Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 4888 tentang Larangan mencari-cari kesalahan orang lain

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah peringatan keras dari Nabi ﷺ agar kita tidak sibuk mengintip, mencari-cari, dan membongkar aib serta kesalahan orang lain. Perbuatan tercela ini tidak hanya merusak pelakunya sendiri, tetapi juga bisa merusak orang yang diintip, karena bisa menjatuhkan kehormatannya, memicu fitnah, dan menghancurkan kepercayaan di tengah masyarakat. Islam memerintahkan kita untuk menutup aib sesama muslim, bukan malah membukanya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Abu Dawud:

Rasulullah ﷺ bersabda:

> "إِنَّكَ إِنِ اتَّبَعْتَ عَوْرَاتِ النَّاسِ أَفْسَدْتَهُمْ أَوْ كِدْتَ أَنْ تُفْسِدَهُمْ"

>

> "Sesungguhnya jika engkau mencari-cari kesalahan (aib) manusia, maka engkau akan merusak mereka, atau hampir saja engkau merusak mereka." (HR. Abu Dawud no. 4888, dari Mu'awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu 'anhu)

Ayat Al-Qur'an yang Terkait:

Allah Ta'ala berfirman:

> وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

>

> "Dan janganlah kamu mencari-cari keburukan orang lain, dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Hujurat [49]: 12)

Kaitan dengan Ulama:

  • Imam An-Nawawi dalam kitab Riyadhush Shalihin dan Al-Adzkar menjelaskan bahwa larangan tajassus (mencari-cari aib) termasuk dosa besar yang dapat merusak hubungan persaudaraan sesama muslim.
  • Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat di atas melarang dua perkara besar: tajassus (mencari-cari aib) dan ghibah (menggunjing), karena keduanya adalah sumber permusuhan dan perpecahan.

Penjelasan Rinci

Hadits ini diriwayatkan oleh Mu'awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu 'anhu, salah seorang sahabat Nabi ﷺ yang juga pernah menjadi khalifah. Dalam riwayat ini, Nabi ﷺ memberikan nasihat yang sangat dalam maknanya.

Makna "عَوْرَاتِ النَّاسِ" (aib/cacat manusia):

Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan 'auraat di sini adalah segala sesuatu yang ingin disembunyikan oleh seseorang karena merasa malu atau takut jika keburukannya diketahui orang lain. Ini bisa berupa dosa, kesalahan, kekurangan, atau hal-hal pribadi yang tidak pantas untuk dibuka.

Makna "أَفْسَدْتَهُمْ" (engkau akan merusak mereka):

Imam Al-Khathabi dan ulama lainnya menjelaskan bahwa ketika seseorang sibuk mencari-cari aib orang lain, maka akibatnya:

  1. Orang yang diintip akan merasa terhina dan tertekan — ia kehilangan kepercayaan diri dan merasa tidak aman, sehingga bisa terjerumus pada kerusakan yang lebih parah.
  2. Timbul permusuhan dan kebencian — ketika aib seseorang terbongkar, maka akan lahir dendam dan permusuhan yang merusak ukhuwah.
  3. Tersebarnya aib menjadi fitnah — orang lain yang mendengar aib tersebut bisa ikut membicarakannya, sehingga dosa berlipat ganda dan kerusakan menyebar luas.

Mengapa Nabi ﷺ bersabda "أَوْ كِدْتَ أَنْ تُفْسِدَهُمْ" (atau hampir merusak mereka)?

Ini menunjukkan bahwa bahaya perbuatan ini sangat besar. Bahkan jika belum sampai benar-benar merusak, ia sudah berada di ambang kerusakan. Ini adalah peringatan yang sangat tegas.

Sikap yang Diajarkan Islam:

Para ulama dari kalangan salaf sangat menjaga diri dari perbuatan ini. Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata: "Janganlah engkau mencari-cari aib saudaramu, karena jika engkau melakukannya, engkau akan menemukan apa yang tidak engkau sukai. Tutuplah aib mereka, niscaya Allah akan menutup aibmu."

Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa menutup aib sesama muslim adalah bagian dari keimanan, dan Allah akan menutup aib orang yang menutup aib saudaranya di dunia dan akhirat.

Perbedaan antara "mengintip" dan "menjaga":

Perlu dipahami bahwa larangan ini bukan berarti kita tidak boleh peduli terhadap kemungkaran yang terang-terangan. Jika ada kemungkaran yang tampak jelas dan merugikan masyarakat, maka kita wajib mencegahnya sesuai kemampuan. Namun yang dilarang adalah mencari-cari hal yang tersembunyi dan sengaja membongkar aib yang Allah tutup.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Mu'awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu 'anhu sangat terkesan dengan hadits ini. Ketika Abu Darda' radhiyallahu 'anhu mendengar Mu'awiyah menyampaikan hadits ini, beliau berkata: "Ini adalah kalimat yang didengar Mu'awiyah dari Rasulullah ﷺ, semoga Allah memberikan manfaat kepadanya dengan kalimat tersebut."

Ini menunjukkan bahwa para sahabat sangat menghargai nasihat Nabi ﷺ dan menjadikannya sebagai pegangan hidup. Mu'awiyah yang saat itu menjabat sebagai gubernur dan kemudian menjadi khalifah, menjadikan hadits ini sebagai prinsip dalam memimpin — tidak sibuk mencari-cari kesalahan rakyatnya, tetapi lebih fokus pada kebaikan dan kemaslahatan umum.

Hikmah: Seorang pemimpin atau siapa pun yang sibuk mencari-cari kesalahan orang lain akan kehilangan kepercayaan dan wibawa. Sebaliknya, sikap pemaaf dan menutup aib akan melahirkan kasih sayang dan ketenangan dalam masyarakat.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan pernah sengaja mencari-cari aib, kesalahan, atau keburukan orang lain — baik melalui media sosial, percakapan, maupun pengintaian langsung.
  2. Jika melihat aib orang lain secara tidak sengaja, tutuplah — jangan disebarkan, karena menutup aib saudara muslim adalah perbuatan mulia yang dijanjikan balasan surga.
  3. Fokuslah pada perbaikan diri sendiri — daripada sibuk mengoreksi orang lain, lebih baik memperbaiki kekurangan diri sendiri.
  4. Jika ada kemungkaran yang tampak jelas dan merugikan, sampaikan nasihat dengan cara yang baik dan sembunyi-sembunyi — bukan dengan membongkar aib di depan umum.
  5. Perbanyak doa agar Allah menjaga lisan dan hati kita dari perbuatan tajassus dan ghibah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?