Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita sebuah pelajaran yang sangat dalam tentang bahaya merasa paling suci dan menghakimi orang lain. Inti hadits ini adalah larangan bagi seorang hamba untuk bersikap seolah-olah dirinya mengetahui ilmu Allah dan berkuasa atas takdir-Nya, seperti menganggap seseorang pasti masuk neraka atau tidak diampuni dosanya. Sikap seperti ini adalah bentuk kezaliman yang bisa menghancurkan amal ibadah seseorang, meskipun ia rajin beribadah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Adab, Bab Larangan Berbuat Zalim, nomor 4901, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, dan Imam Ahmad dalam Musnad-nya.
Hadits ini sangat erat kaitannya dengan firman Allah Ta'ala:
QS. Al-Hujurat [49]: 11
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِّن نِّسَاءٍ عَسَىٰ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim."
Ayat ini menegaskan bahwa kita tidak pernah tahu siapa yang lebih mulia di sisi Allah. Bisa jadi orang yang kita anggap banyak dosa justru lebih baik di mata Allah karena keikhlasan dan taubatnya.
QS. An-Nisa' [4]: 32
وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ لِّلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِّمَّا اكْتَسَبُوا ۖ وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِّمَّا اكْتَسَبْنَ ۚ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِن فَضْلِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا
"Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung pelajaran yang sangat agung. Mari kita bedah bersama dengan bantuan penjelasan para ulama.
1. Kisah Dua Orang Bani Isra'il
Rasulullah ﷺ menceritakan tentang dua orang dari Bani Isra'il yang saling bersahabat. Yang satu adalah seorang yang gemar berbuat dosa, sementara yang lainnya adalah seorang yang sangat tekun beribadah. Orang yang tekun beribadah ini terus-menerus melihat temannya berbuat dosa dan menasihatinya dengan ucapan, "Aqshir!" yang artinya, "Hentikanlah!" atau "Berhentilah dari perbuatan dosamu!"
Ini adalah sikap yang baik, yaitu amar ma'ruf nahi munkar. Namun, masalahnya terletak pada sikap setelahnya.
2. Kesalahan Fatal Sang Ahli Ibadah
Suatu hari, sang ahli ibadah kembali mendapati temannya berbuat dosa. Ia pun menasihatinya lagi. Namun, temannya menjawab, "Khallini wa Rabbi!" yang artinya, "Biarkan aku dengan Tuhanku!" Maksudnya, "Urusanku dengan Tuhanku, jangan kau campuri. Apakah kamu diutus sebagai pengawas atas diriku?"
Mendengar jawaban ini, sang ahli ibadah menjadi marah dan mengucapkan kalimat yang sangat fatal. Ia berkata, "Wallahi, la yaghfirullahu laka!" — "Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu!" Atau dalam riwayat lain, "aw la yudkhilukallāhul jannah!" — "atau Allah tidak akan memasukkanmu ke surga!"
3. Hukuman dari Allah
Kemudian Allah mencabut nyawa keduanya. Mereka pun berkumpul di hadapan Allah Rabbul 'Alamin. Allah berfirman kepada sang ahli ibadah, "A kunta bi 'aliman? Am kunta 'ala ma fi yadi qadiran?" — "Apakah kamu mengetahui (ilmu) tentang-Ku? Atau apakah kamu berkuasa atas apa yang ada di tangan-Ku?"
Artinya, Allah menegur sikapnya yang lancang. Ia mengaku tahu bahwa Allah tidak akan mengampuni temannya, padahal ilmu tentang pengampunan dan keputusan Allah adalah urusan Allah semata. Ia juga bertindak seolah-olah ia yang berkuasa menentukan siapa yang masuk surga dan siapa yang masuk neraka.
Allah kemudian berfirman kepada orang yang berdosa, "Idzhab fadkhulil jannah bi rahmati!" — "Pergilah, masuklah ke surga dengan rahmat-Ku!" Dan Allah memerintahkan untuk membawa sang ahli ibadah ke neraka.
4. Pelajaran dari Sahabat Abu Hurairah
Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu kemudian bersumpah, "Walladzi nafsi bi yadihi, latakallama bi kalimatin awbaqat dunyahu wa akhirah." — "Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh dia telah mengucapkan satu kalimat yang membinasakan dunia dan akhiratnya."
Maksudnya, kalimat "Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu" itu telah menghancurkan amal ibadahnya dan menyebabkan ia masuk neraka.
