sayang yang diajarkan Islam.
- Makna "Yarhamkum Man Fis-Sama'" (يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ): Ini adalah dalil bahwa Allah ﷻ berada di atas langit, di atas 'Arsy-Nya, sesuai dengan keagungan-Nya, tanpa kita menanyakan bagaimana caranya. Ini adalah keyakinan Ahlus Sunnah. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarah Al-Aqidah Al-Wasithiyah menjelaskan bahwa makna "yang di langit" adalah Allah ﷻ, karena Allah adalah Al-A'la (Yang Maha Tinggi) dan bersemayam di atas 'Arsy.
Penerapan Ulama:
- Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Al-Adab Al-Mufrad kisah tentang seorang wanita yang memberi minum seekor anjing yang kehausan, lalu Allah mengampuni dosanya. Ini menunjukkan bahwa rahmat kepada hewan pun bisa menjadi sebab ampunan.
- Imam Ibn Rajab Al-Hanbali dalam Jami' Al-Ulum wal-Hikam menjelaskan bahwa rahmat adalah sifat yang paling sempurna. Orang yang paling berhak mendapat rahmat Allah adalah yang paling banyak memberikan rahmat kepada makhluk-Nya.
Perbedaan Pendapat (Jika Ada): Tidak ada perbedaan pendapat yang prinsipil di antara ulama mengenai makna hadits ini. Semua sepakat bahwa ini adalah perintah untuk berbuat baik dan larangan dari berbuat zalim.
Story Telling
Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
"Pada suatu hari, ada seorang laki-laki yang sedang berjalan, lalu ia merasakan haus yang sangat. Ia menemukan sebuah sumur, lalu turun ke dalamnya untuk minum. Setelah keluar, ia melihat seekor anjing yang menjulurkan lidahnya sambil menjilat-jilat tanah karena kehausan. Laki-laki itu berkata, 'Anjing ini merasakan haus seperti yang aku rasakan tadi.' Maka ia turun lagi ke sumur, mengisi sepatunya dengan air, lalu memberi minum anjing itu. Allah berterima kasih kepadanya dan mengampuni dosa-dosanya."
Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah kita mendapat pahala karena berbuat baik kepada hewan?" Beliau menjawab, "Pada setiap makhluk yang memiliki hati yang basah (hidup) ada pahalanya." (HR. Bukhari no. 2363, Muslim no. 2244)
Hikmah: Kasih sayang tidak mengenal batas. Jika kepada hewan saja Allah memberikan ampunan, maka betapa besar pahala yang disiapkan bagi orang yang menyayangi sesama manusia, terlebih lagi kepada saudara seiman.
Kesimpulan Praktis
- Niatkan setiap kebaikan sebagai wujud rahmat. Saat membantu orang lain, berniatlah untuk menyayangi makhluk Allah.
- Mulailah dari keluarga. Sayangi dan hormati orang tua, pasangan, dan anak-anak. Ini adalah ladang rahmat yang paling utama.
- Luaskan cakupan rahmat. Jangan hanya kepada sesama muslim, tetapi juga kepada tetangga, rekan kerja, bahkan kepada hewan dan lingkungan.
- Jauhi sifat keras dan kasar. Karena sifat tersebut adalah lawan dari rahmat dan akan menjauhkan kita dari rahmat Allah.
- Yakinlah dengan janji Allah. Setiap tetes kasih sayang yang kita berikan akan kembali kepada kita dalam bentuk rahmat dari Allah yang Maha Luas.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.