5. Penjelasan Ulama
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini adalah peringatan keras dari sikap tazkiyah (menyucikan diri) dan merasa aman dari makar Allah. Beliau menegaskan bahwa seorang hamba tidak boleh memastikan nasib seseorang di akhirat, baik itu surga maupun neraka, karena urusan tersebut sepenuhnya milik Allah.
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa kesalahan sang ahli ibadah bukan pada nasihatnya, tetapi pada ucapannya yang memastikan bahwa Allah tidak akan mengampuni dosa temannya. Ini adalah bentuk al-qath'u fi amrillah (memastikan sesuatu yang merupakan hak prerogatif Allah). Beliau juga menegaskan bahwa ucapan seperti ini bisa menggugurkan amal kebaikan seseorang.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan betapa bahayanya lisan. Satu kalimat yang keluar dari lisan bisa menghancurkan amal ibadah yang telah dibangun bertahun-tahun. Beliau juga menekankan bahwa kita harus berhati-hati dalam menilai orang lain, karena bisa jadi orang yang kita anggap ahli maksiat justru memiliki keikhlasan dan taubat yang diterima Allah.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa sikap menghakimi dan merasa paling suci adalah penyakit hati yang bisa menghapus amal. Beliau mengaitkan hadits ini dengan firman Allah dalam QS. An-Najm [53]: 32, "Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa."
6. Perbedaan Antara Nasihat dan Menghakimi
Para ulama menjelaskan bahwa ada perbedaan besar antara menasihati dan menghakimi. Menasihati adalah kewajiban kita, tetapi menghakimi adalah hak Allah. Kita boleh dan bahkan wajib menasihati saudara kita yang berbuat dosa, tetapi kita tidak boleh memastikan bahwa ia pasti masuk neraka atau tidak diampuni. Kita harus selalu menyertakan nasihat kita dengan harapan agar ia bertobat dan diampuni Allah.
Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa seorang hamba yang benar tidak akan pernah merasa aman dari makar Allah dan tidak akan pernah berputus asa dari rahmat Allah. Beliau menegaskan bahwa antara khauf (takut) dan raja' (harap) harus seimbang dalam hati seorang mukmin.
Story Telling
Ada kisah yang sangat indah dari kalangan salaf tentang bahaya menghakimi orang lain. Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang seseorang yang banyak berbuat dosa. Beliau menjawab dengan sangat hati-hati, "Aku tidak tahu. Aku hanya berharap semoga Allah mengampuninya." Ketika ditanya lagi, beliau berkata, "Janganlah engkau memastikan nasib seseorang di akhirat. Bisa jadi orang yang banyak dosa itu memiliki taubat yang tulus di akhir hayatnya, dan bisa jadi orang yang rajin ibadah itu memiliki kesombongan yang menghancurkan amalnya."
Kisah lain datang dari Al-Hasan al-Bashri. Suatu hari, beliau melihat seorang pemuda yang sedang mabuk di jalan. Para sahabatnya berkata, "Orang ini pasti masuk neraka!" Al-Hasan menegur mereka dengan tegas, "Jangan katakan itu! Bisa jadi orang ini akan bertobat di penghujung usianya dan Allah mengampuninya, sementara kita yang merasa suci ini justru mati dalam keadaan lalai." Beliau kemudian membacakan firman Allah, "Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya." (QS. Az-Zumar [39]: 53).
Kisah-kisah ini mengajarkan kita untuk selalu rendah hati dan tidak pernah merasa lebih suci dari orang lain. Kita tidak tahu bagaimana akhir hidup kita dan orang lain.
Kesimpulan Praktis
- Jangan pernah memastikan nasib seseorang di akhirat, baik itu surga maupun neraka. Urusan tersebut sepenuhnya milik Allah.
- Nasihatilah saudara yang berbuat dosa dengan lembut dan penuh harap agar ia bertobat, bukan dengan sikap menghakimi dan merendahkan.
- Jaga lisan kita dari ucapan-ucapan yang lancang terhadap Allah, seperti "Allah tidak akan mengampunimu" atau "Kamu pasti masuk neraka".
- Rendah hatilah dalam beribadah. Jangan sampai ibadah kita membuat kita sombong dan merasa paling suci.
- Selalu berprasangka baik kepada Allah dan kepada sesama muslim. Bisa jadi orang yang kita anggap banyak dosa justru lebih dicintai Allah karena taubat dan keikhlasannya.
- Perbanyak istighfar untuk diri sendiri dan doakan kebaikan untuk orang lain, jangan sibuk menghitung dosa orang lain.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.